Memimpin doa syukuran dengan bahasa Arab sebenarnya mengikuti alur yang sederhana: memuji Allah, bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, menyampaikan permohonan, lalu menutupnya dengan pujian dan salam. Doa dibaca dengan suara yang jelas, dan jamaah mengaminkan pada setiap jeda. Yang perlu ditekankan, tugas ini tidak terbatas pada ustaz. Setiap muslim, laki-laki maupun perempuan, dapat ditunjuk memimpin doa bersama, termasuk dengan bahasa selain Arab.
Bahasa Arab tidak wajib, yang utama urutan dan niat
Doa syukuran tidak wajib dilafalkan dalam bahasa Arab. Bahasa Arab memang lazim dipakai karena banyak doa bersumber dari Al-Qur’an dan hadis, tetapi permohonan dalam bahasa Indonesia tetap boleh ditambahkan agar maknanya dipahami seluruh tamu. Bagi yang belum hafal, membaca dari catatan atau ponsel diperbolehkan asalkan sudah dilatih pelafalannya. Jika waktu persiapan mepet, pilih doa pendek seperti doa sapu jagat dan doa selamat, lalu lengkapi dengan permohonan berbahasa Indonesia.
Yang boleh memimpin doa adalah siapa pun yang memahami tata caranya, misalnya ustaz, tokoh masyarakat, orang tua, atau tuan rumah sendiri. Isi doanya disesuaikan dengan tuntunan syariat dan dibacakan dengan tulus. Menghafal doa panjang bukan syarat utama; urutan yang tepat, bacaan yang fasih, dan niat yang ikhlas lebih ditekankan.
Persiapan sebelum memimpin doa
Tahap awal yang menentukan kelancaran adalah kesiapan diri dan suasana yang tenang, sehingga pemimpin doa tidak gugup saat tamu sudah duduk menunggu. Langkah pertama, luruskan niat bahwa permohonan hanya ditujukan kepada Allah, satu-satunya yang berkuasa meringankan beban dan memenuhi kebutuhan. Setelah itu, tanyakan tujuan syukuran kepada tuan rumah, karena acara bisa digelar untuk kelahiran anak, rumah baru, kesembuhan, kelulusan, atau rezeki usaha. Dengan mengetahui tujuannya, permohonan khusus bisa disisipkan di bagian inti doa.
Siapkan teks doa yang sudah dikuasai, lalu atur posisi duduk menghadap kiblat dengan jamaah di sekeliling. Imam An-Nawawi dalam Syarh Muslim, sebagaimana dikutip IslamQA, menyatakan, “Ini menunjukkan bahwa dianjurkan menghadap kiblat ketika berdoa, dan mengangkat kedua tangan.” Sebelum mulai, beri aba-aba singkat dalam bahasa Indonesia agar hadirin menengadahkan tangan dan tahu kapan harus mengaminkan.
Adab dasar juga perlu diperhatikan. Dilansir dari Human Appeal, sebaiknya tangan diangkat dan badan menghadap kiblat, Allah disebut dengan salah satu dari 99 nama-Nya, lalu permohonan disampaikan dengan penuh keyakinan bahwa doa akan dikabulkan. Lembaga tersebut juga mengingatkan agar doa tidak hanya memuat kebutuhan pribadi, tetapi juga penderitaan umat yang lebih luas. Bagi yang baru pertama kali memimpin, latihan melafalkan doa dengan suara keras dua sampai tiga kali di rumah membantu menemukan bagian yang masih tersendat.
Urutan pembuka doa
Bagian pembuka menjadi fondasi karena di sinilah pujian kepada Allah disampaikan sebelum permohonan. Praktiknya dimulai dengan ta’awudz dan basmalah: “A’udzu billahi minas syaitanir rajim. Bismillahir rahmanir rahim,” yang berarti memohon perlindungan dari setan dan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Setelah itu hamdalah, “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin,” sebagai pujian kepada Tuhan semesta alam.
Berikutnya shalawat untuk Nabi Muhammad SAW, “Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad.” Menurut keterangan hadis, doa tertahan sampai seseorang bershalawat kepada Nabi. Dr. Saleh as-Saleh, dikutip dari Abdurrahman.org, menjelaskan, “Termasuk adab atau tata cara dalam berdoa adalah memuji Allah subhanahu wa ta’ala dan bershalawat kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam sebelum berdoa.” Ada pula riwayat bahwa Nabi SAW mendengar seseorang berdoa tanpa memuji Allah dan tanpa bershalawat lebih dulu, lalu beliau bersabda, “Orang ini terburu-buru.”
Saat masuk ke permohonan, sebutkan nama Allah yang berkaitan dengan isi doa, misalnya “Ya Razzaq” untuk syukuran rezeki atau “Ya Syafi” untuk syukuran kesembuhan. Bacalah dengan tempo sedang dan beri jeda di akhir kalimat agar jamaah punya kesempatan mengaminkan.
Adab yang membuat doa lebih khusyuk
Menurut Dr. Saleh as-Saleh, salah satu adab berdoa adalah mengulang doa sebanyak tiga kali, dan hal serupa tercatat dalam buku Himpunan Doa Penting terbitan Kemenag Sultra. Buku itu juga menyebut sejumlah etika berdoa, antara lain menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, memulai dengan memuji Allah dan bershalawat, serta berdoa dengan tunduk dan suara sedang.
