Trenz Indonesia
News & Entertainment

Work from Toba Ala Sandiaga Uno

Napak Tilas Wisata Desa Hayam Wuruk Dalam Kitab Desawarnana -Negara Kertagama

384

Jakarta, Trenz Corner | Seraya joging Sandiaga Uno, Menprarekraf,  menyempatkan diri mengunjungi bangunan bersejarah Rumah Pengasingan Soekarno Parapat yang bernama Pesanggrahan Bung Karno, pemandangan alam di Pantai Indah Permai Jalan Pora-Pora Parapat yang terdiri dari gunung dan danau memanjakan mata sosok idola, panutan milenial ini mencanangkan gerak wisata,  bertema ‘Work from Toba’ mengikuti kesuksesan gerakan ‘Work from Bali’ yang disambut gegap gempita dunia usaha dan pecinta turisme.

Langkah unik dan kreatif Sandi. Mengingatkan pada kisah pelesiran Raja Majapahit keliling desa wilayah timur Pulau Jawa. Setiap habis musim penghujan, Raja besar Nusantara itu mengenakan kereta Kencana, diiringi para patih, maha menteri, hulubalang dan pejabat penting lainnya juga prameswari dan selir. Peristiwa wisata kerajaan rutin yang elok, demi meratakan kesejahteraan dicatat dalam Kitab Negara Kertagama.

Ada 22 pupuh dari 98 pupuh dalam Nagara Kertagama yang mengisahkan “kunjungan wisata” Hayam Wuruk ke daerah-daerah timur Jawa dan kembali ke Singasari.

Dari jumlah pupuh itu tercatat 175 nama tempat, sebagian besar desa dan sisanya kota atau tempat-tempat suci.

Kisah perjalanan raja agung ke desa-desa timur Jawa yang termuat dalam Negara Kertagama, telah memikat para ahli purbakala.  Nampaknya Sandi cukup cerdas membuat paket terobosan wisata di era normal baru yang menggugah dan menjanjikan dengan menggeser pusat bisnis dan perilaku budaya kerja yang memusat di ibukota dan kota-kota besar ke. Toba dan Bali.

Sepintas sepele terlihat,  tapi sebenarnya amat mendalam karena pandemi telah membuat anomali dalam pergerakan bisnis nasional juga global. Terjadi kontraksi juga relaksasi skema perdagangan dan keuangan yang luar biasa dimana-mana.

Kebijakan membidik dunia dari Toba dan Bali sungguh upaya pembenahan iklim wisata serius multi dimensi yang tidak main-main. Langkah Work from Toba-Bali-dan destinasi andalan Indonesia lainnya, merupakan umpan terobosan jitu.  Berdasarkan hitungan modern yang masuk akal juga kekayaan keluhuran kebijakan llokal.

Langkah pelesiran ke desa-desa indah di masa Hayam Wuruk tidak hanya memperkuat kesatuan dan persatuan wilayah yang setia dan hasil penundukan prajurit unggulan pimpinanan Mahapatih Gajahmada.

Betapapun kunjungan pelesiran, menyentuh kalbu seluruh warga desa desa yang jauh dari pusat keraton. Kedatangan kebersamaan dalam muhibah wisata itu membuat pondasi Majapahit makin kokoh, menyatu lahir batin. Semua bangga,  dikunjungi, ditinggal, berwawancara langsung dengan para petinggi yang berkuasa dan tak tergapai oleh rakyat yang takzim dan mencintainya di pelosok bumi nun jauh disapa. Walau berlibur, esensinya pemerintahan kerajaan tetap berjalan.

Intinya kemanapun raja dan para menteri bergerak,  seluruh perangkat kantor punggawa raja tetap aktif dan bisa menggerakkan seluruh sel. Kekuasaan Raja di pelosok Jawa sekalipun. Konsep ini.amat mirip dengan konsep Work from Toba-Bali. Pusat-pusat bisnis, pelaku handal bisnis multinasional, maupun UMKM kelas kakap dan teri. Untuk sejenak mengubah Pola kerjanya, bekerja dari Pusat wisata Toba Dan Bali.

Rumah Pengasingan Soekarno Parapat

Berempati dengan situasi dan kondisi normal baru,  Sandi sepertinya ingin berbuat banyak, membenahi paradigma salah kaprah, bahwa berlibur mengunjungi destinasi impian, hanya bisa dilakukan saat cuti kerja saja. Konsep Work from Toba-Bali justru mengajak pelaku usaha dan karyawan andalannya berlibur d danau indah Toba sambil Terus bekerja online. Mengingat jaringan koneksi internet di Toba-Bali Sudah sangat baik. Maka, terobosan amat kreatif ini layak dicoba oleh Pelaku usaha dan wisata dengan sesegera mungkin.

Pekerja senang dan bahagia,  para bos dijamin takjub dengan produktifitas yang maksimal tim andalannnya bekerja dari destinasi unggulan. Bukan main-main memang, upaya ini segaris dengan filosofis jawa Mpu Prapanca saat mencatat perjalanan wisata, ‘Work from desa-desa wisata Majapahit’.

Upaya jenius Sandi yang berhasil kolaborasi dengan simpul usaha dan simpul wisata sekaligus,menjalin dan merangkainya menjadi sebuah rajutan enerji kebersamaan harmoni nasionalisme baru yang elok dan jitu.

Mirip usaha JF Niermeyer ketika mencoba meluruskan kembali maksud Mpu Prapanca yang sebenarnya ketika menulis Negara kertagama. Prapanca menyebut  karyanya itu Desawarnana, yang pada intinya memuat uraian tentang desa-desa yang dikunjungi Hayam Wuruk.

Nah, bila Work from Toba-Bali bisa kita implementasikan sekarang. Kenapa harus takut memulai budaya kerja -wisata ala milenial ?.

Bila dulu kebesaran Hayam Wuruk dan Maha Patihnya jadi agung, besar, dikenang anak turunnya, bisa jadi nanti kebijakan Menparekraf dan jajarannya akan dicatat

dalam Kitab digital era kebangkitan Emas Bangsa Indonesia dimulai dari Toba -Bali juga destinasi unggulan utama.

Bila sebutan kitab Negara Kertagama Mpu Prapanca bisa salah kaprah disebut, seharusnya Kitab Desawarnana. Demikian juga orang bekerja di era normal baru ini sejatinya bekerja sambil berwisata

Berwisata sambil bekerja. Work from Toba-Bali-etc Just do it!. (Guru Jiwa) | Foto: Istimewa

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.