Kehidupan desa kecil yang jauh dari keramaian sering menjadi latar menarik bagi film horor Indonesia. Tradisi warisan antargenerasi, pantangan yang dipegang warga, hingga rahasia keluarga memberi bahan bagi cerita misteri yang membuat penonton ikut mencari jawaban. KapanLagi.com memilih enam film bertema misteri desa terpencil dari berbagai sumber pada Kamis (4/11/2026) untuk masuk daftar tontonan.
Keenam judul itu adalah KKN di Desa Penari, Perempuan Tanah Jahanam, Badarawuhi di Desa Penari, Sewu Dino, Waktu Maghrib, dan Para Perasuk. Masing-masing menghadirkan konflik yang bertumpu pada kepercayaan, ritual, atau rahasia masyarakat setempat.
KKN di Desa Penari dan Perempuan Tanah Jahanam
KKN di Desa Penari diangkat dari cerita viral karya SimpleMan. Kisahnya mengikuti enam mahasiswa yang menjalani kuliah kerja nyata di Desa Penari: Nur, Widya, Ayu, Bima, Anton, dan Wahyu. Kepala desa setempat, Pak Prabu, menyambut mereka sekaligus mengingatkan agar tidak melewati batas tertentu yang dianggap terlarang oleh warga.
Peringatan itu diabaikan sebagian mahasiswa, dan gangguan pun mulai muncul. Kejadian-kejadian aneh semakin sulit dijelaskan ketika sosok penari misterius menampakkan diri. Film garapan Awi Suryadi ini dibintangi Tissa Biani, Adinda Thomas, Aghniny Haque, Achmad Megantara, Calvin Jeremy, dan M. Fajar Nugraha, dengan skor 5,9 di IMDb.
Sementara itu, Perempuan Tanah Jahanam mengikuti Maya (Tara Basro) dan Dini (Marissa Anita) yang pergi ke sebuah desa terkait asal-usul keluarga Maya. Niat awal Maya adalah mencari tahu kemungkinan memperoleh warisan, tetapi kedatangan mereka justru membuka rahasia masa lalu warga desa.
Maya kemudian mengetahui bahwa warga setempat memiliki hubungan dengan keluarganya, dan kepulangannya bukan perkara sederhana. Semakin dalam ia mencari jawaban, semakin banyak petunjuk yang mengarah pada peristiwa mengerikan yang pernah terjadi di desa itu. Film rilisan 2019 arahan Joko Anwar ini dibintangi Christine Hakim, Ario Bayu, Asmara Abigail, dan Kiki Narendra. IMDb memberi skor 6,6, dan film ini meraih enam penghargaan di Festival Film Indonesia 2020.
Prekuel Badarawuhi hingga Sewu Dino
Badarawuhi di Desa Penari bukan sekuel, melainkan prekuel dari KKN di Desa Penari. Ceritanya berlangsung sebelum peristiwa yang dialami para mahasiswa dan memperkenalkan lebih jauh sosok Badarawuhi serta tradisi di desa tersebut.
Film ini mengikuti Mila (Maudy Effrosina) yang datang bersama orang-orang terdekatnya. Ia berharap menemukan jalan keluar dari penyakit yang dialami ibunya melalui sebuah benda yang harus dikembalikan. Perjalanan itu membawanya berhadapan dengan aturan desa Penari, dan keadaan semakin rumit ketika ia mengetahui kedatangannya berkaitan dengan ritual yang tidak bisa dilakukan sembarangan.
Berbeda dari film pertama, Badarawuhi di Desa Penari disutradarai Kimo Stamboel dan dibintangi Aulia Sarah, Jourdy Pranata, Ardit Erwandha, Moh. Iqbal Sulaiman, serta Claresta Taufan. Skor IMDb untuk film ini 5,7.
Kimo Stamboel juga menggarap Sewu Dino, yang mengikuti Sri (Mikha Tambayong) menerima pekerjaan dari keluarga Atmojo untuk merawat Dela (Gisellma Firmansyah). Ia bekerja bersama Erna (Givina Lukita) dan Dini (Agla Artalidia), tanpa langsung tahu bahwa tugas itu akan menyeret mereka ke dalam misteri ritual yang berlangsung seribu hari.
Keluarga Atmojo bermasalah dengan santet Sewu Dino yang menyerang salah satu anggotanya, sehingga ketiga perempuan itu harus mengikuti aturan tertentu selama bertugas. Situasi berubah ketika mereka memahami alasan di balik ritual tersebut dan menyadari ada bahaya yang mengintai. Sama seperti KKN di Desa Penari, film ini diadaptasi dari cerita karya SimpleMan dan menampilkan Rio Dewanto, Karina Suwandi, Marthino Lio, serta Pritt Timothy. Skor IMDb-nya 6,0.
Waktu Maghrib dan Para Perasuk
Waktu Maghrib berlatar Desa Jatijajar di Jawa Tengah dan mengikuti kehidupan Adi (Ali Fikry), Saman (Bima Sena), serta Ayu (Nafiza Fatia Rani). Kebiasaan bermain mereka berubah setelah peristiwa yang berkaitan dengan waktu maghrib.
Suatu hari, Adi dan Saman melontarkan ucapan yang tidak seharusnya kepada guru mereka, Bu Woro (Aulia Sarah), saat sedang kesal. Setelah itu, peristiwa aneh menghantui desa dan tidak hanya memengaruhi kedua anak tersebut, tetapi juga membuat warga menghadapi ancaman yang sulit dipahami. Film arahan Sidharta Tata ini turut dibintangi Taskya Namya dan Andri Mashadi, serta mengangkat larangan beraktivitas di luar rumah saat maghrib. Skor IMDb-nya 5,8.
Film terakhir, Para Perasuk, mengikuti kehidupan di Desa Latas yang memiliki tradisi pesta kerasukan bernama sambetan. Bagi warga setempat, kegiatan itu merupakan bagian dari kehidupan sekaligus hiburan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Ceritanya berpusat pada Bayu (Angga Aldi Yunanda), pemuda yang ingin menjadi perasuk utama. Keinginannya menguat ketika mata air tempat para perasuk mencari roh terancam dibeli perusahaan untuk pembangunan hotel. Ia berusaha membuktikan kemampuan agar dapat memimpin pesta besar yang hasilnya akan dipakai menyelamatkan mata air desa, tetapi ambisi itu membawanya pada persoalan lebih luas yang mengubah hidupnya.
Disutradarai Wregas Bhanuteja, Para Perasuk dibintangi Anggun C. Sasmi, Maudy Ayunda, Bryan Domani, Chicco Kurniawan, dan Ganindra Bimo. Film yang baru tayang awal tahun ini memadukan drama dan unsur supranatural, serta meraih skor 7,2 di IMDb.
