Trenz Indonesia
News & Entertainment

Di Penghujung Tahun Jabatannya Arief Wismansyah Harus Merubah Karakter kepemimpinannya atau Akan Dilupakan Rakyat Kota Tangerang

MATAKOTA BANTEN : Endro Ist

280

Kota Tangerang, Trenz Corner | Saat ini Walikota Arief Wismansyah bingung dengan kebijakan penyekatan mudik yang berubah ubah, menurutnya sehingga menyulitkan implementasi di lapangan. Semestinya dalam situasi kritis, baik secara psikologis para pemudik, juga era normal baru yang masih bergulat dengan perjuangan menekan angka pandemi.

Seharusnya Walikota Tangerang yang wilayahnya, sepertiga bagian hampir diisi pemudik dari pelosok Jawa juga Sumatera, bisa lebih bijak berempati. Peduli pada kesusahan hati penduduk di kotanya, juga bisa segaris dengan kebijakan Pemerintah Pusat dan Provinsi Banten.

Terkesan Kota Tangerang tidak punya kebijakan yang bisa membuat warganya nyaman disaat jelang lebaran. Sehingga semboyan “Tangerang Live“, bisa dibilang kosong belaka. Tidak aplikatif, kurang memiliki pemihakan pada warga kota, utamanya amat terlihat minimnya empati disaat amat kritis bagi semua perantau di kotanya.

Kabar soal kurang empatinya orang nomor satu di Kota Tangerang ini santer, lebih lebih di kalangan internal birokrasi. Akhir-akhir ini terjadi demotivasi di kalangan ASN Pemkot, umumnya kerja hanya pas-pasan, karena untuk mendapat promosi jabatan mutasi ke posisi yang lebih baik, atau untuk mendapat kesempatan berkembang, kurang diakomodasi oleh Dinas BKSDM (Badan Kepengurusan Sumber Daya Manusia). Peletakan jabatan, pemilihan pegawai, tidak jlimet, ilmiah dan berkeringat susah payah. Bukan berbasis kinerja, profesionalitas, inovasi serta kredit terobosan baru. Tetapi justru hanya dari koneksi dan loyalitas saja.

Siapa pegawai yang rajin ‘cari muka’ menyapa salam, baik tatap muka maupun online, dan pintar membaca irama hati atasan layaknya bos, diberi kesempatan berkembang, dikasih pos jabatan baru, wewenang lebih luas dan kesempatan berkembang. Sementara yang tidak sempat setor muka, dan sungguh bekerja di mejanya atau fokus di lapangan tugasnya tidak diberi apresiasi mutasi ke tempat lebih baik. Mereka terabaikan, hanya gigit jari, melihat kawan-kawan ASN yang tidak berkeringat disekitarnya, tiba-tiba melejit dapat posisi lebih baik.

Modus umumnya, pegawai karbitan ini, biasanya awalnya ditempatkan sebagai Lurah lalu tak berapa lama kemudian, melesat menjadi Kabid (Kepala Bidang) di Dinas-Dinas strategis yang basah fasilitas. Indikasi seperti ini tentu tidak sehat, aroma KKN amat bau menyeruak aromanya.

Hal hal seperti ini, sebaiknya ditinggalkan, diluruskan, diharapkan di tahun terakhir periode kepemimpinan Arief Wismansyah, bisa men-transformasi diri. Berubah untuk kebaikan umat, apalagi di momen bulan baik seperti Ramadan seperti ini. Hendaknya Walikota yang konon bersiap masuk ke Banten Satu ini, harus lebih membuka diri. Cepat menyesuaikan situasi. Memperbaiki sistem pembinaan aparaturnya, terutama berkait promosi dan mutasi di BKSDM, kembali menerapkan merit sistem yang proporsional berbasis kinerja, bukan sekedar suka atau tidak suka saja. Perubahan gaya, serta karakter kepemimpinan yang berpihak kepada output yang lebih baik bagi layanan publik di Pemkot Tangerang. Ujung-ujungnya, yang diingat bukan berapa lama duduknya seorang Walikota didalam jabatannya. Tetapi pada sumbangsih apa yang bisa diingat warganya.

Ada skala prioritas reformasi SDM, utamanya di Bappeda, agar pegawai-pegawai yang mumpuni kembali didudukkan ke proporsi semestinya. Mengingat SKPD ini amat strategis dan menentukan untuk membuat rencana jangka menengah panjang Kota Tangerang. Kembalikan para ahli tata kota itu di pusat jantung perencanaan, agar irama kota bisa kembali apik terencana, tidak sekedar membangun,  tetapi tidak sampai selesai. Bisa dilihat di rencana mengaktifkan Sungai Cisadane sebagai pusat wisata air,kapal wisata sudah dibeli, jembatan jembatan sudah ditinggikan,  tapi akhirnya tidak berjalan program tersebut. Raib ditelan waktu. Kemudian jembatan tinggi aneh iti, sering mencelakakan pengendara motor dan mobil yang tida siap, akre saat berjalan datar santai, tiba-tiba saat melewati ujung jembatan tadi, ketinggian jalan berubah miring drastis. Tanpa ada rambu jalan yang tegas serta penerangan yang cukup.

Terakhir disektor perekonomian, Walikota Tangerang adalah pekerjaan yang mudah, karena daerah dengan APBD Rp. 4.7 T,  sungguh sangat makmur sejahtera berkelebihan. Ibarat mobil bagus, bensinnya penuh isi tangkinya. Seharusnya bisa sampai kemana saja. Asal sopirnya cakap, fokus, mengedepankan penumpang, tidak mabuk pujian dan punya tekad berbuat yang terbaik. Berbeda dengan pemimpin wilayah yang  mengemudikan pemerintahan di daerah yang minus.

Wajib hukumnya, pemerintah Kota Tangerang memajukan perekonomian warganya, agar jargon “Tangerang Live” bisa terwujud. Ada kenyataan pahit, bahwa kinerja Pemkot tidaklah sebaik itu. Indeks ekonomi Kota Tangerang, selalu dibawah angka yang ditetapkan bersama antara pemkot dan DPRD Kota Tangerang. Bahkan sebelum pandemi, di tahun 20018, dari taget indeks ekonomi 6,10 capaian prestasi ekonomi tahun itu hanya 4,95 saja. Demikian juga tahun 2019,

Dari target 6,20 capaian indeks ekonomi hanya 4.05. Terlihat jelas ada defisit lebih dari 2 persen nilai indeks yang komplek. Kalau bahasa gampangnya, era kepimpinan Arief Wismansyah, tiga tahun ini raportnya selalu merah, minus dua.

Nah, bila Walikota Tangerang yang sudah diujung periode jabatannga ini harus segera merubah diri, birokrasi zerta bekerja sungguh-sungguh memacu kinerja ASN dibawahnya dengan memaksimalkan BKSDM agar kembali teliti, fokus memilah, memilih dan membina ASN pada posisi tepat yanglebih baik dengan sistem terbaik sehingga SDM bisa terbina, terarah penuh motivasi dalam bekerja. Tidak seperti sekarang situasi demotivasi terlihat merata di semua SKPD ,maka berimbas pada layanan ‘memble’  dan tidak maksimal memuaskan layanan publik. Semua harus berubah demi tercapainya semboyan “Tangerang Live”.

Salam MataKota Banten. (Endro IST : Juru Bicara)

Kompasiana : Gurujiwa

Leave A Reply

Your email address will not be published.