Pembawa acara bernuansa horor Harry Pantja menyatakan kondisi kesehatannya kini jauh lebih baik setelah terserang stroke yang terakhir diketahui pada 2020. Ia menyebut kunci pemulihannya adalah menjaga tubuh agar terus bergerak dan tidak malas beraktivitas.
Hal itu disampaikannya dalam acara peringatan World Stroke Day 2026 di kawasan Antasari, Jakarta Selatan, Kamis (29/10/2026). Menurut Harry, diam dan kurang bergerak justru membuat tubuh semakin kaku.
“Kondisi sekarang jauh lebih baik karena memang pertama saya membawa aktivitas seperti biasa. Yang enggak boleh tuh jadi kayak malas bergerak, nah itu enggak boleh terjadi,” ujarnya.
Meski mengakui masih memiliki keterbatasan fisik dan belum bisa kembali seperti sedia kala, ia terus memotivasi diri untuk belajar mandiri serta beradaptasi dengan keadaannya.
Kembali Aktif di Media Sosial
Di tengah proses pemulihan, Harry mulai kembali menyapa penggemarnya melalui media sosial. Langkah itu tidak lepas dari dorongan sang istri yang kerap mengajaknya membuat konten bersama.
Lewat kanal tersebut, ia membagikan perjalanan kesehatannya sekaligus cerita nostalgia selama berkarier di dunia hiburan. Masukan dari para pengikutnya juga ia ikuti, termasuk untuk memberi informasi kepada masyarakat yang belum memahami stroke.
“Jadi dia (istri) yang kadang suka ajak saya ngonten. Terus juga banyak follower atau yang komentar kasih masukan, ya kita ikutin. Sekaligus memberi informasi buat masyarakat yang belum paham stroke,” tuturnya.
Bagi Harry, peran support system sangat krusial. Dukungan istri, kerabat, dan teman-teman terdekat memberi energi positif selama masa pemulihan.
“Semua orang pasti butuh bantuan support dari orang. Entah itu semangat ataupun yang cuma sekadar ngobrol teman, ketawa-ketiwi aja. Itu jauh lebih baik,” katanya.
Ia pun berpesan kepada sesama penyintas stroke agar tidak mudah menyerah dengan keterbatasan yang ada. Menurutnya, produktivitas tetap bisa dijaga asalkan seseorang mengetahui batas kemampuan tubuh dan mau menjalani proses secara bertahap.
Dorongan Edukasi dari Kawan Stroke Indonesia
Dalam acara yang sama, Ketua Kawan Stroke Indonesia (KASI) Maria S. Rosa Shinta menyoroti pentingnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya dan penanganan stroke. Ia berharap edukasi soal penyebab, gejala, hingga pencegahan stroke dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
“Banyaknya pasien bukan sesuatu terus terang saya merasa bukan sesuatu yang membuat saya senang. Karena dengan banyaknya pasien artinya semakin banyak orang yang mengalami sakit stroke dan artinya kita semakin banyak yang sakit,” ujarnya.
KASI merupakan komunitas nirlaba dan organisasi sosial di Indonesia yang berfokus pada pendampingan, edukasi, serta dukungan bagi para penyintas stroke beserta keluarga atau pendampingnya. Ke depannya, KASI berencana memperkuat kolaborasi dengan rumah sakit setempat agar fasilitas kesehatan lebih mudah dijangkau pasien yang memiliki keterbatasan mobilitas.
