Hari Sumpah Pemuda ke-98 diperingati pada Rabu (28/10/2026). Menjelang tanggal tersebut, KapanLagi.com merangkum 51 ucapan Sumpah Pemuda yang dibagi menurut sumber dan penerimanya, mulai dari kutipan tokoh dunia beserta teks aslinya, kata-kata tokoh bangsa, sampai kalimat orisinal untuk Gen Z, pelajar, pekerja, pelaku usaha, dan keluarga. Tersedia pula versi berbahasa Jawa serta versi jenaka.
Kalimat orisinal dalam daftar itu ditulis khusus untuk peringatan tahun ini dan boleh dipakai tanpa mencantumkan nama penulis. Pembaca disarankan memilih ucapan yang paling cocok dengan penerima, lalu menyesuaikannya sedikit agar terasa seperti suara sendiri.
Kutipan tokoh dunia soal pemuda dan persatuan
Dua puluh lima kutipan asing mengisi bagian awal daftar, dibagi ke dalam tema kekuatan generasi muda serta persatuan dan kerja sama. Sejumlah nama yang muncul antara lain filsuf Diogenes yang menyebut pendidikan generasi muda sebagai fondasi setiap negara, Jose Rizal, Aristoteles, Pablo Picasso, aktivis hak anak Kailash Satyarthi, pendidik Mary McLeod Bethune, Epikuros, John D. Rockefeller, dan musisi Tyler, The Creator.
Bethune, misalnya, dikutip soal keberanian mengubah gagasan dan kebiasaan lama. Menurut rangkuman itu, pesan tersebut sejalan dengan langkah pemuda 1928 yang meninggalkan model organisasi kedaerahan. Kutipan dari dunia olahraga datang dari Lenny Wilkens dan Babe Ruth, sedangkan Claudette Colvin mengingatkan pentingnya membela keyakinan meski harus berdiri sendiri.
Untuk tema persatuan, Helen Keller menyatakan, “Sendirian kita hanya bisa berbuat sedikit, bersama kita bisa berbuat banyak.” Martin Luther King Jr. dikutip dengan kalimat bahwa manusia harus belajar hidup bersama sebagai saudara atau binasa bersama sebagai orang-orang bodoh. Ada juga kata-kata dari Mattie Stepanek, penyair Amerika yang hidup pada 17 Juli 1990 hingga 22 Juni 2004, Friedrich von Schiller, Publilius Syrus, Thomas Paine, J.K. Rowling lewat tokoh Dumbledore, DJ Alan Walker soal topengnya sebagai simbol persatuan, mendiang Raja Thailand Bhumibol Adulyadej, dan penyair India Rabindranath Tagore.
Ikrar 1928 dan kata tokoh bangsa
Bagian berikutnya dibuka dengan teks ikrar asli Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928, yang dianggap sebagai ucapan paling otentik: “Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” Teks ini dinilai paling aman untuk acara resmi, kartu ucapan sekolah, atau unggahan instansi, dengan tambahan satu kalimat harapan agar lebih personal.
Dari Soekarno, daftar itu memuat ajakan membangun persatuan nasional dan menghimpun seluruh kekuatan revolusioner untuk menyapu imperialisme politik dan ekonomi. Kutipan lain yang dilekatkan pada Presiden pertama RI itu berbunyi, “Kita jangan pernah mewarisi abunya Sumpah Pemuda, tetapi kita harus mewarisi apinya Sumpah Pemuda.” Sementara Mohammad Hatta diwakili dua kalimat, yakni soal kejujuran yang sulit diperbaiki dibanding kecerdasan dan kecakapan, serta penegasan bahwa kemerdekaan bukan tujuan akhir melainkan syarat mencapai kebahagiaan dan kemakmuran rakyat. Ditutup dengan pepatah “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” yang disebut mirip ungkapan “United we stand, divided we fall” yang kerap dikaitkan dengan Aesop.
Ucapan orisinal untuk Gen Z hingga pelaku UMKM
Untuk caption media sosial, salah satu contohnya berbunyi, “1928 belum punya Wi-Fi, tapi sinyal persatuannya tembus sampai 2026. Masa kita yang punya kuota malah kalah kompak?” Ada pula sindiran agar tidak berhenti pada penggantian foto profil menjadi merah putih, melainkan juga mengganti kebiasaan menunda.
