Trenz Indonesia
News & Entertainment

Membangun Sumber daya manusia dalam menyongsong era society 5.0

Prof. Dr. Indira Santi Kertabudi

294

JAKARTA, Trenzindonesia | Sebelum membicarakan tentang masyarakat era 4.0 dan era 5.0 kita feedback dulu era sebelumnya. Pada era generasi 1.0 kita sebut sebagai masyarakat pemburu, kemudian era 2.0 disebut dengan masyarakat pertanian. Masyarakat industri digunakan untuk menyebut generasi 3.0, dan masyarakat informasi digunakan untuk menyebut generasi 4.0.

Revolusi Industri 4.0. satu sisi meningkatkan pemanfaatan data dan teknologi untuk kemudahan kehidupan manusia, namun di sisi lain, menjadi ancaman bagi sebagian besar manusia dalam bidang pekerjaan dan ketidakberdayaan menghadapi tantangan penggunaan data dan teknologi. Oleh sebab itu, diperlukan pembangunan sumber daya manusia dengan pendekatan transfer pengetahuan melalui Pendidikan.

Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Mereka dipersiapkan untuk menjadi sosok yang mandiri dan mampu mengembangkan dirinya secara optimal, sehingga manusia raga dan jiwanya tetap mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

Pembangunan sumber daya manusia harus didasarkan pada tumbuhnya rasa ingin tahu yang tinggi, semangat belajar, meningkatkan kreatifitas dan memiliki motivasi yang tinggi untuk mengembangkan diri. Namun, tidak hanya focus pada transfer of knowledge akan tetapi harus dilakukan transfer attitude dengan mengembangkan karakter yang baik sehingga pengetahuan yang diperoleh bisa seimbang dengan karakternya. Dengan demikian Pendidikan merupakan hal penting bagi manusia untuk mampu berbuat humanis, sosiologis, religious.

Pada era 4.0 dihadapkan pada generasi milineal yang lahir mulai tahun 1980-1990-an atau 2000-an dengan karakter pribadi yang kreatif, memiliki ide dan gagasan yang cemerlang, terbiasa berpikir out of the box, percaya diri, pandai bersosialisasi serta berani menyampaikan pendapat di depan publik melalui media sosial.

Generasi milenial cenderung selalu ingin mencari tahu mengenai perkembangan zaman. Mereka mencari, belajar dan bekerja di dalam lingkungan inovasi yang sangat mengandalkan teknologi untuk melakukan perubahan di dalam berbagai aspek kehidupannya. Generasi milenial lebih percaya User Generated Content (UGC) daripada informasi searah, wajib punya media sosial sebagai tempat bersosialisasi, kurang suka membaca secara konvensional, mengikuti perkembangan teknologi, cenderung tidak loyal tetapi bekerja efektif.

Generasi milenial sangat bergantung pada media sosial namun mereka belum memiliki filter yang kuat untuk dapat menyaring informasi yang diterima. Nampak terlihat kecenderungan pengguna internet yang sering tidak peduli dengan nilai-nilai moral dan etika dalam berkomunikasi dan menyebarkan informasi di media sosial. Padahal etika sangat berperan guna menghindari terjadinya konflik dalam bersosialisasi. Oleh karena itu generasi milenial perlu mempersiapkan diri dengan memperbaiki karakternya.

Generasi milenial juga mempunyai tantangan dalam menghadapi era baru dikehidupannya yakni era society 5.0. Society 5.0 sebagai komplemen Revolusi Industri 4.0 perlu diarahkan pada peran generasi milenial untuk kemajuan bangsa di masa mendatang. Society 5.0 dapat diartikan sebagai suatu konsep masyarakat yang berpusat pada manusia (human centered) yang berbasis teknologi (technology based).

Perkembangan teknologi yang begitu pesat, termasuk adanya peran-peran manusia yang tergantikan oleh kehadiran robot cerdas. Untuk itu maka diperlukannya pemahaman society 5.0 yang berbasis spiritualitas dan kebudayaan sebagai bekal bagi proses pengembangan generasi milenial yang siap akan problematika dan tantangan.

Melalui Society 5.0, kecerdasan buatan (artificial intelligence) akan mentransformasi jutaan data yang dikumpulkan melalui internet pada segala bidang kehidupan (the Internet of Things) menjadi hal baru, yang akan didedikasikan untuk meningkatkan kemampuan manusia membuka peluang-peluang bagi kemanusiaan.

Transformasi ini akan membantu manusia untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna, meningkatkan kualitas hidup dan dapat mewujudkan masyarakat yang dapat menikmati kehidupan sepenuhnya. Pada era ini teknologi berkembang sangat luar biasa dan telah membawa perubahan yang sangat drastis kepada generasi milenial.

Perubahan mulai dirasakan dari bersosialisasi, cara berkomunikasi, memperoleh informasi sampai cara berpikir dan tindakan terhadap permasalahan yang dihadapi. Setiap bangsa sangat mengharapkan dapat menghadirkan generasi milenial yang berkualitas dan berkeseimbangan, baik secara aspek agama, aspek pendidikan dan keterampilan, aspek keberadaban (budaya, nilai dan teknologi), aspek kesejahteraan serta aspek sosial.

Contoh perbedaan era 4.0 dan era.5.0

Pada era 4.0 jika belanja online di internet, berapa hari harus menunggu untuk mendapatkan pesanan yang diantar oleh jasa kurir manusia.  Dengan teknologi 5.0 memungkinkan barang yang dipesan melalui online bisa sampai dengan cepat dan tepat walaupun posisi rumah di wilayah pegunungan dengan bantuan teknologi AI dan loT. Sistem AI mampu mengontrol drone untuk mengirimkan pesanan dengan cepat dan tepat. Timbul pertanyaan bagaimana Nasib kurir manusia jika pengiriman menggunakan drone? Tentunya banyak manusia kehilangan pekerjaan. Hal ini merupakan tantangan sumber daya manusia yang harus terpecahkan solusinya saat ini.

Dalam masyarakat informasi masa lalu (Society 4.0), orang akan mengakses layanan cloud (database) di dunia maya melalui internet dan mencari, mengambil, dan menganalisis informasi atau data. Sementara itu, di Masyarakat 5.0, sejumlah besar informasi dari sensor di ruang fisik terakumulasi di dunia maya. Di dunia maya, data besar ini dianalisis oleh kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), dan hasil analisisnya diumpankan kembali ke manusia dalam ruang fisik dalam berbagai bentuk. (Prof. Dr. Indira Santi Kertabudi) | Foto: Istimewa

Leave A Reply

Your email address will not be published.