Suara tidak perlu ditinggikan agar terdengar; nada yang rendah hati dan pelan menjadi tanda penghormatan dan ketulusan, dan untuk ruangan besar cukup gunakan pengeras suara dengan volume wajar. Kedua telapak tangan ditinggalkan menghadap ke atas. Hadis riwayat Abu Dawud dari Malik bin Yasar menyebut, “Jika kamu meminta kepada Allah, mintalah dengan telapak tanganmu, bukan dengan punggungnya.”
Hindari kalimat yang terkesan mengandai-andai, seperti “jika Engkau menghendaki”, karena doa sebaiknya dipanjatkan dengan keyakinan penuh. Kefasihan lebih diutamakan daripada panjangnya doa; bacaan singkat dengan lafal benar lebih baik daripada doa panjang yang tersendat. Setiap selesai satu kalimat permohonan, beri jeda singkat agar jamaah mengaminkan. Jangan menyelipkan keluhan berlebihan atau doa yang mencelakakan diri, keluarga, maupun harta.
Durasi doa sekitar lima sampai sepuluh menit dinilai cukup untuk syukuran keluarga yang biasanya dilanjutkan makan bersama, karena doa terlalu panjang bisa membuat tamu, terutama anak-anak dan lansia, kurang nyaman. Soal mengangkat tangan, umumnya dianjurkan, meski sebagian ulama berpendapat bahwa mengangkat tangan dalam doa setelah salat fardu tidak termasuk mustahab karena Rasulullah tidak biasa melakukannya. Jika syukuran digelar tepat setelah salat berjamaah, kebiasaan setempat dapat diikuti dengan sikap saling menghormati. Tuan rumah juga bisa diminta menyampaikan maksud syukuran secara singkat sebelum doa dimulai agar tamu ikut mendoakan dengan lebih khusyuk.
Bacaan inti: doa syukur, doa selamat, dan doa sapu jagat
Bagian inti berisi ungkapan syukur dan permohonan keberkahan. Salah satu bacaan yang lazim adalah doa syukur atas nikmat: “Rabbi auzi’ni an asykura ni’matakallati an’amta ‘alayya wa ‘ala walidayya wa an a’mala shalihan tardhahu wa adkhilni birahmatika fi ‘ibadikas shalihin.” Doa ini memohon agar Allah memberi ilham untuk terus bersyukur atas nikmat yang diterima, kepada diri dan kedua orang tua, serta memohon dimasukkan ke golongan hamba yang saleh.
Setelah itu doa selamat dunia akhirat: “Allahumma inna nas-aluka salamatan fid din, wa ‘afiyatan fil jasad, wa ziyadatan fil ‘ilm, wa barakatan fir rizq, wa taubatan qablal maut, wa rahmatan ‘indal maut, wa maghfiratan ba’dal maut. Allahumma hawwin ‘alaina fi sakaratil maut, wan najata minan nar, wal ‘afwa ‘indal hisab.” Merujuk NU Online, isi doa ini cukup lengkap karena mencakup kebutuhan duniawi dan ukhrawi sekaligus, dan para ulama biasanya membacanya saat memimpin doa pada acara selamatan. Permohonannya meliputi keselamatan agama, kesehatan raga, tambahan ilmu, keberkahan rezeki, taubat sebelum mati, rahmat saat mati, ampunan setelah mati, kemudahan menghadapi sakaratul maut, keselamatan dari api neraka, dan ampunan saat perhitungan amal.
Untuk syukuran rumah baru, pembukaan usaha, atau rezeki baru, dapat ditambahkan doa pembuka pintu kebaikan: “Allahummaftah lana abwabal khair, wa abwabal barakah, wa abwaban ni’mah, wa abwabar rizqi, wa abwabal quwwah, wa abwabas shihhah, wa abwabas salamah, wa abwabal ‘afiyah, wa abwabal jannah.” Artinya, permohonan agar dibukakan pintu kebaikan, keberkahan, kenikmatan, rezeki, kekuatan, kesehatan, keselamatan, afiyah, dan pintu surga.
Permohonan khusus boleh disampaikan dalam bahasa Indonesia agar tuan rumah dan tamu ikut memahami, misalnya mendoakan bayi yang baru lahir agar tumbuh saleh atau rumah baru agar menjadi tempat penuh berkah. Pola yang bisa diikuti: berdoa untuk diri sendiri, urusan dunia dan akhirat, keluarga dan sahabat dekat, lalu umat secara luas. Sebagai penutup rangkaian permohonan, doa sapu jagat menjadi pilihan ringkas yang mudah diikuti: “Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzaban nar.”
Menutup doa dengan tasbih dan amin
Doa diakhiri dengan kalimat penutup yang biasa dibaca di majelis doa: “Subhana rabbika rabbil ‘izzati ‘amma yashifun, wa salamun ‘alal mursalin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.” Penutup semacam ini sejalan dengan anjuran mengakhiri doa dengan kembali bershalawat kepada Nabi serta memuji dan bersyukur kepada Allah. Setelah itu, ucapan “amin” dilafalkan bersama jamaah. Amin berarti “Ya Allah, kabulkanlah”, dan ucapan itu sendiri sudah merupakan doa. Acara kemudian dikembalikan kepada pembawa acara atau tuan rumah.
Sebelum memimpin doa, semangat bersyukur bisa diperkuat dengan merenungkan pesan Surat Ibrahim ayat 7 bahwa siapa yang bersyukur akan ditambah nikmatnya.
