Patrick Stewart meninggal dunia di Los Angeles pada 28 Oktober 2026 dalam usia 86 tahun. Sepanjang lebih dari enam dekade berkarier, aktor kelahiran Inggris itu membangun reputasi lewat beragam karakter, mulai dari tokoh komedi, antagonis, hingga figur legendaris di film petualangan. Dua peran yang paling melekat pada namanya adalah Kapten Jean-Luc Picard dalam serial STAR TREK: THE NEXT GENERATION dan Charles Xavier dalam franchise X-MEN. Rolling Stone merangkum sepuluh peran yang memperlihatkan keluasan kemampuannya di atas panggung maupun layar.
Picard dan Xavier, dua ikon yang membesarkan namanya
Nama Stewart melambung ke level internasional setelah ia dipercaya memerankan Picard pada 1987. Sebelum bergabung dengan proyek itu, ia disebut bukan penikmat berat STAR TREK maupun fiksi ilmiah. Sebagai nakhoda USS Enterprise, Picard memimpin awak dalam berbagai misi dan berhadapan dengan kelompok seperti Romulan dan Klingon. Kehidupan pribadinya juga disorot, antara lain lewat kedekatannya dengan kepala petugas medis Beverly Crusher yang diperankan Gates McFadden.
Salah satu momen yang paling diingat penggemar terdapat dalam episode dua bagian berjudul Best of Both Worlds. Picard diculik dan diubah oleh bangsa Borg menjadi Locutus, dan kalimat “Perlawanan sia-sia” yang ia ucapkan dalam kondisi itu menjadi salah satu frasa paling dikenal di semesta STAR TREK. Stewart kemudian kembali memerankan Picard dalam serial PICARD.
Karakter Charles Xavier pertama kali ia mainkan dalam X-MEN yang dirilis pada 2000. Semula Stewart mempertimbangkan menolak tawaran itu karena khawatir Xavier akan terlalu mirip dengan Picard. Pertemuannya dengan sutradara Bryan Singer membuatnya berubah pikiran. Sebagai Professor X, ia tampil sebagai pemimpin bijak yang menjadi figur ayah bagi para mutan, dengan hubungan persahabatan rumit bersama Magneto yang diperankan sahabatnya, Ian McKellen. Keduanya kerap berseberangan soal pandangan terhadap manusia dan mutan.
Pada LOGAN, Stewart kembali sebagai Xavier, tetapi dalam kondisi yang jauh berbeda: sudah menua, sering kebingungan, dan sulit mengendalikan ingatannya. Ia tinggal bersama Logan yang diperankan Hugh Jackman di sebuah tempat terpencil. Kisahnya lebih personal, menyoroti usia senja, kehilangan, dan akhir perjalanan para tokohnya.
Antagonis, parodi, dan komedi
Di luar citra pemimpin bijaksana, Stewart mengambil peran antagonis dalam thriller GREEN ROOM. Ia memerankan Darcy Banker, pemimpin kelompok supremasi kulit putih yang mengelola klub Neo-Nazi di daerah terpencil Oregon. Konflik bermula ketika band punk Ain’t Rights terjebak di tempat itu setelah salah satu anggotanya menyaksikan pembunuhan, dan anggota kelompok rasis tersebut berupaya menghabisi saksi. Darcy digambarkan merasa dirinya intelektual, tetapi tak segan memakai kekerasan. Menurut Stewart, naskah garapan Jeremy Saulnier itu sempat membuatnya takut, namun ketertarikannya pada sisi gelap Darcy membuatnya menerima tawaran.
Sisi komedi Stewart terlihat dalam parodi ROBIN HOOD: MEN IN TIGHTS. Ia muncul menjelang akhir film sebagai sosok berzirah yang disambut hormat para pencuri dan pria berjubah ketat, bahkan saudaranya sendiri, John, ikut berlutut. Adegan berlanjut ketika ia menitahkan, “Throw him in the Tower of London!” dan “Make him part of the tour!” sebagai hukuman untuk John.
Dalam serial BLUNT TALK besutan Jonathan Ames, Stewart berperan sebagai Walter Blunt, penyiar asal Inggris yang berusaha menyesuaikan diri dengan dunia pemberitaan televisi kabel Amerika Serikat. Kesalahan yang ia lakukan di kantor maupun dalam keseharian menjadi sumber kelucuan, termasuk adegan ketika karakternya berhadapan dengan toilet bandara. Serial ini memakai humor slapstick dan materi yang cukup vulgar, tetapi bertahan selama dua musim.
Panggung teater dan drama personal
Film MATCH memberinya ruang mengeksplorasi persoalan personal yang lebih rumit. Stewart memerankan Tobi, koreografer legendaris yang mengajar tari di Juilliard. Kehidupannya berubah ketika Lisa, diperankan Carla Gugino, datang bersama suaminya yang dimainkan Matthew Lillard untuk mewawancarainya keperluan tesis. Tobi semula menyambut antusias, tetapi percakapan mereka perlahan mengungkap tujuan lain yang menyangkut masa lalunya, memaksanya menghadapi kenangan dan penyesalan yang selama ini dihindari. Diadaptasi dari drama panggung karya Stephen Belber, film ini menonjolkan kemampuan Stewart membawakan konflik emosional lewat interaksi antarkarakter.
Kiprah di teater juga menjadi bagian penting perjalanannya. Dalam rekaman pertunjukan NO MAN’S LAND karya Harold Pinter, ia kembali beradu akting dengan Ian McKellen. Stewart memerankan Hirst, pria kaya yang membawa pulang seorang penyair dalam kondisi berantakan. Percakapan panjang mereka diselingi minuman keras dan ketegangan, sementara pengaruh alkohol membuat ingatan Hirst makin terganggu dan penonton diajak mempertanyakan persepsinya atas kejadian di sekitarnya.
Dalam THE KID WHO WOULD BE KING, Stewart tampil sebagai Merlin, penyihir legendaris yang membantu sekelompok anak menghadapi ancaman besar, sementara versi mudanya dimainkan Angus Imrie. Cerita bermula saat seorang anak menemukan pedang Excalibur di lokasi konstruksi. Merlin versi Stewart digambarkan eksentrik, dengan rambut berantakan dan kaus bergambar band Led Zeppelin, dan film ini juga menyimpan momen perpisahan yang emosional.
Peran tak biasa datang lewat BAIT, serial komedi satir yang dibuat dan dibintangi Riz Ahmed. Stewart mengisi suara kepala babi terpenggal yang berbicara kepada Shah Latif, aktor yang tengah berjuang dalam kariernya dan dikabarkan berpeluang menjadi James Bond berikutnya. Kehidupan Shah berubah ketika kepala babi dikirim ke keluarganya sebagai ancaman anti-Muslim, lalu kepala itu berbicara dengan suara dalam dan tenang milik Stewart. Riz Ahmed menyampaikan rasa terima kasihnya atas keterlibatan Stewart, yang menurut laporan Rolling Stone menunjukkan kesediaan aktor itu mengeksplorasi karakter tidak biasa hingga menjelang akhir perjalanan kariernya.
