HomeRagamEddie Karsito Tekankan Disiplin Waktu dan Kerja Sama di Sekolah, Lawan Budaya...

Eddie Karsito Tekankan Disiplin Waktu dan Kerja Sama di Sekolah, Lawan Budaya “Jam Karet” Sejak Dini

Published on

Bekasi, Trenzindonesia.com | Disiplin waktu bukan sekadar soal datang tepat waktu, tetapi tentang etika, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama. Pesan itulah yang ditekankan seniman dan penggiat budaya Eddie Karsito saat memberikan pendidikan sastra dan motivasi karakter di SMP Global Chandra Baga, Jatiraden, Jatisampurna, Kota Bekasi, Rabu (11/02/2026).

Di tengah tantangan budaya “jam karet” yang masih kerap terjadi di Indonesia, Eddie mengajak para pelajar membangun kebiasaan disiplin dan kerja sama sejak dini sebagai bekal menuju kompetensi dan masa depan yang lebih baik.

Disiplin Waktu Adalah Etika, Bukan Sekadar Aturan

Menurut Eddie Karsito, waktu adalah peluang sekaligus aset berharga yang tidak dapat diulang.

Menyadari bahwa waktu adalah peluang dan kesempatan, serta aset berharga yang tidak mungkin terulang,” ujarnya di hadapan para siswa.

Ia menegaskan bahwa disiplin waktu harus ditanamkan di lingkungan pendidikan maupun dunia kerja. Bukan semata-mata sebagai kewajiban formal, melainkan sebagai bentuk integritas pribadi.

Disiplin, lanjutnya, berarti mampu menempatkan waktu pada tempatnya—membagi antara belajar, bekerja, beristirahat, hingga beribadah. Dengan manajemen diri yang baik, seseorang dapat hidup lebih efektif, produktif, dan dipercaya orang lain.

Kerja Sama dan Disiplin: Dua Pilar Menuju Kompetensi

Dalam sesi motivasi tersebut, Eddie juga menekankan bahwa kerja sama dan disiplin adalah dua pilar utama dalam membangun kompetensi generasi muda.

Kerja sama memungkinkan terjadinya pertukaran ide, efisiensi, dan lahirnya kreativitas kolektif. Sementara disiplin memastikan konsistensi dalam mengembangkan keahlian.

Sebagai seniman, Eddie mencontohkan bahwa dunia seni adalah kerja kolektif.

Seni sebagai media kreatif maupun sebagai produk industri tidak bisa dikerjakan sendiri. Ia lahir dari proses interaktif dan kolektif,” jelasnya.

Kerja sama hanya dapat terwujud jika setiap individu saling menghargai. Tanpa sikap tersebut, kolaborasi sulit berkembang.

Empat Langkah Menuju Sukses: Kerja Sama, Disiplin, Dedikasi, Kompetensi

Dalam modul motivasinya, Eddie merangkum empat langkah penting bagi pelajar untuk meraih cita-cita:

1. Kerja Sama

Upaya bersama untuk mencapai tujuan yang lebih besar dan hasil yang lebih baik.

2. Disiplin

Ketaatan terhadap komitmen, aturan, dan target yang dirancang melalui perencanaan dan strategi pencapaian.

3. Dedikasi

Pengabdian dengan cinta terhadap profesi atau tujuan hidup.
“Berbahagia orang yang menemukan pekerjaan yang dicintainya,” ujarnya.

4. Kompetensi

Gabungan pengetahuan, keterampilan, nilai, dan kebiasaan berpikir yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan.

Menurut Ketua Umum Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan itu, keempat unsur tersebut adalah fondasi untuk bertahan (survival) sekaligus meraih kebahagiaan.

Generasi Berilmu Tak Sekadar Mencari Kerja, Tapi Menciptakan

Eddie juga menyampaikan perspektif menarik tentang makna kompetensi di era modern. Orang berilmu, katanya, tidak sekadar sibuk mencari pekerjaan, melainkan mampu menciptakan peluang.

Dalam analogi dunia perfilman, ia menyebut aktor yang berilmu tak hanya datang casting, tetapi bisa berkembang menjadi kreator, sutradara, atau produser yang membuka lapangan kerja bagi orang lain.

Pesan ini menjadi refleksi penting bagi pelajar di era persaingan global—bahwa pendidikan karakter dan disiplin waktu bukan sekadar teori, melainkan bekal nyata untuk membangun kemandirian dan martabat diri.

Membangun Budaya Produktif Sejak Bangku Sekolah

Kegiatan pendidikan karakter di SMP Global Chandra Baga Bekasi ini menjadi contoh bagaimana nilai-nilai disiplin waktu, kerja sama siswa, dan pembentukan kompetensi generasi muda dapat dibangun melalui pembiasaan.

Di tengah perubahan zaman yang cepat, pesan Eddie Karsito menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan konsisten—datang tepat waktu, menghargai sesama, bekerja bersama, dan mencintai proses belajar.

Karena pada akhirnya, seperti ditegaskannya, mereka yang mampu memadukan kerja sama, disiplin, dedikasi, dan kompetensi akan menjadi “bintang kehidupan”—aktif, kreatif, inovatif, dan mandiri.

Latest articles

HUT Ke-31 Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan Wujudkan Rumah Singgah untuk Pemulung Anak, dan Anak Jalanan

KOTA BEKASI - “Rumah” adalah arsitektur; metafora bentuk, ruang dan fungsi. Sel tunggal yang...

Gus Syaifuddin Tekankan Amanah Uang Rakyat saat Resmikan Dapur Gizi ke-5 di SPPG Kramat Kenar

Jakarta , Trenzindonesia.com — Ketua Umum Forum Ulama Santri Indonesia (FUSI) sekaligus pimpinan Yayasan...

Royalti Mandek Sejak 2024, Obbie Messakh: Ini Hak Ekonomi Pencipta

Ramadan seharusnya menjadi ruang hening untuk berbagi dan memaafkan. Namun di kediaman almarhum Franky...

Cut Mini Pemeran Maisaroh “Wanita Terkaya Berwatak Keras” di Film Pasukan 1000 Janda

Film Pasukan 1000 Janda walaupun masih tahap penggarapan syuting, saat ini menjadi perbincangan hangat...

More like this

AM Pesta Rejeki 2026, Promo Spesial Dukung Persiapan Mudik dan Renovasi Rumah Menjelang Lebaran

Jakarta , Trenzindonesia.com - Menjelang bulan suci Ramadhan dan tradisi mudik Lebaran yang selalu...

Rahasia Sehat Ala Haji Ki Ageng Dewantara: Kunci Kesembuhan Ada Pada Keseimbangan Jasmani dan Rohani

Jakarta, Trenzindonesia.com | Menjaga keseimbangan antara kesehatan jasmani dan rohani disebut menjadi kunci utama...

Jumat Berkah ke-65, Wartawan Lintas Media Tebar Takjil dan Peralatan Ibadah di Mushola Al Hidayah Tangerang

Tangerang, Trenzindonesia.com | Semangat berbagi di bulan suci Ramadan kembali terasa hangat. Komunitas...