Trenz Indonesia
News & Entertainment

CERDAS LASTRI: Juragan Lastri Jualan PKI

Oleh: Sutrisno Buyil

Sebagai mantan pentolan penjaga keamanan Negara Ngastina, Juragan Lastri termasuk pensiun mulus, artinya tidak meninggalkan jejak yang kurang mengenakan buat intisusinya. Tapi sejak gabung dengan pentolan organisasi massa yang miring jadi suka nyeleneh perilakunya, apalagi sejak kepengen mimpin negara Ngastina. Statement nggak jauh dari PKI, ini yang membuat Lastri baturnya senewen.

“Juragan nggak Subuh, nggak Magrib omongane nggak jauh dari partai palu arit,” celoteh Lastri kesel.

“Lha, PKI memang ada, kenapa mesti ditutupi,” jawabku sekarepe dewe.

“Juragan kalau memang PKI nyata, kenapa waktu juragan dinas, nggak ditangkepin tuh biangnya. Apalagi juragan memiliki intel yang mumpuni. Kenapa baru sekarang teriak PKI. Kalaupun benar adanya, apa juragan bisa bertindak? Inyong pikir pemerintah juga nutup mata banget kalau memang info juragan A1” ujar Batur mrepet.

“Lha, Inyong terus tulung PKI, pan dalam rangka mengingatkan pemerintah, biar hati-hati PKI gaya baru sudah mulai nampak,” jawabku mencoba cerdas.

“Juragan nggak perlu teriak-teriak diluar, minta waktu ke Presiden atau DPR untuk duduk bareng dan kasih info yang akurat. Kalau benar ada wujudnya, pasti Pemerintah akan basmi, kalau perlu suruh nginep di wisma Atlet, biar digerayangi virus Corona, kelar tuh hidup,” kata Lastri cerdas mengipas.

“Iya sih, tapi kalau bentuk KAPI (Koalisi Anti PKI, kan keren. Apalagi yang gabung kan orang pinter,” kataku seadanya.

“Juragan, kalau emang pengen jadi Raja Ngastina, mestinya nggak perlu buat KPI. Tapi kerja nyata, tunjukan kalau memang juragan punya misi yang jelas dalam membangun negara Ngastina. Bantu mikirin bijimane ngatasi si Nona Corona biar bisa enyah dari Indonesia, biar negara kembali normal, ekonomi menggeliat. Kalau cuma teriak PKI melulu, rakyat aja enek dengarnya. Gimana mau pilih juragan?”  ujar Lastri pinter.

“Lha PKI kan memang seksi diomongin kapan saja dan Dimana saja,” kataku sembarangan.

“Juragan salah sih jualannya, coba ganti partai dengan lambang yang keren dan milenial, pasti pemikiran juragan juga kebawa kekinian. Nah, ini palu arit, ya jadi kesannya murahan, nggak kesan mahal,” kata baturku mulai menohok.

“Maksude?” kataku mancing.

“Juragan kata orang tua Inyong, kalau apa yang kita omongkan. Doa, nah, juragan yang diomongkan palu arit terus, ya, nggak tajam. Juragan tahu, kalau palu untuk menancapkan sebesar paku, yang gak seberapa. Lalu arit, arit kan cuma untuk membabat rumput? Hasilnya? Pikir dewek lah, coba deh kalau juragan yang disebut partai yang logonya melambangkan high-class, beraura  positif dan memberikan pencerahan. Maka pola pikir juragan nggak seputar palu dan arit,” jawab Lastri panjang kali lebar

“Terus Inyong harus bijimane?” desaku.

“Kenapa juragan ngomongnya nggak jauh dari PKI, karena jurgaan dolane kurang jauh, mainnya kurang jauh, meleke kurang wengi, kurang suka begadang dan kopine kurang kentel,” kata Lastri menirukan celoteh Gus Miftah, ustadz nyentrik yang lagi naik daun.

“Terus? godaku nganyelke

“Teras-teras, kayak tukang parkir, juragan cari teman yang cerdas ya, biar ora dodolan palu karo arit, sekali-kali jualan samurai ngapa,” kata Batur nyeloyor pergi.

Pondok Ranggon 25 September 2020.

 

Singkatan:
Cerdas: Cerita Pedas
Lastri: Nglarasing Ati

Leave A Reply

Your email address will not be published.