Trenz Indonesia
News & Entertainment

ADE IRAWAN – Ibunda Artis Indonesia

Oleh: Dimas Supriyanto*

PERANNYA di film kolosal “Pengkhianatan G 30 S” yang bertahun-tahun diputar ulang di layar teve, sebagai Ibu Nasution paling mengesankan. Dia menggendong putrinya, Ade Irma Suryani, yang berimbah darah di pagi buta.

Dalam ketakutan dan kebingungan di pagi Subuh yang mencekam itu dia bersembunyi dan  berbisik kepada putri bungsunya. Lirih

“Ade masih hidup..?” tanyanya.

“Masih, Mah…,” jawab si kecil di gendongan.

Adegan itu sangat menguras emosi penonton – saya khususnya. Mencekam.

Ade Irma Suryani adalah nama yang lama disebutkan sebagai Pahlawan Revolusi dalam konflik politik dan drama sejarah Indonesia. Dia diabadikan sebagai nama taman dan jalan di berbagai kota. Lewat film “Pengkhianatan G-30 S PKI” digambarkan sosoknya. Dia bocah yang menjadi korban gerakan pembrontakan bersenjata itu.

SAYA ingin mengenankan kepergian aktris Ade Irawan dari sisi kecantikannya. Kecantikan wajahnya, kecantikan aktingnya, kecantikan dedikasinya di dunia film nasional.

Pengabfiannya di layar perak telah berakhir. Dia menyusul putri bungsu tercinta Ria Irawan. Dunia film Indonesia berduka.

SETELAH memasuki era internet dan ada Wikipedia saya baru tahu siapa nama aslinya,  yaitu Arzia Dahar. Sebab sejak kecil dan nonton filmnya di kampung hingga jadi wartawan ibukota dan  mewawancari di tahun 1980-an saya mengenalnya sebagai Ade Irawan. Nama yang bergitu pas, melekat erat, nama yang “sudah jadi” dan tak perlu dicari tahu asal usulnya. Tidak seperti Roy Marten yang aslinya Roy Wicaksono atau Rima Melati yang bernama asli Lince Tambayong.

Saya mengenangkan Ade Irawan sebagai ibu,  sebagai wanita setia, wanita yang tabah tidak hanya di film film yang diperankannya, melainkan juga dalam kehidupan nyata.

Sependek ingatan saya,  Ade Irawan lebih banyak – bahkan selalu – memerankan sosok ibu yang baik, ibu teladan.

Dalam kehidupan nyata pun,  Beliau tidak pernah terlibat konflik dengan siapa pun,  baik di lokasi suting atau di organisasi film.

Ade Irawan adalah seorang Ibu yang nyata. Yang membesarkan tiga anaknya seorang diri sejak ditinggal suami tercinta, aktor dan produser Bambang Irawan,  di tahun 1979. Selama 40 tahun kemudian dia membesarkan Adhi Bambang IrawanDewi Irawan dan Ria Irawan – dimana dua yang terakhir meneruskan jejaknya sejak kedua orangtua

sebagai aktris kondang di tanah Air.

Ade Irawan menghapus stigma artis sebagai profesi rentan kawin-cerai, pribadi yang  penuh pergunjingan dan gosip yang jadi target serangan isu kenegatifan. Sebab 55 tahun dalam karirnya di layar perak maupun teve dia menunjukan sebagai aktris yang berdedikasi pada profesinya.

Dan saat saya mewawancarainya, di penghujung 1980-an, saya mendapat kesan dia begitu cinta dan bangga, pada almarhum suaminya, Bambang Irawan.

Saya mengenangkan pengalaman tak terlupakan sebagai wartawan, setelah wawancara dan ngobrol cukup lama dengan Beliau, saya  menulis hasil wawancara, dengan judul “sensasonal” pada masanya:

Ade Irawan: “Saya Bersumpah Tidak Akan Menikah Lagi”.

Ditampilkan di halaman muka ketika Koran, harian “Pos Kota” sedang jaya jayanya,  masih dicetak 400 ribu eksemplar per hari dan menjadi bacaan utama warga ibukota –  tulisan itu sangat menghebohkan membuatnya repot dan mengaku ditelepon kanan kiri.

Karena itu, beliau memerlukan datang ke kantor redaksi, menemui saya,  untuk meluruskan pernyataannya.

Mbak Ade meminta saya untuk membuat koreksi dan ralat.

“Maksud saya, saya tidak pernah bersumpah bahwa saya tidak akan menikah lagi,” katanya.

Alasannya, ia tak mau takabur dan mendahului masa depan. “Namanya jodoh ‘kan siapa tahu?” tanyanya.

Kehadirannya membuat heboh kantor sehingga acara “jumpa artis” dadakan pun berlangsung. Mbak Ade memamerkan keramahannya. Memang siapa, sih, yang tak  kenal Ade Irawan?

Sejarah mencatat saya lah “yang benar”  bahwa memang Ade Irawan tidak menikah lagi. Dia tetap setia dengan suami tercinta, Mas Bambang Irawan, hingga akhir hayat. Bahkan saat pemakaman Ria Irawan berwasiat ingin dimakamkan dalam satu lahat.

Selamat jalan Mbak Ade Irawan, Ibu Ade Irawan, Eyang Ade Irawan, yang menghadap Illahi di usia ke 82. Perjalanan panjang telah dilewati. Suka duka, jatuh bangun dialami. Pengalaman indah dan sedih dirasakan. Kami selalu  mengenangkanmu.

Perfilman nasional kehilangan dan telah mencatat dedikasimu.

Kini bersatulah dengan kekasih dan suami tercinta, Mas Bambang Irawan.

Kiranya Allah memberikan tempat terbaik bagi Anda berdua.

Al Fathihah.

* Penulis adalah wartawan jadul. Terjun ke media sejak 1983 menjadi wartawan peliput film dan kebudayaan sejak 1986. Pernah jadi Redaktur Pelaksana / Pemimpin Redaksi Majalah / Tabloid ‘FILM’ 1992 – 2002. Tingggal di Depok.

Leave A Reply

Your email address will not be published.