Maudy Ayunda menjalani prosesi tujuh bulanan kehamilan atau mitoni dengan penampilan anggun. Ia mengenakan kebaya kutubaru bernuansa lilac lembut yang dipadukan dengan kain jumputan ungu. Momen itu juga diisi sungkeman kepada orangtua sebelum kehadiran buah hati.
Kebaya kutubaru dan sanggul melati
Kebaya tersebut dipakai sebagai outer yang menutupi kain jumputan ungu yang dililit menjadi dodotan. Model kutubaru dengan dominasi brukat dan siluet lengan flare memberi kesan teduh sekaligus romantis, menghadirkan sentuhan klasik yang tetap modern untuk momen menjelang persalinan. Paduan lilac pada kebaya dan wastra dinilai harmonis, sementara motif pada kain memperkaya tampilan secara keseluruhan.
Rambut Maudy ditata dalam sanggul tekuk yang rapi dan dihiasi roncean melati, memberi kesan sakral, lembut, dan feminin. Riasannya dibuat natural dengan makeup tipis bernuansa soft pink tanpa complexion berlebihan, sehingga auranya tetap ayu tanpa terkesan berlebihan. Dalam balutan kebaya dan sanggul tradisional itu, ia tampil sebagai calon ibu yang menanti kehadiran buah hati.
Rangkaian prosesi dan makna mitoni
Tradisi tujuh bulanan dalam kehamilan dikenal sebagai mitoni atau tingkeban di budaya Jawa. Mengutip laman Jogja Budaya Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, upacara ini digelar saat usia kandungan menginjak tujuh bulan untuk memohon keselamatan bagi ibu dan janin. Istilah mitoni berasal dari kata pitu yang berarti tujuh. Tradisi ini menjadi ungkapan syukur sekaligus doa agar ibu dan calon bayi diberi kesehatan, keselamatan, dan kelancaran hingga persalinan, sebagaimana dijelaskan dalam penelitian soal tradisi mitoni pada masyarakat Jawa di Kabupaten Kampar yang dipublikasikan melalui Garuda Kemdiktisaintek.
Pelaksanaan mitoni dapat melibatkan sejumlah prosesi, antara lain siraman atau memandikan calon ibu, pergantian kain, hingga doa bersama dan kenduri. Bentuk pelaksanaannya bisa berbeda-beda sesuai daerah, keluarga, dan nilai budaya yang dianut. Pada prosesi Maudy, rangkaian acara dilengkapi sungkeman kepada orangtua. Sebagai calon ibu, ia meminta restu serta doa supaya persalinannya berjalan lancar dan ia siap menjadi orangtua yang bertanggung jawab, dan sempat haru ketika bersimpuh di kaki ibunya.
Di tengah perkembangan zaman, tradisi tujuh bulanan tetap menjadi warisan penting dengan makna emosional bagi banyak keluarga. Lebih dari sekadar ritual, mitoni menjadi momen berkumpul, memanjatkan doa, dan menyambut kehidupan baru dengan penuh harapan.
