Hujan lebat yang disertai angin kencang dapat membuat air masuk ke rumah melalui celah ventilasi. Kondisi ini membasahi lantai dan dinding, serta berisiko menimbulkan kelembapan dan pertumbuhan jamur. Karena ventilasi tetap dibutuhkan untuk sirkulasi udara, pencegahan tidak harus dilakukan dengan menutup lubang angin secara permanen, seperti ditulis KapanLagi.com, Kamis (30/10/2026).
Ventilasi berperan menjaga pertukaran udara dan membantu menurunkan kelembapan di dalam hunian. Namun, lubang angin yang terbuka langsung ke arah luar bisa menjadi jalan masuk air saat hujan datang menyamping. Sejumlah pilihan pelindung dapat disesuaikan dengan kondisi bangunan agar udara segar tetap mengalir dan ruangan terlindung dari tampias.
Desain ventilasi dan pemilihan roster
Upaya mengurangi tampias dapat dimulai dari bentuk dan desain ventilasi. Lubang angin biasa memang memudahkan udara masuk, tetapi air yang terbawa angin juga dapat melewati celah yang sama. Model dengan jalur udara berbelok atau penghalang khusus dapat menjadi pertimbangan karena udara tetap mengalir sementara risiko air masuk berkurang.
Roster anti-tampias dirancang dengan bentuk lubang atau lekukan tertentu sehingga air tidak langsung masuk. Sebagian model memiliki rongga bersudut, jalur berliku, atau sekat di bagian dalam. Bentuk itu menahan percikan yang terbawa angin, sedangkan udara masih bisa lewat. Materialnya beragam, mulai dari tanah liat, beton, hingga keramik, dan dapat disesuaikan dengan fasad rumah. Pemasangan perlu memperhatikan arah datangnya hujan: bagian yang menahan air sebaiknya menghadap ke arah hujan. Produk yang dipilih juga sebaiknya memang dirancang untuk mengurangi tampias, bukan sekadar roster dekoratif. Roster biasa belum tentu efektif jika lubangnya terbuka langsung ke luar.
Alternatif lain adalah kisi-kisi miring atau louvre yang menggunakan bilah-bilah dengan kemiringan tertentu. Posisi bilah yang menghadap ke bawah membantu mengarahkan percikan air kembali ke luar, sementara celah antarbilah tetap memungkinkan udara bergerak. Kisi-kisi tersedia dalam aluminium, kayu, PVC, dan UPVC. Untuk bagian luar yang sering terkena hujan, aluminium atau UPVC dapat dipertimbangkan karena lebih tahan terhadap kelembapan. Jarak antarkisi sebaiknya tidak terlalu lebar agar perlindungan tetap optimal, tetapi juga tidak terlalu rapat karena dapat menghambat sirkulasi udara.
Pelindung tambahan di bagian luar
Air hujan yang terbawa angin biasanya menghantam dinding dan bukaan dari arah tertentu. Tanpa penghalang, percikan dapat langsung masuk melalui ventilasi. Penambahan elemen pelindung menjadi pilihan ketika rumah sudah selesai dibangun dan pemiliknya tidak ingin melakukan perubahan konstruksi menyeluruh.
Kanopi dan overstek atau tritisan membantu melindungi bukaan dari paparan hujan langsung. Keduanya dapat mengurangi jumlah air yang mengenai ventilasi, terutama saat hujan turun dari atas atau sedikit menyamping. Jika ventilasi berada di dinding depan, kanopi kecil dapat dipasang tepat di atas lubang angin dengan ukuran yang disesuaikan posisi ventilasi dan arah hujan. Rumah dengan ujung atap terlalu pendek dapat menambah overstek agar bagian atap lebih menjorok ke luar. Kemiringan dan sistem pembuangan air pada kanopi perlu diperhatikan supaya air diarahkan menjauh dari dinding, bukan mengalir ke bagian lain bangunan.
Secondary skin merupakan lapisan tambahan di bagian luar bangunan, misalnya kisi-kisi, panel berlubang, atau bilah kayu. Menurut arsitek StudioPAPA, Pandya Praditya, “secondary skin dapat diibaratkan seperti jas hujan bagi bangunan”. Lapisan tersebut membantu mengurangi paparan air hujan dan panas matahari secara langsung, tetapi udara serta cahaya masih dapat masuk. Untuk ventilasi, secondary skin dapat dipasang dengan jarak tertentu dari dinding utama sehingga ada ruang antara lapisan pelindung dan bukaan. Pemasangannya perlu mempertimbangkan akses untuk membersihkan bagian belakang panel agar debu, daun, atau kotoran tidak menumpuk.
