KapanLagi.com merangkum lima film yang mengangkat perlawanan terhadap pemerintahan otoriter. Kisahnya tidak selalu berupa perang besar, tetapi juga keberanian individu, jurnalis, mahasiswa, hingga aparat negara menghadapi sensor, pengawasan, kekerasan aparat, dan pembatasan kebebasan berpendapat. Daftar ini mencakup The Lives of Others, V for Vendetta, A Taxi Driver, Sophie Scholl: The Final Days, dan Argentina, 1985.
The Lives of Others: Penyadap yang Berubah Pihak
Film arahan Florian Henckel von Donnersmarck ini dibintangi Ulrich Mühe sebagai Gerd Wiesler, Martina Gedeck sebagai Christa-Maria Sieland, Sebastian Koch sebagai Georg Dreyman, dan Ulrich Tukur sebagai Anton Grubitz. Wiesler adalah agen Stasi yang dingin, disiplin, dan patuh pada pemerintah. Ia ditugaskan menyadap kehidupan penulis drama Georg Dreyman dan kekasihnya, aktris Christa-Maria Sieland. Dreyman dianggap seniman yang loyal, tetapi penyadapan itu dilatarbelakangi kepentingan pribadi Menteri Hempf yang menginginkan Christa-Maria.
Saat menjalankan pengawasan dari apartemen Dreyman, Wiesler mendengar percakapan tentang cinta, musik, dan kebebasan berpikir. Pengalaman itu perlahan menggoyahkan keyakinannya terhadap sistem yang selama ini ia bela. Perubahan sikapnya menguat setelah Albert Jerska, sahabat Dreyman sekaligus sutradara teater yang dilarang bekerja oleh pemerintah, mengakhiri hidupnya karena putus asa menghadapi tekanan rezim. Dreyman kemudian menulis artikel rahasia tentang tingginya angka bunuh diri di Jerman Timur, isu yang sengaja disembunyikan pemerintah, lalu mengirimkannya ke majalah Jerman Barat, Der Spiegel, dengan mesin ketik selundupan. Wiesler mengetahui aktivitas itu, tetapi memilih tidak melapor kepada atasannya. Sementara itu, Christa-Maria berada di bawah tekanan Menteri Hempf hingga akhirnya dipaksa menjadi informan bagi Stasi.
V for Vendetta: Fiksi Distopia tentang Perlawanan
Film ini disutradarai James McTeigue dengan naskah tulisan The Wachowskis, diadaptasi dari novel grafis karya Alan Moore dan David Lloyd. Pemerannya antara lain Hugo Weaving sebagai V, Natalie Portman sebagai Evey Hammond, Stephen Rea sebagai Inspektur Finch, John Hurt sebagai Kanselir Adam Sutler, dan Stephen Fry sebagai Gordon Deitrich. Evey, pegawai stasiun televisi milik negara BTN, dihadang Fingermen ketika melanggar jam malam. Ia diselamatkan pria misterius bertopeng Guy Fawkes bernama V. Pada malam itu, V meledakkan gedung pengadilan Old Bailey dan menyampaikan rencana mengajak rakyat berkumpul di depan Gedung Parlemen pada 5 November tahun berikutnya.
Inspektur Finch mulai menyelidiki identitas dan latar belakang V. Penyelidikan itu membawanya ke fasilitas penahanan Larkhill, tempat para tahanan dijadikan objek eksperimen manusia. V ternyata satu-satunya orang yang selamat dari eksperimen tersebut. Untuk membalas perlakuan kejam yang dialaminya, V memburu pihak yang bertanggung jawab, termasuk dokter dan pemuka agama yang terlibat dalam program itu. Finch juga menemukan fakta bahwa wabah penyakit yang dahulu membuat masyarakat ketakutan sengaja direkayasa elite Norsefire sebagai bagian dari rencana merebut dan mempertahankan kekuasaan. Film ini merupakan karya fiksi distopia, bukan kisah nyata.
A Taxi Driver: Wartawan dan Sopir Taksi di Gwangju
Film arahan Jang Hoon ini dibintangi Song Kang-ho sebagai Kim Man-seob, Thomas Kretschmann sebagai Jürgen Hinzpeter, Yoo Hae-jin, dan Ryu Jun-yeol. Man-seob, sopir taksi di Seoul yang duda dan sedang kesulitan ekonomi, menerima tawaran perjalanan dari wartawan Jerman Jürgen Hinzpeter. Bayaran yang dijanjikan besar membuat Man-seob bersedia mengantarnya ke Gwangju. Awalnya, ia tidak mengetahui bahwa kota itu genting akibat blokade militer dan penindasan terhadap demonstran. Untuk melewati pos pemeriksaan, keduanya menyamar sebagai orang yang sedang melakukan perjalanan bisnis.
