Jakarta – Grup musik legendaris Slank resmi merilis album studio ke-26 bertajuk Republik Fufufafa di Markas Slank, Potlot 14, Jakarta Selatan, bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni 2026.
Album ini menjadi bukti konsistensi Slank dalam berkarya selama lebih dari empat dekade di industri musik Indonesia. Berisi 10 lagu baru, Republik Fufufafa mengangkat beragam tema yang dekat dengan kehidupan masyarakat, mulai dari isu lingkungan, kritik sosial, cinta, hingga dinamika anak muda.
Sebagian besar lagu dalam album ini ditulis oleh Bimbim. Proses rekamannya berlangsung selama Ramadan 2025 di Flat 5 Studio milik Ridho Hafiedz dan dilanjutkan di Parah Studio, Potlot 14. Selama dua pekan, para personel menjalani sesi kreatif dan rekaman sejak pagi hingga menjelang berbuka puasa.

Menurut Slank, setiap album mereka selalu mengusung empat elemen utama, yakni cinta, alam, sosial, dan anak muda. Semangat tersebut kembali menjadi fondasi dalam Republik Fufufafa.
Dari sisi musikalitas, album ini menawarkan warna yang beragam. Pendengar akan menemukan sentuhan rock alternatif, rock n’ roll, hingga balada melankolis yang menjadi ciri khas perjalanan musik Slank.
Sebelum peluncuran resmi album, dua lagu berjudul Republik Fufufafa dan PPN 12% telah lebih dulu diperkenalkan kepada publik. Kedua lagu tersebut mencuri perhatian karena mengangkat isu sosial yang tengah ramai diperbincangkan dan sempat menjadi trending topic di berbagai platform media sosial.
Bersamaan dengan perilisan album, Slank juga meluncurkan video musik Rusak Ancur. Lagu ciptaan Bimbim itu berisi kritik terhadap kerusakan lingkungan akibat ulah manusia. Sementara itu, Jangan Rakus, karya Kaka, mengajak masyarakat untuk hidup secukupnya dan tidak terjebak dalam budaya konsumtif maupun kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
Tak hanya sarat kritik sosial, album ini juga menghadirkan sisi emosional para personelnya. Di Dekatmu menawarkan nuansa melankolis dengan lirik sederhana khas Slank, sedangkan My Rinduku menjadi lagu cinta yang lugas dan penuh kerinduan.

Lagu Papa Sid lahir dari rasa kehilangan mendalam Bimbim terhadap sosok ayah dan panutannya, Sidharta. Sementara itu, Bunga Rindu hadir dengan aransemen yang lebih segar, dan Buka Baju mempertahankan karakter slengean Slank dengan lirik yang terbuka untuk berbagai interpretasi. Album ini ditutup dengan Ku Tak Mungkin, lagu bertema kesetiaan yang dibalut nuansa romantis.
Secara digital, Republik Fufufafa mulai tersedia di berbagai platform streaming musik sejak 6 Juni 2026. Slank juga menyiapkan versi fisik dalam format kaset, CD, dan vinyl dengan desain sampul yang berbeda untuk setiap edisi.
Menariknya, seluruh foto yang digunakan dalam album fisik diabadikan menggunakan kamera analog oleh fotografer Heret Frasthio, memberikan sentuhan artistik yang khas dan bernilai koleksi.
Dengan perpaduan kritik sosial, kepedulian terhadap lingkungan, kisah personal yang menyentuh, serta eksplorasi musik yang beragam, Republik Fufufafa menegaskan bahwa Slank tetap produktif, relevan, dan mampu menyuarakan realitas zaman melalui karya-karyanya. RuL
