Trenz Indonesia
News & Entertainment

Mengajak Kawasaki KLX 230 Berdansa Waltz 100km/jam

482

Batam, Trenz Corner I Tim JKW-PWI yang mendapat support empat unit motor dari Kawasaki Motor Indonesia, yakni dua unit W175TR menjadi tunggangan Yanni Krishnayanni dan Sonny Wibisono, selanjutnya KLX 150 menjadi andalan Indrawan Ibonk, terakhir KLX 230 menjadi tunggangan Agus Blues Asianto.

Turing bermotor Tim JKW-PWI yang berawal pada Kamis, 28 Oktober 2021 dari halaman Kantor Dewan Pers di Jakarta, keempat unit motor Kawasaki nyaris tak mengalami trouble, kalau pun sempat terjadi kendala lebih kepada ban dalam bagian depan KLX 150 yang mengalami kebocoran lantaran karet ban terkelupas pada bagian sambungan, tatkala berada di wilayah Palembang. Selebihnya kuda besi lansiran negeri Jepung ini mampu diajak berdansa dari jalanan yang super halus di Bangka, jalanan beraspal dengan krikil disana-sini, saat berada di sebagian Bengkulu, pun jalan bercampur tanah merah akibat dari bukit yang lonsor serta beberapa badan jalan yang terbelah diseputaran antara Tapan – Sungai Penuh yang berjarak ± 60 km.

Namun demikian, Tim JKW-PWI yang terbiasa riding antara 250 – 300 km, riding menjadi sedikit berbeda sejak ceck out dari penginapan Daeng 204, Tapak Tuan hingga Banda Aceh. “Gokilz, ini jalanan sudah lebar tambah lagi super halus, jadi walau harus menempuh sekitar 434 km yang menjadi rute terpanjang menjadi tak terasa,”kilah Ibonk membenarkan KLX 150 jarum analog speedometer mampu tembus angka 100km/jam.

“Asyik nih saatnya kita berdansa-dansi dengan Kawasaki,” lontar Sonny bersemangat.

Kalau  saja Tim JKW-PWI yang akan melintas 15 pulau, 23 Provinsi, 7 puncak gunung tertinggi (seven summit of Indonesia), terbiasa memacu motor rata-rata ±70 km/jam. Ketika mengaspal antara Tapak Tuan – Banda Aceh, nampak tak ingin kehilangan momentum untuk mengetahui performa dari mesin Kawasaki ini. “Karena kita disuguhi jalanan yang seperti ini, iya kesempatanlah untuk menjajal dapur pacu KLX 230 konstan 100 km jam. Sampai-sampai di jalan sedikit berbelok rasanya ngak rela untuk menurunkan kecepatan di bawah 90 km/jam. Hanya kudu ekstra hati-hati dengan ternak yang terkadang berdiam diri di tengah jalan atau melintas dengan santainya,” paparku akibat hewan ternak tak jarang meminta korban pengendara.

Sementara menyinggung Kawasaki KLX230 yang ditanamkan mesin 233 cc satu silinder SOHC, dengan transmisi enam percepatan. Sehingga kerja mesin mampu menghasilkan tenaga 19 ps pada putaran 7.600 rpm dan torsi 19,8 Nm pada 6.100 rpm. Mesin ini  memberikan torsi dengan rentang low-mid yang kuat dan sistem injeksi bahan bakarnya menghasilkan respons yang mudah diatur.

Lebih jauh, meskipun penampilannya bersifat siklopik, saya pun tak menjadi ketar-ketir, meski jujur baru kali pertama pegang motor injection, namun dengan layar LCD yang serba digital dan mudah dibaca pada saat siang hari atau malam hari. Di dalam layar LCD menampilkan speedometer, odometer, pengukur bahan bakar, jam dan lampu indikator untuk kebutuhan sein atau engine.

