Sementara Presiden Jokowi dan Kaisar Naruhito mengadakan pertemuan empat mata atau tête-à-tête, Ibu Iriana mengajak Permaisuri Masako untuk menyaksikan pelukis difabel Benediktus Anfield melukis ikan koi.
Menkeu menuturkan, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa pemerintah akan terus melakukan transformasi ekonomi, energi keberlanjutan, dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Meskipun sudah mulai ada perbaikan, Kepala Negara mengingatkan bahwa perkembangan kasus Covid-19 masih sangat dinamis dan fluktuatif. Oleh karena itu, Presiden mengimbau semua pihak agar terus waspada dalam melakukan berbagai upaya untuk mengendalikan kasus Covid-19 ini.
Hewan kurban Presiden yang diserahkan di Masjid Istiqlal adalah sapi berjenis limosin cross. Sapi ini berasal dari Pancoran, Jakarta dan memiliki bobot 1.199 kilogram. Selain di Masjid Istiqlal, Presiden juga berkurban di banyak tempat.
Untuk diketahui, vaksin Merah Putih dan vaksin Nusantara merupakan dua vaksin Covid-19 yang tengah dikembangkan di dalam negeri. Pengembangan tersebut harus mendapat dukungan berbagai pihak.
Kepala Negara menegaskan, akses terhadap vaksin Covid-19 harus dapat tersedia bagi semua negara tanpa terkecuali. Komitmen politik negara-negara G20 sangat dibutuhkan untuk memobilisasi pendanaan global bagi pemulihan kesehatan.
Dengan melibatkan dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat, utamanya sektor UMKM, bagi keberlangsungan industri dalam negeri juga dapat memberikan lapangan kerja bagi tenaga kerja lokal.
Dari sisi penanganan pandemi, perlu disyukuri bahwa semakin hari kondisi kasus aktif di Indonesia menjadi semakin baik. Berdasarkan data terbaru, per hari ini rata-rata kasus aktif Indonesia berada di angka 12,73 persen yang sudah jauh lebih baik dari rata-rata kasus aktif dunia di angka 27,97 persen.
Presiden Jokowi memandang optimisme lainnya yaitu penandatanganan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). RCEP berhasil ditandatangani setelah negara-negara ASEAN bernegosiasi selama kurang lebih 8 tahun.
Staf pengelola hewan koleksi Istana Bogor, Ali Syarifudin menjelaskan bahwa penangkaran rusa totol jinak di Istana Bogor telah berada pada fase mapan. Itu berarti seluruh proses perawatan rusa totol sejak ditangkarkan hingga kembali dilepas di padang rumput Istana Bogor telah berstandar.
Kepala Negara mengingatkan agar pendampingan tersebut harus terintegrasi, dimulai setelah SK diberikan, penyiapan sarana dan prasarana produksi, hingga pelatihan-pelatihan. Presiden meyakini, jika hal tersebut dilakukan, kelompok usaha perhutanan sosial (KUPS) akan berkembang dengan baik.