Eksistensi INO Tembus Pasar Musik Eropa ke 3 Kalinya
Jakarta, Trenzindonesia |Musik Indonesia kembali mencatat prestasi membanggakan di kancah internasional melalui penampilan Indonesian National Orchestra (INO), orkestra tradisional yang memadukan 35 alat musik Nusantara.
Tahun ini, INO akan tampil di berbagai panggung prestisius Eropa, membuktikan bahwa musik tradisional Indonesia memiliki tempat yang kuat di pasar musik global.
Sejak dibentuk pada tahun 2011, INO telah tampil di berbagai negara seperti Australia dan sejumlah wilayah di Asia. Sejak tahun 2016, INO merampingkan diri menjadi ensembel berisi 12 pemain, dan mulai aktif menjelajah panggung musik Eropa — pusat industri musik dunia.
Tahun 2022, INO mencetak sejarah dengan tampil di Elbphilharmonie, Hamburg — salah satu gedung konser klasik paling bergengsi di dunia — dalam rangkaian World Classical Music Series. Dua tahun kemudian, pada 2024, mereka kembali menorehkan prestasi dengan tampil di Amare Theater, Den Haag, pusat tari dan musik modern Eropa.

Kini, pada 20 Juni 2025, INO akan menembus dunia jazz dengan tampil di BIMHUIS, Amsterdam, salah satu ‘wihara’ musik jazz paling bergengsi di Eropa. Setelah itu, mereka dijadwalkan tampil dalam festival musik bertema sustainability di Crato, Portugal (23 Juni), kemudian di Casa Asia, Lisbon (28 Juni), sebuah institusi budaya yang mewakili keberagaman Asia. Puncaknya, INO akan menjadi bagian dari Amsterdam Roots Festival (6 Juli), salah satu festival world music tertua dan paling bergengsi di Belanda.
Keberhasilan INO menembus panggung internasional menegaskan bahwa musik tradisional Indonesia bukan hanya konsumsi akademik dalam studi etnomusikologi, tetapi juga mampu bersaing di pasar musik dunia yang sangat kompetitif. Dengan sambutan meriah dan standing ovation di berbagai negara, INO hadir sebagai wajah baru musik klasik Nusantara yang berdaya saing global.
INO juga menyampaikan apresiasi atas dukungan dari berbagai pihak, termasuk Kementerian Kebudayaan RI, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, KBRI Den Haag dan Lisbon, Indonesian House Amsterdam, media seperti Kompas, serta Indonesian Diaspora Network di Belanda. (Fjr) | Foto: Istimewa