Bagi pelajar dan mahasiswa, salah satu ucapan mengingatkan bahwa Kongres 1928 digerakkan oleh perhimpunan pelajar sehingga tidak perlu menunggu wisuda untuk mulai peduli pada negeri. Ucapan nomor 37 merujuk pada fakta sejarah bahwa Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) bersama kalangan intelektual mengambil inisiatif menyatukan seluruh organisasi pemuda lewat serangkaian pertemuan.
Untuk pekerja dan profesional, disediakan kalimat yang menyamakan rapat tim dengan kongres kecil: banyak kepala, banyak latar belakang, satu agenda. Bagi pelaku usaha dan UMKM, ada ucapan tentang produk lokal sebagai ikrar kecil yang ditepati, serta analogi usaha kecil sebagai sungai di hulu yang perlahan ikut membentuk laut bernama ekonomi bangsa. Sementara untuk orang tua dan keluarga, salah satu pesannya menyebut satu tanah air dimulai dari rumah, dari berbagi kamar tanpa bertengkar hingga berbagi lauk tanpa berebut.
Versi bahasa Jawa dan kalimat jenaka
Dua ucapan berbahasa Jawa disertakan lengkap dengan terjemahannya. Salah satunya: “Sugeng mengeti Dinten Sumpah Pemuda. Mugi Gusti ingkang Maha Kuwasa tansah maringi kekiyatan dhateng sedaya mudha-mudhi, supados kita saged tulung-tinulung mbangun Indonesia.” Artinya, selamat memperingati Hari Sumpah Pemuda, dengan harapan Tuhan selalu memberi kekuatan kepada semua pemuda-pemudi agar dapat saling membantu membangun Indonesia. Ucapan kedua menekankan bahwa suku dan bahasa boleh berbeda, tetapi hati semua anak muda sama.
Untuk nada bercanda yang tetap sopan, daftar itu menawarkan kalimat seperti, “Dulu pemuda bersumpah satu bahasa. Tantangan kita sekarang: satu grup WhatsApp keluarga tanpa debat soal hoaks.” Ada juga sindiran soal pemuda 1928 yang bisa berkumpul dari berbagai daerah tanpa aplikasi peta, sementara orang sekarang masih telat satu jam untuk janji di satu kota.
Sejarah singkat dan cara memilih ucapan
Mengutip Britannica, Sumpah Pemuda adalah deklarasi penting yang dibuat pada 28 Oktober 1928 oleh organisasi-organisasi pemuda Indonesia. Para peserta berikrar mengakui satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia. Deklarasi itu juga dianggap sebagai momen lahirnya bahasa Indonesia sekaligus langkah penting menuju kemerdekaan dari kolonial Belanda.
Menurut rangkuman tersebut, ucapan Sumpah Pemuda berguna untuk tiga hal: mengingatkan nilai persatuan dengan cara ringan seperti status WhatsApp atau caption Instagram, membangun kedekatan dengan audiens mulai keluarga hingga pelanggan, serta menjadi pembuka atau penutup sambutan, upacara, dan konten edukasi di sekolah. Ada lima kiat memilihnya, yakni menentukan penerima, menyesuaikan dengan platform, mencantumkan nama tokoh saat memakai kutipan, menambahkan sentuhan personal, dan memeriksa ulang ejaan. Untuk media sosial, disarankan memadukan satu kutipan tokoh dunia dengan satu kalimat orisinal, misalnya kutipan Helen Keller di slide pertama carousel Instagram dan ucapan nomor 33 di slide berikutnya.
Sebagai pelengkap, daftar itu menyertakan tiga fakta sejarah yang bisa diselipkan dalam unggahan atau sambutan: lagu Indonesia Raya karya Wage Rudolf Supratman pertama kali diperdengarkan pada sesi ketiga sekaligus penutup tanggal 28 Oktober; sesi terakhir itu digelar di Jalan Kramat Raya No. 106, rumah milik Sie Kong Lian, warga keturunan Tionghoa; dan bahasa persatuan yang dipilih bukan bahasa mayoritas, melainkan bahasa Indonesia yang berakar dari bahasa Melayu sebagai lingua franca perdagangan dan komunikasi di kawasan. Rujukan yang dicantumkan adalah Britannica dan BrainyQuote, keduanya diakses pada 26 Oktober 2026.
