Jakarta Film Week 2026 resmi berakhir pada Minggu malam, 25 Oktober 2026, di CGV Grand Indonesia, Jakarta. Dalam malam penutupan di ScreenX 1 itu, festival mengumumkan para pemenang kompetisi film sekaligus penerima dukungan program industri, sebelum rangkaian acara ditutup dengan pemutaran film Laut Bercerita. Film produksi Filipina, Inggris, Singapura, Prancis, dan Belanda berjudul Filipinana karya Rafael Manuel menjadi peraih Global Feature Award.
Filipinana dan Para Pemenang Lainnya
Majelis juri menyatakan Filipinana diapresiasi karena penggambarannya atas persinggungan gender dan kelas dalam dunia yang dibentuk oleh privilese serta dibayangi warisan kolonial. Menurut juri, film itu menelusuri bagaimana hierarki warisan terus mengatur tubuh dan tenaga kerja, lalu mengubah kehancuran menjadi puisi melalui gambar-gambar yang menghadirkan keindahan liris.
“Hierarki yang diwariskan terus mengatur tubuh dan tenaga kerja,” demikian pernyataan juri dalam siaran resmi.
Penghargaan Direction Award, yang disebut sebagai penghargaan tertinggi untuk kategori film Indonesia di Jakarta Film Week, diberikan kepada nobody Loves Kay karya Bernardus Raka. Juri menilai film itu berhasil memotret hubungan antartokoh dan proses tumbuh dewasa dalam dunia esports.
Bleat! karya Ananth Subramaniam memenangkan Global Short Award karena premisnya yang unik, humor yang tidak biasa, serta penulisan naskah yang dinilai cerdas. Adapun Global Animation Award diraih What We Leave Behind karya Jean-Sebastien Hamel dan Alexandra Myotte atas pendekatan animasi yang segar dalam mengangkat isu yang relevan. Penghargaan Jakarta Film Fund Award diberikan kepada The Year Without Summer karya Rayhan Dharmawan, yang diapresiasi karena memotret kehidupan Jakarta masa kini dengan kepekaan dan kejujuran.
Dukungan JFWneT untuk Proyek Film Indonesia
Malam penutupan juga mengumumkan penerima JFWneT – Industry Program Awards, yang memberi dukungan bagi pengembangan proyek film Indonesia, kebutuhan produksi dan pascaproduksi, serta kesempatan terhubung dengan jaringan industri internasional. Program Producers Lab, Talents Hub, dan Pitching Forum dalam rangkaian ini didukung oleh Manajemen Talenta Nasional (MTn), Kementerian Kebudayaan RI.
Producers Lab MTn Development Grant diberikan kepada Utari Hanif Assyuri melalui proyek SALTSTORM!. Tiga proyek terpilih mengikuti Platform Busan ACFM 2027, yaitu A Burnt Engine Who Can’t See the Light karya Jonathan Gradiyan, Rollinghead karya Panji Respati, dan Irama Rama karya Dendy Ariza Putra. Pitching Forum MTn Development Grant diraih Gokill yang disutradarai Amanda Iswan dan diproduseri James Erlangga.
Proyek My Tears, A Sea for Jakarta to Sink karya sutradara Andrea Nirmala Widjajanto dan produser Nirartha Bas Diwangkara memperoleh Jakarta Film Commission Development Grant sekaligus QCinema Special Prize. Dukungan internasional melalui HKIFF Industry Award diberikan kepada Holy Mother karya sutradara Sinung Winahyoko dan produser Fadhila Ristianty, sementara Bunga Ineza terpilih mengikuti eFM Toolbox Berlinale 2027.
Untuk kebutuhan pascaproduksi, Super 8mm Studio Post Production Support diberikan kepada Gabriela Serrano, peserta Talents Hub Filipina, melalui proyek Music Memory. BSM Premiere Gear Fund mendukung tujuh proyek, yakni Badass Boi, Push Rank, My Tears, A Sea for Jakarta to Sink, Script: Maria, Holy Mother, Gokill, dan Oh… Marijuana!.
Ragam Program di Hari Terakhir
Festival yang berlangsung lima hari sejak 21 Oktober 2026 ini menghadirkan tamu industri dari Asia Tenggara, Eropa, dan Amerika Latin, serta lebih dari 5.000 penonton. Hari terakhir diisi pemutaran film, diskusi, dan kegiatan industri di sejumlah lokasi.
