Trenz Indonesia
News & Entertainment

Media Dan Medsos Di Ranah Maya

Oleh: Isson Khairul *

Kita bikin akun di Facebook. Kita memosting content di Facebook. Kita bukan karyawan Facebook, tapi bekerja untuk Facebook. Sikap “rela bekerja tanpa menjadi karyawan” itulah sesungguhnya “pohon besar” yang ditanam Facebook dalam diri kita. Pohon itu sudah berurat-berakar, juga berbuah.

Sejak didirikan 4 Februari 2004, Facebook memosisikan diri sebagai media penghubung. Media yang menghubungkan orang dengan orang lain. Karena itu tagline-nya: Facebook Connecting People. Tiap orang memiliki otoritas untuk terhubung dengan siapa, berkenan terhubung dengan siapa, dan tidak ingin terhubung dengan siapa.

Artinya, yang dibangun pertama oleh Facebook sebagai media, sebagai platform media sosial, adalah hubungan. Relasi antar manusia. Antar sesama. Ketika kita memosting content, kita memiliki otoritas untuk menentukan, siapa yang kita izinkan untuk mengakses content tersebut.

Menurut saya, inilah perbedaan yang paling signifikan, antara Facebook sebagai media sosial, dengan media yang kita kenal sebagai media massa. Media yang kita kenal selama ini, memosisikan diri sejak awal sebagai content production, memproduksi content.

Setelah media tersebut berdiri, setelah media itu memproduksi content, baru kemudian membangun hubungan dengan orang lain. Dan, orang lain itu, dinamai pembaca, pemirsa, pendengar, pelanggan, dan konsumen. Sangat tegas perbedaannya, antara media sebagai content production dengan mereka sebagai pengonsumsi content tersebut.

Di Facebook, sebagai platform media sosial, tiap orang leluasa menjadi content production. Dan, pada saat yang sama, juga leluasa sebagai pengonsumsi content. Ada content yang ditujukan untuk sekelompok orang saja. Misalnya, content tentang reuni.

Ada pula content untuk menyasar khalayak yang lebih luas, yang di-setting public. Tapi, karena hubungan serta keterhubungan sudah dibangun lebih dulu, maka content tersebut cenderung mendapat respon. Bisa berwujud jejak singgah, bisa pula dilengkapi dengan komentar.

Beberapa jam yang lalu, sahabat saya Herman Wijaya memosting “Pers di Era Medsos” dengan telaah kompetisi pers sebagai media massa dengan platform media sosial. Nama saya disebut di postingan itu, dalam konteks pembentukan Sekber Wartawan Indonesia (SWI) pada Rabu (05/08/2020) lalu. SWI itu diinisiasi oleh sejumlah wartawan dari sejumlah media, bersama 100 lebih wartawan dari 31 provinsi di Indonesia.

Ini petikan dari “Pers di Era Medsos” yang diposting sahabat saya Herman Wijaya beberapa jam yang lalu di laman Facebook-nya:

Saya setuju dengan rekan saya Isson Khairul yang bersama rekan-rekannya baru saja membentuk Sekber Wartawan Indonesia (SWI). Apalagi tujuannya untuk mengembalikan harkat dan martabat wartawan, meningkatkan skill, memberikan konten kredibel dan lain sebagainya yang terdengar sangat mulia.

Semoga sahabat Isson Khairul dan rekan-rekannya di SWI senantiasa punya energi di tengah kekuasaan medsos dan para pengusaha pers yang sudah banyak menarik diri.

Terima kasih. Saya terkesan dengan support dari Herman Wijaya tersebut. Sejak tahun 80-an, kami sama-sama berkarir sebagai wartawan, di media yang berbeda. Di era medsos, kami pun sama-sama aktif ber-media sosial. Kami juga sama-sama bergiat di ranah media audio visual, melalui channel YouTube masing-masing. Selain itu, ia memiliki serta mengelola media online. Saya pun demikian.

Artinya, saya dan Herman Wijaya sebagai “alumni media cetak” terus beradaptasi dengan perkembangan media kini. Kami beradaptasi secara aktif, dengan memosting content secara reguler di berbagai lini media tersebut. Dengan kata lain, sedikit-banyak kami paham tentang media cetak, media online, media sosial, juga media audio visual. Karena, kami terlibat aktif di seluruh lini media tersebut.

Nah, apa korelasinya dengan Sekber Wartawan Indonesia (SWI) ? Sebagai bagian dari SWI, ini cerita saya. Sejumlah wartawan dari sejumlah media, bersama 100 lebih wartawan dari berbagai media, dari 31 provinsi di Indonesia, sepakat untuk membangun wadah. Wadah untuk belajar bersama, untuk meningkatkan skill kewartawanan, secara bersama-sama.

100 lebih wartawan yang kini sudah terdaftar di SWI sudah saling terhubung, sekaligus sudah sama-sama menyadari pentingnya untuk meng-upgrade skill kewartawanan secara bersama-sama. Untuk apa? Untuk meningkatkan kualitas produk jurnalistik di media masing-masing.

Dalam hal ini, Sekber Wartawan Indonesia (SWI) menjadi wadah bersama, yang mewadahi spirit untuk meng-upgrade skill kewartawanan tersebut. Ini menjadi salah satu jalan untuk menghadapi tantangan zaman, khususnya di ranah media.

Salam dari saya Isson Khairul
Persatuan Penulis Indonesia

( * ) Sumber: shorturl.at/ntJQT

Leave A Reply

Your email address will not be published.