Sejumlah film dari berbagai negara mengangkat kisah keluarga yang berjuang mencari keadilan setelah orang terdekat menjadi korban kejahatan atau ketidakadilan. Kisahnya berkisar dari ibu yang mencari anak hilang, ayah yang membela putrinya, hingga keluarga yang menuntut pengungkapan kebenaran di pengadilan. Beberapa di antaranya berdasarkan kisah nyata atau terinspirasi dari kasus yang pernah terjadi.
To Kill a Tiger
Dokumenter arahan Nisha Pahuja ini berdurasi sekitar 125 menit dan dirilis pada 2022. Produksi Kanada ini mengambil gambar di India dan mengikuti Ranjit, petani di Jharkhand, yang menuntut keadilan bagi putrinya berusia 13 tahun setelah mengalami kekerasan seksual yang dilakukan tiga pria yang dikenal keluarga. Setelah laporan dibuat dan para pelaku ditangkap, keluarga justru menghadapi tekanan warga dan tokoh lokal agar mencabut tuntutan. Ranjit bertahan karena ingin memastikan anaknya mendapat perlindungan dan para pelaku bertanggung jawab. Film ini masuk nominasi Best Documentary Feature di Academy Awards dan merekam langsung keluarga yang menjadi subjek, bukan memakai aktor.
Argentina, 1985
Drama hukum sejarah karya Santiago Mitre ini berdurasi 140 menit, rilis 2022, dan diproduksi Argentina serta Amerika Serikat. Film dibintangi Ricardo Darín, Peter Lanzani, Alejandra Flechner, Santiago Armas, Laura Paredes, dan Carlos Portaluppi. Ceritanya mengikuti jaksa Julio Strassera dan Luis Moreno Ocampo yang memimpin penuntutan terhadap para pemimpin kediktatoran militer Argentina. Bersama tim hukum berisi orang-orang muda, mereka mengumpulkan kesaksian dan bukti untuk membangun perkara. Mereka menghadapi tekanan politik dan ancaman karena para terdakwa pernah berkuasa, sementara keluarga korban berharap penderitaan mereka diakui. Persidangan menjadi pusat cerita, termasuk keberanian saksi menyampaikan pengalaman traumatis. Meski tidak berpusat pada satu keluarga, film ini memperlihatkan perjuangan kolektif untuk meminta pertanggungjawaban atas kejahatan negara dan terinspirasi dari persidangan nyata para petinggi militer.
Jai Bhim
Film India arahan T. J. Gnanavel ini berdurasi 164 menit untuk versi Tamil di Prime Video, rilis 2021. Pemainnya antara lain Suriya, Lijomol Jose, K. Manikandan, Rajisha Vijayan, Prakash Raj, Rao Ramesh, dan Guru Somasundaram. Kisahnya berpusat pada Senggeni, perempuan hamil dari komunitas masyarakat adat, yang mencari suaminya, Rajakannu, setelah pria itu hilang dalam tahanan polisi. Rajakannu sebelumnya dituduh terlibat pencurian dan dibawa polisi. Senggeni tidak mendapat informasi jelas dan hampir menghadapi persoalan itu seorang diri. Pengacara Chandru kemudian membantunya, menyelidiki tindakan aparat, dan mengumpulkan bukti adanya kejanggalan. Film ini menyoroti kesulitan masyarakat berposisi sosial lemah saat berhadapan dengan kekuasaan, sekaligus menjadi kritik terhadap diskriminasi dan penyalahgunaan kekuasaan. Ceritanya terinspirasi perkara nyata komunitas Irula di Tamil Nadu.
