Trenz Indonesia
News & Entertainment

Lastri Demo OmniBus

CERDAS: Cerita Pedas

Lastri : Nglarasing Ati

Sejak ormas yang jualan dilarang pemerintah dan partai yang mengaku paling bersih sering nyari senssai. Negara Ngastina Ora taji Aman, dikit-dikit demo, ngamuk dan ujungnya anarkis. Hal itu yang membuat Lastri Esmosi.

“Ini GEGARA juragan walk out, jadi ada semacam pembenaran kalau undang-undanb Cipta Kerja Ndak Membela buruh dan masyarakat” protes babuku membuka. Indonesia Babu Club.

“La, namanya negara demokrasi boleh donk, beda pendapat. Partai inyong ora setuju mengesahkan undang-undang Cipta Kerja di tengah Pandemi apalagi soal ideologi Pancasila, jadinya terkesan dipaksakan dan buru-buru. Ini yang membuat Inyong Walk Out” ujarku membela diri.

“Ya, tapinya ‘kan dadine diplintir sama juragan demo, karena mereka pekerjaannya memang demo. Nah, kebetulan ada peluang, masuk pak eko… Cilakanya masyarakat lebih gampang kemakan hoax tanpa mau cek n ricek,” kata Babuku pinter.

“Kalau begonon, walk oute Inyong bermanfaat, dadi ana kerjaan buat pebisnis di bidang demo” kataku sekenanya.

“Mbok ya, kalau punya keinginan gak usah ngamukan, sedikit -sediki senjatane demo, ngancurin kantor pemerintah. Agar  pemerintah mengabulkan keinginannya, padahal dengan sedikit-sedikit ngamuk. Membuat investor takut, jangan salahkan kalau kemudian investor asing pada mabur, mindahin perusahaannya ke Vietnam, Kamboja dan negara lain. Siapa yang rugi, ya, buruh.Tar kalau nyari kerjaan susah, tinggal nyalahin pemerintah. Itu namanya mau menange dewek, ora ceto, tenant,” kata Baturku mula ngemosi.

“Waduh kebablasan kuwe jenenge,* timpalku.

“Kalau kemudian mereka ngancurin gedung pemerintah, mobil pemerintah, mereka telah menciptakan koruptor baru,” kata Lastri makin naik esmosnya.

“Kok bisa,? Tanyaku mbodo (sok bego)

“Juragan, kalau gedung hancur, mobil remuk terus didiamin, kan di bangun dan dibeli lagi. Tentunya  ada anggaran disana, kalau ada anggaran pasti ada Mark up, ada upeti buat pejabatnya. Apa itu namanya bukan korupsi” ujar babuku Joss gandos.

“Dengan begitu, pedagang bangunan jadi laku, kuli bangunan kerja dan dealer mobil laku kenceng. Berarti usahaku sukses toh” kataku mancing emosi baturku.

“Mereka sadar ora, dengan buruh sebentar-sebentar mogok kerja. Artinya mereka tidak perduli dengan tempat mereka mencari nafkah. Padahal dari perusahaan itu mereka mendapat uang untuk keluarga dan hidup mereka. Kalau kerjaannya demo, bijimane perusahaan mau dapat income,” ujar babuku keminter

“Teyus?” Godaku

“Teyas teyus kayak tukang parkir,

Bukankah mogok kerja yang rugi para buruh dan keluarga mereka sendiri ya?? Siapa yang diuntungkan. Ya, Penggerak Demo dan Cukongnya !!. Boss demo dapat dana dan bahkan dapat fasilitas mewah. Dengan begitu, mereej seperti menginjak nginjak piring nasinya sendiri? Binun Inyong dadine,” kata Lastri Nglokro

Jadinya?

*Inyong arep Melu demo OmniBus, biar filme Darius laku  xixixi,” seloroh Lastri kabur bawa poster salah satu film Omni Bus

Pondok Ranggon 7 Oktober 2020

 

Sekilas tentang penulis

Sutrisno Buyil

Adalah wartawan senior dibidang hiburan, ia mengawal karir sebagai kontributor diberbagai media besar di masanya, Berita Buana, Berita Yudha, Suara Karya, kemudian nyantol di Majalah Serasi, Majalah Film dan Koran Wawasan Semarang.

Sebagai wartawan Buyil begitu ia biasa disapa pernah menyabet beberapa penghargaan dibidang penulisan berita di Kontes Dangdut TPI (KDI), Lomba Tulis nerits Kementerian Pariwisata soal destinasi wisata di Magelang Jawa Tengah dan Juara 2 Foto Kementrian Wisata soal Destinasi Wisata di Garut dll.

Kini Sutrisno Buyil.menjabat sebagai Ketua Umum Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia dari tahun 2014-2020.

Foto : Google.co.id

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.