Dalam program Family Time, Forza diputar di CGV Grand Indonesia dan diikuti sesi tanya jawab bersama produser Shierly Kosasih serta para pemeran Ghazi Alhabsyi, Atiqah Hasiholan, dan Tio Pakusadewo. Film itu mengikuti perjalanan Bima mengejar mimpi menjadi pesepak bola, dengan hubungan keluarga dan kehidupan desa sebagai bagian penting cerita.
Hari terakhir juga menghadirkan world premiere Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, drama-komedi garapan Kuntz Agus yang diadaptasi dari novel Brian Khrisna. Diskusi setelah pemutaran menghadirkan Nia Daniaty, Bene, Zulfa Maharani, Jourdy Pranata, dan Chicco Kurniawan, membahas proses adaptasi novel ke layar lebar serta pesan tentang harapan di tengah situasi hidup yang sulit. Penggarapan cerita melibatkan konsultasi dengan psikiater, dan tim membuka kemungkinan mengembangkan semesta cerita itu lebih lanjut.
Pada Global Feature Official Selection, Too Many Beasts (L’espece explosive), film panjang debut sutradara Sarah Arnold, menyajikan satire politik dalam balutan komedi gelap. Berlatar di sebuah desa Prancis yang dilanda masalah populasi babi hutan, film ini mengangkat ketidakadilan dan kepentingan elite lewat cerita absurd. Arnold dan penulis naskah Jeremie Dubois hadir dalam diskusi bersama penonton, didampingi Cultural Attache Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia, Carol Meyer.
“Humor is dark because we have to continue to laugh amidst all that’s happening,” ujar Arnold. Dubois antara lain berbagi soal keberanian mengambil risiko dalam penulisan naskah dan berharap penonton dapat terhubung dengan film tersebut.
Program lain mencakup The Girl With The Leica dalam Herstory, A Bowl of Chicken Noodles Before I Die dalam Global Feature Official Selection, dan Couture dalam Currents. Program Classique menayangkan Stepping on the Flying Grass karya Eugene Panji di Teater Sjuman Djaya, Taman Ismail Marzuki. Film yang juga dikenal dengan judul Cita-Citaku Setinggi Tanah itu mengikuti Agus dan tiga sahabatnya dalam memaknai cita-cita dan kebahagiaan melalui pengalaman sederhana. Family Time di CGV FX Sudirman menghadirkan Papaya, animasi asal Brazil karya Priscilla Kellen, sementara Layar Anak Indonesiana TV yang dipresentasikan Balai Media Kebudayaan (BMK) Kementerian Kebudayaan RI menampilkan Katumbiri Nutug Leuwi (Pelangi yang Jatuh ke Sungai), Samasta Allegra, Meong, Bikul, Kisah si Pemburu, dan Pasukan Singa Kardus, dengan kehadiran Arfi Sn dan Ayu Pamungkas.
Laut Bercerita Menutup Festival
Laut Bercerita diputar sebagai film penutup setelah lima hari rangkaian pemutaran, diskusi, dan pertemuan pelaku industri. Diadaptasi dari novel Leila S. Chudori, film ini mengisahkan Biru Laut dan kawan-kawannya yang terlibat gerakan aktivisme mahasiswa pada masa Orde Baru, menghadapi penangkapan, penghilangan paksa, dan ketidakpastian, serta keluarga yang terus mencari jawaban atas hilangnya orang-orang yang mereka cintai.
Sejumlah pemeran hadir dalam pemutaran itu, antara lain Reza Rahadian, Dian Sastrowardoyo, Yunita Siregar, Eva Celia, Christine Hakim, Arswendy Bening Swara, Kevin Julio, Ben Nugroho, Dewa Dayana, Yoga Pratama, Nagra Kautsar, Natalius Chendana, dan Afrian Arisandy. Kehadiran mereka mempertemukan para pemain dengan penonton yang menyaksikan kisah tersebut di layar lebar.
“Jakarta Film Week bukan hanya tentang film yang ditayangkan selama festival, tetapi juga tentang orang-orang yang bertemu, gagasan yang dibagikan, dan kolaborasi yang mulai terbangun,” ujar Rina Damayanti. Ia menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung penyelenggaraan tahun ini dan berharap pertemuan selama festival menjadi awal perjalanan serta karya baru.
Ahmad Mahendra juga menyampaikan apresiasi kepada para sineas, pelaku industri, mitra, komunitas, dan penonton yang menjadi bagian dari Jakarta Film Week 2026. Menurutnya, festival selama lima hari itu menjadi ruang pertemuan bagi berbagai cerita, gagasan, dan perspektif melalui film. “Kami berharap pengalaman dan koneksi yang terbangun selama festival dapat terus berlanjut, serta membawa semangat baru bagi perkembangan perfilman Indonesia,” ujarnya.
