Kuasa hukum Betrand Peto, Timothy Ezra Simanjuntak, menyatakan kliennya telah menjalani pemeriksaan klarifikasi oleh penyidik pekan lalu terkait dugaan ilegal akses atau peretasan akun dan email. Timothy menyoroti dugaan keterlibatan orang terdekat yang tidak memiliki kewenangan atas email tersebut.
Pemeriksaan klarifikasi
Timothy mengatakan pemeriksaan klarifikasi Betrand berlangsung pada malam hari. Ia menyampaikan hal itu saat ditemui di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin (2/11/2026), seperti dilaporkan detikcom.
Menurut Timothy, dugaan tindakan tersebut berkaitan dengan ketentuan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) serta KUHP mengenai akses tanpa hak terhadap sistem elektronik milik orang lain. Ia menegaskan pihaknya menyoroti dugaan keterlibatan orang terdekat yang disebut tidak berwenang mengakses email Betrand.
“Yang perlu dipahami adalah, ini diakses oleh orang terdekat. Mesti dipahami itu ya. Diakses oleh orang terdekat, yang mana tidak mempunyai kewenangan terhadap email tersebut,” tegasnya.
Kejanggalan verifikasi ganda
Timothy menjelaskan, ada kejanggalan dalam sistem verifikasi ganda yang baru diketahui setelah sejumlah data pribadi Betrand bocor. Saat email dimasukkan ke perangkat, semestinya diketahui alamat email yang dipakai untuk proses verifikasi kedua.
Dalam berita acara klarifikasi, kata dia, ada handphone yang diperiksa. Email telah dimasukkan dan prosesnya selesai, tetapi email yang digunakan untuk verifikasi one-step atau two-step tidak diketahui. Pihaknya kemudian menemukan ada email lain yang terhubung dengan sistem verifikasi akun Betrand.
Ia menyebut awalnya hanya diketahui satu email, tetapi belakangan ditemukan dua email. Kejanggalan itu baru diketahui Betrand ketika data-data lain tiba-tiba terambil, dan pihaknya mendapati ada email lain yang terhubung dalam sistem tersebut.
Ruben Onsu ikut dipanggil
Timothy memastikan Betrand dan Ruben Onsu dipanggil penyidik secara bersamaan pada pekan lalu. Betrand, menurutnya, mendapat sekitar 30 pertanyaan dalam pemeriksaan klarifikasi tersebut. Menurut Timothy, banyaknya pertanyaan itu terkait posisi Betrand sebagai pihak yang dirugikan.
“Paling banyak mungkin ya, karena kan memang korbannya adalah dari pihak BP,” tambahnya.
