Trenz Indonesia
News & Entertainment

Dorman Borisman: Kesenian Adalah Kedaulatan Kreativitas Dan Kekuatan Apapun Tak Dapat Menjajahnya

Oleh: Eddie Karsito *

INSPIRASI DI SEKITAR KITA – Sosok Aktor Senior Dorman Borisman: hal-hal yang menginspirasi ada di sekitar kita. Ada di dalam benak, ruang pandang, dan ruang dengar kita, yang menyentuh perasaan menjadi sumber kreativitas.

Salah satu yang menjadi sumber inspirasi tersebut, adalah sosok aktor senior Dorman Borisman.

“Kesenian bagi saya adalah kedaulatan kreativitas yang tidak dapat dijajah oleh kekuatan apapun. Uang, pangkat, jabatan sekalipun,”  ujar aktor multi talenta ini dalam perbincangan.

Penulis bersama Dorman Borisman.

Dorman mengaku selalu berusaha menyempatkan diri menonton berbagai pergelaran seni, khususnya seni peran. Menonton, kata dia, bagian dari wujud apresiasi. Tiap tahun ada saja karya yang dipentaskannya. Ia bertindak sebagai sutradara sekaligus pemain. Menjadi juri dalam berbagai ajang festival teater adalah langganannya setiap tahun.

Ketika jarang tampil di layar kaca banyak penggemarnya bertanya-tanya. Ke mana sosok populis yang pernah memerankan tokoh Yudhis dalam sinetron bertema pahlawan ”Saras 008,” yang ditayangkan Indosiar ini?

Dua tahun terakhir Dorman Borisman memang terbilang kurang produktif, akibat mengalami stroke. Masa pandemic Covid-19 seperti sekarang juga ikut memengaruhi produktivitasnya.

Dorman Borisman sempat menjalani terapi dan pengobatan. Kondisinya makin membaik. Walau untuk kebutuhan tertentu kadang harus dibantu kursi roda.

Karena semangatnya, Dorman seakan menampik sakitnya. Bahkan tak seperti orang sakit. Gurat wajahnya senantiasa terlihat segar dan semangat.

Saat diajak bicara, kerap jiwa altruisnya tersentuh. Ia justru lebih memikirkan orang lain; nasib sesama seniman. Masih memikirkan apa yang dapat disumbangkan untuk membantu orang lain. “Seniman harus mengabdi pada kemanusiaan. Dekat dengan realitas sosial,” ujar pendiri Laboratorium Seni Teater Jakarta Timur ini.

(Ki-ka) Penulis, Pong Haryatmo, Yati Surachman, dan Dorman Borisman.

Sumbangkan Perangkat Musik Koleksinya
Sedikit yang tahu bahwa Dorman juga menyintai seni musik. Di rumahnya, di kawasan Kelurahan Dukuh, Kramat Jati, Jakarta Timur, Dorman memiliki berbagai perangkat alat musik lengkap yang menunjang bakat dan hobinya. Dari mulai alat musik modern, antara lain; Piano, Keyboard, Gitar Akustik, Elektrik, Mandolin, Keroncong/Ekulele, Biola, hingga alat musik tradisional perkusi jenis gamelan, antara lain; Kendang Rampak, Jembem, Gong, Gambang, serta berbagai peralatan sound system.

Sebagian dari koleksi alat-alat musik ini Dorman Borisman hibahkan ke Komunitas Seni Sanggar Humaniora, yang didirikan penggiat sosial, seniman dan budayawan, Eddie Karsito.

Serah terima hibah instrument musik tersebut berlangsung di kediaman Dorman Borisman, di Kelurahan Dukuh, Kramat Jati, Jakarta Timur, Sabtu (25/7/2020).

“Saya berharap donasi ini dapat memberi manfaat lebih bagi pendidikan karakter berbasis musik. Membangun karakter, pola pikir, serta mengasah sensitivitas,” ujar Dorman.

Di industri perfilman dan pertelevisian, aktor dedikatif ini tak kurang sudah membintangi lebih dari 45 judul film layar lebar, serta ratusan judul film televisi (FTV) dan serial sinetron. Karirnya di film layar lebar diawali tahun 1977 lewat film Suci Sang Primadona bersama aktris Joice Erna.