Jika ingin solusi yang lebih sederhana, kerai atau krey luar ruangan dapat dipakai. Materialnya biasanya bambu, plastik, atau bahan sintetis yang disusun rapat. Kerai dapat dipasang di depan ventilasi atau pada dinding luar yang sering terkena tampias. Saat hujan disertai angin, kerai diturunkan untuk mengurangi percikan yang masuk; ketika cuaca cerah, kerai dapat dinaikkan kembali agar ventilasi terbuka maksimal. Beberapa jenis kerai juga membantu mengurangi paparan sinar matahari. Pilih kerai untuk penggunaan luar ruangan dan pastikan pemasangannya kuat agar tidak mudah terlepas saat angin kencang.
Tanaman rambat dapat menjadi elemen tambahan untuk mengurangi terpaan hujan pada dinding luar. Daun yang cukup lebat membantu memecah sebagian percikan sebelum mencapai ventilasi. Selain itu, tanaman rambat membuat tampilan rumah lebih asri dan cocok diterapkan pada rumah dengan sedikit ruang terbuka di sekitar dinding. Gunakan rambatan atau trellis sebagai penyangga agar pertumbuhannya teratur. Tanaman tidak boleh dibiarkan menempel langsung dan menutupi seluruh lubang ventilasi karena dapat menghambat sirkulasi udara. Pilih tanaman yang tidak membutuhkan banyak perawatan dan sesuai kondisi pencahayaan, lalu pangkas secara rutin agar daun tidak terlalu lebat dan menahan kelembapan pada dinding.
Material tahan air dan perawatan
Pemilihan material berpengaruh pada kemampuan ventilasi menghadapi hujan. Material yang kurang tepat bisa mengalami korosi, pelapukan, atau kerusakan sambungan sehingga air masuk melalui celah yang terbentuk meskipun lubangnya sudah memiliki pelindung. Untuk mengganti kusen atau rangka ventilasi, aluminium dan UPVC dapat menjadi pertimbangan. Aluminium cukup tahan terhadap perubahan cuaca dan tidak mudah berkarat seperti besi biasa, sedangkan UPVC berbahan polimer tidak mudah mengalami korosi akibat air. Keduanya dapat digunakan untuk rangka ventilasi maupun komponen pelindung tambahan, dengan tetap memperhatikan kualitas produk dan pemasangan.
Sambungan antara kusen dan dinding perlu tertutup dengan baik. Sealant yang sesuai untuk area luar ruangan membantu mencegah air merembes melalui celah pemasangan. Kondisi cat dan lapisan pelindung juga perlu diperiksa secara berkala karena material tahan air tetap membutuhkan perawatan agar tidak rusak dalam jangka panjang.
Setelah pelindung dipasang, fungsi utama lubang angin harus tetap berjalan. Menutup ventilasi secara permanen memang dapat mengurangi risiko tampias, tetapi membuat ruangan kehilangan sirkulasi udara alami. Arah datangnya hujan perlu dikenali karena setiap rumah memiliki posisi dan orientasi berbeda. Ventilasi yang menghadap barat atau selatan, misalnya, mungkin membutuhkan perlindungan lebih besar saat hujan deras datang dari arah tersebut. Dinding di sekitar ventilasi juga perlu diperiksa; noda air, cat menggelembung, atau plesteran mengelupas bisa menjadi petunjuk adanya tampias atau rembesan melalui sambungan bangunan.
Pandya menjelaskan bahwa tampias dan kebocoran merupakan dua masalah berbeda. Tampias terjadi ketika air hujan terbawa angin dan masuk melalui bukaan, sedangkan kebocoran berkaitan dengan masalah pada atap, talang, atau sistem pengelolaan air bangunan. Air yang tertahan oleh pelindung juga harus dapat mengalir kembali ke luar. Kanopi, kisi-kisi, dan elemen tambahan sebaiknya tidak memiliki bagian yang membuat air menggenang. Air masih bisa masuk meski pelindung sudah terpasang jika ukurannya kurang memadai, arah kisi tidak sesuai, hujan datang dengan angin sangat kencang, atau ada celah pada sambungan kusen dan dinding.
Pemeriksaan menjelang musim hujan mencakup pembersihan debu, daun, dan kotoran yang menempel pada kisi-kisi atau roster. Sealant, baut, serta sambungan pelindung juga perlu dicek agar tidak ada bagian yang longgar.
