HomeHiburanMusicJogjakarta Reggae Revolution

Jogjakarta Reggae Revolution

Published on

Trenz Music |Musik Reggae memang memiliki daya magis yang sangat kuat di sudut dan belahan dunia manapun. Para pengikut Rastafari ini konon merupakan kaum petani dan pekerja di Jamaica yang tertindas pada masa itu. Bob Marley adalah salah seorang rastafarian yang kerap menyuarakan situasi dan kegelisahan sosial dengan lagu-lagu yang dikenal sebagai musik Reggae.

Beat yang lebih slow dibanding rock steady ataupun ska, dengan gaya ritmis “syncopated” dan pola gitar secara “up-stroke” atau lebih umum dengan istilah “skank”, musik reggae mendapat perhatian yang luar biasa di seluruh dunia dengan Bob Marley sebagai nabinya.

Semangat musik reggae yang humanis dan berpihak dengan rakyat itulah yang mungkin membuat acara Musik Malam Taman Budaya edisi kedua, selasa 27 Februari 2018 lalu bertajuk Jogjakarta Reggae Revolution dipenuhi para pengunjung yang membludak diluar ekspektasi.

Komunitas musik bernama IRC (Indonesia Reggae Community)  ternyata memiliki jaringan dan loyalitas yang kuat. Dikomandani oleh Awan sebagai ketua IRC dibantu oleh Yos dan Tower untuk produksi dan kreatif acara, mereka menyusun line up lima band reggae yaitu KopiLoewak, Southmount Sunrise, Ratouru, Black Finit dan satu band senior sebagai pamungkas adalah Burger Time. Selepas magrib halaman Taman Budaya Yogyakarta sudah mulai didatangi banyak penonton. Diatas panggung seluas 10m x 8m itu sudah terpampang atribut dekorasi yang bernuansa kuning, hijau dan merah, ikon warna cirri khas penganut musik reggae.

Taman Budaya Yogyakarta, malam itu berguncang oleh goyangan musik reggae. Kira-kira lebih dari seribu pengunjung yang hadir disana. Sejak awal panggung di buka dengan sesi jaming oleh kawan-kawan komunitas, penonton sudah mulai bergerak dan bergoyang. Saat MC menyelingi sambutan acara dengan menghadirkan ibu kepala TBY serta mengenalkan para tokoh-tokoh IRC diatas panggung, penonton tampak sudah tidak sabar, maka tanpa membuang waktu Fauzan Yamman sang MC mempersilahkangrup penampil pertama Kopi Loewak untuk mulai menggoyang panggung, whoo yooo ..

Lagu demi lagu dinyanyikan, semakin lama goyangan semakin panas dan ratusan pengunjung sudah larut dalam ritual musik yang lahir dan besar di Jamaica itu. Identifikasi musik Reggae yang identik dengan pantai dan laut sudah tidak berlaku lagi disini. Reggae di Jogja sudah berevolusi, stigma reggae sebagai hura-huranya para anak pantai berubah menjadi symbol semangat kolektif kaum muda untuk meng-ekspresikan dirinya di jaman now. Seolah jiwa dari Rude Boy (hits pertama Bob Marley yang mencuatkan namanya) itu menitis di Taman Budaya. Misinya adalah perlawanan terhadap Status Quo.

Semangat sosial itulah yang menjadikan jiwa musik reggae bisa hidup terus di masyarakat termasuk jogja hingga hari ini. Tanpa ada sensasi dan atribut keartisan yang dipajang disana, juga tanpa campur tangan propaganda pihak sponsor, bahkan publikasi dan sosialisasi acara dibangun oleh jaringan komunitas mereka sendiri. Itupun mampu menyedot pengunjung yang luar biasa banyak.

Melewati pukul setengah 11 malam, Burger Time menjadi klimaks acara Jogjakarta Reggae Revolution dari program Musik Malam TBY yang dilaksanakan setiap selasa kedua dan keempat setiap bulannya. Grup lawas yang dulu bersama Marapu, Jogjamaika  dan Kuripasai pernahmenjad ibagian dalam geliat kehidupan seni di Malioboro itu ternyata masih memiliki kharisma dan apresiasi yang tinggi dari penggemarnya. Acarapun berlangsung dengan tertib dan damai. Para penonton hari ini sudah menyadari, tidak ada gunanya keributan dalam suatu pesta perhelatan musik, karena itu akan menodai citra dan kebersamaan yang sudah sangat lama dibina oleh mereka.

Diakhir tulisan ini, nampaknya masih ada sedikit harapan semoga revolusi tersebut menular kepada kita semua yang kadang masih belum bisa memisahkan antara identitas diri kita dengan atribut dan jubah yang kita kenakan. Jangan takut bersikap benar karena sejatinya kita semua adalah sama-sama manusia. Mungkin Bob Marley menitipkan pesan itu dalam sepenggal lirik lagunya yang terkenal “I Shoot The Sheriff

All around in my home town. They’re trying to track me down. The say they want to bring me in guilty. For the Killing of a deputy. For the life of a deputy. But i say. I shoot the sheriff, but i did not shoot the deputy …

Tabik, Salam Rock’n Real

Heri Machan

Latest articles

Rela Tempuh Hutan Demi Mengajar, Kisah Guru Honorer di Sikka Ini Menyentuh Hati Publik

Jakarta, Trenzindonesia.com | Di tengah keterbatasan akses dan minimnya fasilitas pendidikan di pelosok daerah,...

Pikachu Goyang Dangdut Bareng Happy Asmara, “Kopi Dangdut” Siap Gegerkan Jakarta

JAKARTA — Penyanyi dangdut-pop Jawa Happy Asmara dipastikan menjadi sorotan utama dalam peluncuran album...

Andrigo Siapkan “Pacar Selingan 2” Setelah Lagu Viral

Nama Andrigo kembali menjadi sorotan publik setelah lagu “Pacar Selingan” viral di berbagai platform...

Hujan Deras Guyur Bojonggede, Warga Bojong Indah Permai Was-was Banjir Masuk Rumah

BOGOR,Trenzindonesi.com – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, pada Senin...

More like this

Pikachu Goyang Dangdut Bareng Happy Asmara, “Kopi Dangdut” Siap Gegerkan Jakarta

JAKARTA — Penyanyi dangdut-pop Jawa Happy Asmara dipastikan menjadi sorotan utama dalam peluncuran album...

Andrigo Siapkan “Pacar Selingan 2” Setelah Lagu Viral

Nama Andrigo kembali menjadi sorotan publik setelah lagu “Pacar Selingan” viral di berbagai platform...

“Cuma Lima Menit”, Lagu Baru Ratu Meta yang Satir, Jenaka, dan Relate dengan Kisah Cinta Masa Kini

Dunia musik dangdut Indonesia kembali diramaikan dengan hadirnya single terbaru berjudul “Cuma Lima Menit”...