Menyusul kemudian keterlibatannya di film lain, seperti film Kembang-Kembang Plastik, Kugapai Cintamu Binalnya Anak Muda, Anak-Anak Buangan, Pintar-Pintar Bodoh, Gede Rasa, Nyai Blorong, dan belasan film lainnya.

Dorman Borisman.

Dorman tetap eksis hingga periode kemunculan Film Televisi (FTV) atau Sinetron (Sinema Elektronik). Ratusan judul sinetron pun telah dibintanginya, seperti sinetron bertema pahlawan Saras 008, Tarzan Betawi, Fatimah, Juleha dan beberapa sinetron dengan format FTV (Film Televisi).

Di bawah payung Laboratorium Seni Teater Jakarta Timur, Dorman membimbing puluhan anak usia sekolah dasar dan remaja. “Keberadaan mereka merupakan usia potensial untuk mengenal, menggali dan mengapresiasi seni peran sejak dini,” ujar aktor yang ikut membintangi film layar lebar 9 Naga, garapan sutradara Rudi Soedjarwo ini.

Tokoh ditektif Mas Yudis dalam sinetron Saras 008 ini, terus terang mengaku tak puas terhadap perkembangan seni peran dewasa ini. Seni peran secara industri, kata dia, memang mengalami peningkatan kuantitas. Namun sebagai media ekspresi seperti jalan di tempat. “Kondisi ini akhirnya berujung pada pertanyaan; tanggung jawab seni peran dalam kerangka kebudayaan menjadi urusan siapa,” tanyanya.

Kepada para penggiat teater muda, pria kelahiran Jakarta, 5 Februari 1951 ini berharap lebih mengedepankan gagasan dan kreativitas. “Ketika seniman dimanfaatkan keadaan, harusnya dia juga dapat memanfaatkan keadaan. Jadi harus menjadi seniman yang adiluhung. Dan tidak dilahirkan oleh ‘filsafat perut’ yang cenderung mengikuti arus,” pesannya.

 

( * ) Penulis pendiri Sanggar Humaniora, Rumah Singgah Bunda Lenny, dan Rumah Budaya Satu-Satu (RBSS), di bawah Yayasan Humaniora. Penulis buku, wartawan, yang juga aktor film, sinetron, teater, dan penggiat sosial, seni budaya.

Menulis di banyak media, khususnya terkait dengan bidang kebudayaan, industri musik, perfilman dan pertelevisian.

Beberapa buku yang pernah ditulisnya, antara lain; Dasar-Dasar Teater (1986), Pembantaian Muslim Bosnia (1992), Profil Pengusaha Kisah Sukses Agoes Harry Soebagyo (1995), Menjadi Bintang: Kiat Sukses Jadi Artis Panggung, Film dan Televisi (2008), Melacak Jejak Panji (2018), Drama Wayang (Drayang) Swargaloka – Opera Terbaik Dunia (persiapan terbit 2020), dan Kumpulan Puisi Intuisi Tasbih: Semesta Kata Lilik Muflihun. (persiapan terbit 2020).
Terlibat di berbagai penyelenggaraan acara apresiasi seni budaya, diantaranya; sebagai Committee The 7th Meeting of ASEAN Puppetry Association (APA), Its 10th Anniversary and Asean Puppetry Festival,  di Mojokerto Jawa Timur (2016), Participants 7th General Assembly UNESCO, di Paris (2018), Komisi Bidang Hubungan Masyarakat Festival International Panji Indonesia (2018), di 8 Kota; Denpasar, Pandaan, Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Yogyakarta dan Jakarta, serta menjadi Juri Pengamat Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur  (2018 – 2020).
Menerima berbagai penghargaan, antara lain anugerah “Anak Bangsa Berkepribadian Pembangunan 2013” dari Kementerian Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia. Meraih penghargaan sebagai Aktor Pembantu Pria Terpuji Festival Film Bandung (FFB) Tahun 2008. Nominator Aktor Pemeran Pembantu Terbaik Festival Film Jakarta (FFJ) 2007, dan Festival Film Indonesia (FFI) Tahun 2006. Penghargaan Karya Kolektif  Film Independen “Disuatu Siang di sebuah Perkampungan Kali Mati Karet Bivak” –  Juara I Festival Film Independen Indonesia (FFII SCTV) Tahun 2003.

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.