Kabar duka datang dari pedangdut Fitri Carlina. Ayahnya, Tasrun Hadinoto, meninggal dunia pada Sabtu, 7 November 2026, di RS Mitra Keluarga Cibubur setelah menjalani perawatan karena infeksi paru-paru yang berulang.
Kronologi menurunnya kondisi sang ayah diungkapkan kakak Fitri, Nini Carlina, saat ditemui usai pemakaman di kawasan Cikeas, Gunung Putri, pada Minggu (8/11/2026). Menurut Nini, kesehatan Tasrun mulai menurun sejak dua tahun terakhir, tepatnya setelah menjalani pemasangan ring.
“Jadi qadarullah Bapak ini memang dua tahun belakangan ini, semenjak Bapak sudah pasang ring, memang beberapa kali Bapak itu terdiagnosa infeksi di paru-parunya, seperti itu ya,” ujar Nini Carlina kepada KapanLagi.com.
Sempat Pulih, Infeksi Kembali Muncul
Nini menuturkan, pada infeksi pertama, tim dokter yang dipimpin menantu mereka, dr. Indra Marki, berhasil membuat kondisi Tasrun kembali pulih. Namun pemeriksaan berikutnya menunjukkan infeksi yang dialami ayahnya semakin berat hingga menimbulkan komplikasi.
Tim medis, termasuk dua menantunya, Indra Marki dan Hendra Sumendap, memberikan penanganan intensif. Tasrun dirawat sekitar 15 hari. Pada masa itu, Fitri bersama suaminya, Hendra, yang menurut Nini sulit ditemui, bisa hadir untuk menghibur sang ayah.
Meski sempat membaik, infeksi kembali muncul. Sebelum menjalani perawatan terakhir, kondisi Tasrun menurun saat berada di Surabaya setelah menghadiri tasyakur pembangunan masjid dan Rumah Al-Qur’an di Banyuwangi, yang merupakan hadiah dari anak-anaknya.
Nini mengatakan ayahnya sangat bersemangat mengikuti rangkaian kegiatan tersebut. Namun aktivitas yang padat diduga membuat fisiknya kelelahan hingga akhirnya harus dibawa ke rumah sakit.
“Terus qadarullah sampai Jakarta sehat gitu ya. Hari Minggu sampai Jakarta, hari Selasanya kontrol ke dokter dinyatakan baik-baik saja. Ternyata hari Kamisnya malam kita dikabarin bahwa Papa tuh udah kayak ngigo-ngigo gitu ya, sadar tapi Papa kayak ngomongnya tuh udah enggak kayak biasanya,” tuturnya.
Kondisi Kritis hingga Berpulang
Setelah menjalani perawatan dan sempat kembali ke rumah, kondisi Tasrun kembali menurun sekitar satu bulan kemudian. Ia lalu dibawa ke instalasi gawat darurat untuk mendapat perawatan intensif hingga akhirnya meninggal dunia.
Nini menceritakan, pada saat kunjungan sekitar pukul 12.00 siang, ayahnya masih mengobrol dan masih bisa membersihkan diri. Setelah jam besuk berakhir, ibunya dan adik mereka, Wiwi, pergi ke apotek membeli obat. Tak lama berselang, keluarga menerima telepon bahwa Tasrun dalam kondisi kritis.
“Dan ternyata kemarin jam 12.00 siang pada waktu dibesuk Papa masih ngobrol, masih ngobrol, masih membersihkan diri gitu ya. Terus begitu jam besuk habis, Mama sama adik kami, Mbak Wiwi sedang ke apotek beli obat. Tahu-tahu kita ditelepon katanya Papa kritis,” ungkap Nini.