Setibanya di Gwangju, Hinzpeter merekam demonstrasi dan kekerasan aparat terhadap warga. Ia dibantu mahasiswa bernama Gu Jae-sik dan sopir taksi lokal Hwang Tae-sul. Di tengah ketegangan, mereka menyaksikan solidaritas masyarakat Gwangju yang saling membantu menghadapi tindakan represif aparat. Man-seob semula hanya ingin menyelesaikan pekerjaan dan kembali ke Seoul demi putrinya. Ia bahkan sempat memutuskan meninggalkan Gwangju. Namun, setelah menyaksikan penderitaan warga dan kekerasan yang terjadi, hati nuraninya mendorongnya kembali membantu Hinzpeter menyampaikan peristiwa itu kepada dunia.
Sophie Scholl: The Final Days: Mawar Putih Melawan Nazi
Film arahan Marc Rothemund ini dibintangi Julia Jentsch sebagai Sophie Scholl, Fabian Hinrichs sebagai Hans Scholl, Alexander Held sebagai Robert Mohr, dan André Hennicke sebagai Hakim Roland Freisler. Sophie, mahasiswi berusia 21 tahun, bersama kakaknya, Hans, dan sejumlah mahasiswa lain tergabung dalam kelompok Mawar Putih. Mereka diam-diam menyebarkan selebaran berisi kecaman terhadap pemerintahan Nazi dan perang yang dilakukan Jerman.
Pada 18 Februari 1943, Sophie dan Hans menyebarkan selebaran di lingkungan Universitas Munich. Seorang petugas kampus mengetahui aksi itu dan melaporkannya kepada pihak berwenang. Gestapo, polisi rahasia Nazi, menangkap keduanya. Sebagian besar cerita berfokus pada interogasi Sophie oleh Robert Mohr. Pada awal pemeriksaan, Sophie berusaha menyangkal keterlibatannya dan tetap tenang. Namun, berbagai bukti, termasuk draf selebaran milik Christoph Probst yang berada di saku Hans, mempersempit ruang geraknya. Sophie akhirnya mengakui perbuatannya, tetapi menolak mengorbankan anggota kelompok lain demi menyelamatkan diri. Ia tetap mempertahankan keyakinan moral dan pendiriannya menghadapi tekanan aparat Nazi.
Argentina, 1985: Persidangan Junta Militer
Film arahan Santiago Mitre ini dibintangi Ricardo Darín sebagai Julio Strassera, Peter Lanzani sebagai Luis Moreno Ocampo, Alejandra Flechner sebagai Silvia Strassera, dan Norman Briski. Jaksa Julio Strassera mendapat tugas memimpin penuntutan terhadap sejumlah mantan pemimpin junta militer dalam persidangan Juicio a las Juntas. Pengadilan sipil itu menjadi salah satu upaya meminta pertanggungjawaban petinggi militer atas pelanggaran hak asasi manusia selama masa kediktatoran.
Strassera memilih Luis Moreno Ocampo sebagai wakil jaksa. Karena banyak jaksa senior memiliki keterkaitan dengan rezim sebelumnya, mereka membentuk tim berisi pengacara muda dan staf yang minim pengalaman. Tim tersebut berusaha mengumpulkan bukti dan kesaksian dari para korban maupun keluarga korban penghilangan paksa. Strassera dan keluarganya juga menerima berbagai ancaman. Tekanan itu tidak menghentikan upaya tim mengungkap kejahatan rezim militer. Mereka menyeleksi ratusan kasus dengan bukti dan kesaksian kuat untuk diajukan ke persidangan.
KapanLagi.com menyebut film ini menggambarkan pentingnya keadilan serta pertanggungjawaban hukum dalam membangun kembali demokrasi setelah pemerintahan otoriter. Dalam sidang yang mendapat perhatian luas masyarakat, terungkap fakta mengenai penyiksaan, pusat penahanan rahasia, dan nasib orang-orang yang dihilangkan secara paksa.
