Pilihan kata, kebiasaan menyela, sampai respons ketika menerima teguran bisa menjadi petunjuk bagaimana seseorang berinteraksi dengan orang di sekitarnya. KapanLagi.com merangkum sembilan tanda yang dapat diamati untuk mengenali orang yang tumbuh tanpa dibiasakan sopan santun, baik dalam pertemuan keluarga, lingkungan kerja, pertemanan, maupun saat berhadapan dengan orang yang baru dikenal.
Sikap terhadap kesepakatan dan perlakuan kepada orang lain
Tanda pertama terlihat dari cara seseorang memperlakukan aturan kecil dalam kegiatan bersama, seperti datang sesuai waktu yang disepakati, mengantre, menjaga kebersihan ruang bersama, dan menyelesaikan tugas sesuai pembagian. Orang yang berulang kali mengabaikan kesepakatan membuat pihak lain menanggung akibat dari tindakannya. Keterlambatan atau pelanggaran satu kali disebut tidak langsung menggambarkan kebiasaan seseorang, tetapi pola yang terus berulang tanpa penjelasan atau upaya memperbaiki keadaan patut diperhatikan karena menunjukkan apakah ia mempertimbangkan waktu, tenaga, dan kepentingan orang lain.
Tanda kedua, cara seseorang memperlakukan orang lain dapat berubah ketika berhadapan dengan orang yang memiliki jabatan, kekuasaan, atau pengaruh. Ia mungkin berbicara dengan penuh perhatian kepada atasan, tetapi mengabaikan petugas kebersihan, pelayan, atau orang yang dianggap tidak dapat memberi keuntungan. Perilaku ini bisa diamati saat makan di restoran atau meminta bantuan di tempat umum, termasuk apakah bahasa yang dipakai tetap sopan dan pekerjaan orang yang melayaninya tetap dihormati.
Memaksakan kehendak dan ucapan yang melukai
Tanda ketiga adalah kebiasaan mengutamakan keinginan sendiri dalam kegiatan bersama, misalnya menentukan pilihan tanpa berdiskusi, menolak usulan orang lain, atau mengharapkan semua pihak mengikuti keputusannya. Kebiasaan ini bisa muncul saat menentukan tempat bertemu, membagi tugas, maupun menyusun rencana. Perbedaan pendapat disebut sebagai bagian dari hubungan sosial, dan masalah muncul ketika seseorang tidak memberi kesempatan kepada pihak lain untuk menyampaikan pilihan.
Tanda keempat, orang yang tidak mempertimbangkan dampak ucapannya dapat melontarkan komentar tentang penampilan, pekerjaan, kondisi keluarga, atau keputusan pribadi tanpa memikirkan situasinya, bahkan menganggapnya sebagai bahan candaan biasa. Ucapan yang melukai perasaan dapat memengaruhi hubungan, terutama jika disampaikan di depan banyak orang. Respons ketika lawan bicara menyatakan keberatan, apakah ia mau mendengarkan penjelasan dan memperbaiki ucapannya, menjadi penanda tersendiri.
Tanda kelima adalah sulit mengakui kesalahan. Alih-alih menjelaskan keadaan, meminta maaf, lalu berusaha memperbaiki akibatnya, orang seperti ini disebut cenderung terus mencari alasan, menyalahkan orang lain, atau mengalihkan pembicaraan. Pola tersebut menghambat penyelesaian masalah karena orang lain akhirnya menghabiskan waktu memperdebatkan siapa yang bertanggung jawab, bukan mencari jalan keluar.
Menyela, mengejek, dan mengabaikan batasan
Tanda keenam, kebiasaan memotong pembicaraan sebelum lawan bicara menyelesaikan kalimatnya, baik dengan langsung menyampaikan pendapat, mengajukan pertanyaan, maupun mengalihkan topik. Jika terus berulang, komunikasi berubah menjadi ajang saling berebut perhatian. Yang perlu diamati adalah apakah seseorang mau memberi ruang setelah diingatkan.
Tanda ketujuh, menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan lelucon, misalnya soal cara berbicara, pekerjaan, pendidikan, kondisi keluarga, atau pengalaman yang pernah diceritakan. Bila dilakukan berulang, sasaran candaan bisa enggan ikut berbicara. Perhatikan apakah pelaku menghentikan ejekan ketika diminta atau justru menyalahkan orang yang merasa tersinggung.
Tanda kedelapan, mengabaikan batasan orang lain terkait waktu, barang, ruang pribadi, dan informasi yang ingin dibagikan. Wujudnya bisa berupa memakai barang tanpa izin, terus bertanya soal urusan pribadi, atau menghubungi seseorang berulang kali meski sudah diminta berhenti. Kedekatan hubungan dinilai tidak otomatis memberi seseorang hak untuk mengatur kehidupan orang lain, dan perilaku serupa yang berulang setelah dijelaskan menunjukkan batasan itu belum dihargai.
Tanda kesembilan, jarangnya ucapan terima kasih dan permintaan maaf. Seseorang bisa langsung melanjutkan aktivitas seolah tidak ada hal yang perlu ditanggapi, sehingga orang lain merasa usahanya tidak dihargai. Namun, tidak semua orang terbiasa menyampaikan perasaan melalui kata-kata, sehingga tindakannya, termasuk kesediaan memperbaiki kesalahan, juga perlu diperhatikan.
Bukan kesimpulan soal pola asuh
Menurut rangkuman KapanLagi.com, sikap yang kurang sopan tidak cukup untuk menyimpulkan bagaimana seseorang dibesarkan. Perilaku dipengaruhi oleh banyak hal, termasuk lingkungan, pengalaman, kebiasaan, dan cara berkomunikasi. Penilaian disebut sebaiknya didasarkan pada pola yang berulang, bukan pada satu peristiwa.
Cara menghadapi dan peluang berubah
Untuk menghadapi orang yang tidak sopan, keberatan disarankan disampaikan dengan tenang disertai penjelasan perilaku apa yang perlu dihentikan. Jika perilaku itu terus berulang, tetapkan batasan; bila diperlukan, kurangi interaksi atau mintalah bantuan pihak yang dapat menengahi masalah.
Sopan santun juga disebut dapat dipelajari saat dewasa, mulai dari cara mendengarkan, menghargai perbedaan, meminta maaf, hingga memperhatikan batasan orang lain. Kebiasaan ini penting dalam hubungan sosial karena membantu orang berkomunikasi, menyampaikan pendapat, dan menyelesaikan perbedaan tanpa mengabaikan pihak lain. Perubahan dapat dimulai dengan mengenali kebiasaan yang perlu diperbaiki dan melatihnya dalam interaksi sehari-hari.