Indrawan Ibonk

Ketika kapal ASDP sandar di pelabuhan Tanjung Uban, Bintan. Kembali Tim JKW-PWI riding malam hari dari Tanjung Uban menuju kota Tanjung Pinang berjarak 64.6 km dijalan yang nyaris lurus dan panjang ini, keempat motor Kawasaki pun dipacu rata-rata 100 km/jam.

Meskipun KLX 230 belum membenamkan lampu LED dan masih mengandalkan bohlam halogen standar, pun demikian lampu rem dan lampu sein masih dengan bohlam biasa. “Tapi sama sekali tak menyulitkan untuk melihat sejauh mata memadang koq? Malah yang ada saya yang posisinya paling belakang justru mengganggu atau menyilaukan ketiga Tim JKW-PWI yang berada di depan, karena stelan lampu kurang kebawah,” ungkapku

Sonny Wibisono

Hal serupa, terpaut dua hari, saya bersama Ibonk kembali riding dari penginapan Bintan Lumba Lumba Inn Hotel menuju pelabuhan Tanjung Uban, untuk  mencari informasi pelayaran tujuan Pelabuhan Sintete, Kalimantan Barat. “Jadi kalau awalnya kita riding malam. Kali ini siang hari, meskipun panas terik sama sekali tak terasa, mungkin karena kita main dengan kecepatan rata-rata 100 km/jam ya?” ungkapku sambil mengelus-elus tanki KLX 230 yang hanya punya daya tampung 7 liter ini.

Satu hal, yang membuatku pede tatkala mengajak KLX 230 untuk berdansa-dansi dijalanan kelas 3 yang beraspal mulus, meskipun belum tertanam teknologi ABS (Anti-Lock Breaking System). Pertama si kuda besi dengan mengunakan ban berukuran 2.75-21 45P, juga pada sisi kiri tertanam rem cakram bergelombang dengan diameter 240 mm serta dua piston kaliper

Sedangkan pada bagian belakang, KLX 230 menggunakan ban berukuran 4.10-18 59P, juga pada sisi kanan tertanam rem cakram 220 mm dengan single piston kaliper.

Yanni Krishnayanni

Untuk suspensi depan Kawasaki KLX230 masih mengandalkan teleskopik dengan panjang 220 mm. dan pada bagian belakang menggunakan suspensi Uni Trak Swingarm dan dikawinkan dengan satu shockbreaker monoshock dengan panjang 223 mm.

“Beneran lho?  Sama sekali tak menyurutkan saya untuk mengajak dansa-dansi KLX 230 ini,” lontar ku. 

Akhirnya turing di tanah Sumatera yang sudah mengaspal ±5.500km atau sebulan penuh, tinggal menanti Kapal yang akan membawaku bersama KLX 230 dan juga ketiga rekan turing menuju Pelabuhan Sintete, Kalimantan Barat. Jadi teringat dengan ucapan Michael C Tanadhi, Head Sales and Promotion PT KMI mengatakan, selain motor-motor sehat dan siap untuk diajak riding sejauh 17.000 km. “Yang pasti keempat unit motor Kawasaki merupakan unit yang sudah siap pakai,” singkatnya dari kantor PT Kawasaki Motor Indonesia yang beralamat di Jalan Abdul Muis, Jakarta Pusat, Selasa (19/10/2021) silam.

Selanjutnnya Michael menuturkan, keempat unit yang telah dipersiapkan adalah unit yang sudah siap pakai turing. Dan empat motor tersebut merupakan roda dua yang sehat di KMI. Sebelumnya pihak KMI telah memikirkan dan mempertimbangkan turing JKW-PWI. Karena itu demi keselamatan di jalan, KMI meminjamkan empat unit yang sesuai dengan tema turing JKW-PWI. I Foto-foto: Indrawan Ibonk, Sonny Wibsono, Dok Tim JKW-PWI, Dok Polda Banten

Leave A Reply

Your email address will not be published.