Monster
Drama psikologis Jepang arahan Hirokazu Kore-eda ini berdurasi 126 menit dan rilis 2023. Dibintangi Sakura Ando, Eita Nagayama, Soya Kurokawa, Hinata Hiiragi, dan Yuko Tanaka. Saori, ibu yang hidup dengan putranya, Minato, setelah suaminya meninggal, mulai khawatir melihat perubahan perilaku anaknya. Ia mencurigai adanya perlakuan buruk di sekolah dan meminta penjelasan pihak sekolah, tetapi jawaban yang diterima tidak membuat persoalan jelas. Ketegangan meningkat menjadi konflik antara keluarga dan sekolah, sementara Saori memperjuangkan keselamatan serta kondisi psikologis putranya. Cerita disampaikan dari beberapa sudut pandang, termasuk guru dan anak-anak, sehingga informasi awal yang tampak sederhana berkembang menjadi persoalan rumit. Film ini menggambarkan upaya seorang ibu membela anaknya dan bagaimana prasangka terbentuk bila hanya melihat satu sisi.
Till
Drama sejarah Amerika Serikat arahan Chinonye Chukwu ini berdurasi 130 menit dan rilis 2022. Pemainnya Danielle Deadwyler, Jalyn Hall, Whoopi Goldberg, Frankie Faison, Sean Patrick Thomas, John Douglas Thompson, dan Haley Bennett. Film mengikuti Mamie Till-Mobley yang memperjuangkan keadilan setelah putranya, Emmett Till, menjadi korban pembunuhan bermotif rasial pada 1955. Emmett tewas dalam kekerasan rasial brutal saat mengunjungi kerabat di Mississippi. Mamie menghadapi kesedihan mendalam dan sistem sosial serta hukum yang tidak memberi perlindungan layak bagi korban kulit hitam. Ia memilih bersuara agar kematian putranya tidak dilupakan dan kekerasan rasial dipahami publik. Perjuangannya mencakup tuntutan pertanggungjawaban sekaligus membuka mata masyarakat terhadap ketidakadilan yang dialami warga kulit hitam.
Ruido
Drama sosial Meksiko arahan Natalia Beristáin ini berdurasi 104 menit dan rilis 2022. Dibintangi Julieta Egurrola, Teresa Ruiz, Kenya Cuevas, Adrián Vázquez, Jimena González, dan Mariana Giménez. Julia, seorang ibu, mencari putrinya, Ger, yang menghilang. Pencarian itu membawanya bertemu para ibu, saudara perempuan, anak, dan orang terdekat korban kekerasan yang juga mengalami kehilangan. Julia mendatangi berbagai tempat dan mencari petunjuk, tetapi keluarga korban harus berjuang keras untuk mendapat perhatian dan jawaban. Setiap informasi baru bisa menjadi harapan sekaligus kekecewaan. Pertemuan dengan para perempuan itu membuat Julia memahami bahwa kasus kehilangan dan kekerasan terhadap perempuan bukan persoalan satu keluarga. Film ini menyoroti solidaritas dalam pencarian orang hilang dan masalah kekerasan yang meluas di Meksiko.
Vina: Sebelum 7 Hari
Film horor kriminal Indonesia arahan Anggy Umbara ini berdurasi 100 menit dan rilis 2024. Pemainnya Nayla D. Purnama, Lydia Kandou, Gisellma Firmansyah, Fahad Haydra, Yusuf Mahardika, Pritt Timothy, Delia Husein, dan Septian Dwi Cahyo. Kisahnya berangkat dari Vina, perempuan muda yang ditemukan meninggal di jalan layang di Cirebon. Peristiwa itu awalnya diduga kecelakaan lalu lintas sepeda motor, tetapi keluarga merasa ada kejanggalan. Sang nenek menjadi salah satu sosok yang paling merasakan hal itu. Film menggunakan unsur horor melalui kemunculan roh Vina yang berusaha mengungkap kejadian sebelum tujuh hari, dengan kilas balik dan petunjuk mengenai dugaan kekerasan serta orang-orang yang diduga terlibat. Cerita terinspirasi kasus nyata pada 2016, tetapi sejumlah karakter dan nama lembaga disamarkan atau diubah. Karena adegan kekerasan, film ini diklasifikasikan untuk penonton 17 tahun ke atas.
