Mochi skin kembali menarik perhatian sebagai tren kecantikan yang menonjolkan kulit wajah kenyal, lembut, dan terhidrasi. Terinspirasi dari tekstur kue mochi khas Jepang, tampilan ini menjadi alternatif bagi mereka yang menginginkan kulit bercahaya tanpa hasil akhir terlalu berkilau seperti glass skin. Tren ini sebenarnya pernah populer pada 2020–2021 dan kembali mencuat seiring meningkatnya minat pada perawatan yang berfokus pada kesehatan kulit.
Kenyal seperti mochi, bukan mengilap seperti kaca
Glass skin menekankan kulit yang tampak bening, bercahaya, dan memantulkan cahaya seperti permukaan kaca. Mochi skin mengambil arah berbeda: teksturnya halus, elastis, lembap, dengan hasil akhir satin dan kilau tipis yang lebih alami. Kulit tidak diarahkan tampak berminyak, tetapi tetap terlihat segar dan berisi. Keduanya sama-sama menonjolkan kulit sehat dan terawat, meski fokus hasil akhirnya berbeda.
Perbedaan itu dijelaskan ahli estetika sekaligus pendiri Live by Skin di Woburn, Massachusetts, Michelle Ventresca, kepada ELLE. Menurut dia, glass skin memberikan hasil akhir mengilap dan dewy, sedangkan mochi skin cenderung satin, lebih halus, dan tidak terlalu reflektif. Glass skin berupaya menciptakan pantulan cahaya kuat; mochi skin memilih kilau lembut yang masih mempertahankan dimensi serta tekstur alami wajah.
Dokter kulit bersertifikasi Marie Jhin, yang berbasis di San Carlos, California, dalam wawancara dengan Glamour Magazine menggambarkan kulit mochi sebagai kulit lembut dan kenyal yang tidak menunjukkan garis halus atau kekeringan secara mencolok. Ia mengibaratkannya seperti kulit bayi yang terhidrasi baik. Konsep ini berkaitan dengan pendekatan J-beauty yang mengutamakan kesederhanaan dan kesehatan kulit, dengan produk bertekstur ringan serta hasil akhir alami. Vogue juga menyebut hasil akhir mochi skin berada di antara matte dan dewy, dengan cahaya yang tersebar lembut sehingga wajah tidak terlihat kering maupun berminyak.
Kunci perawatan: hidrasi dan skin barrier
Untuk mendapatkan tampilan kulit yang kenyal, hidrasi dan kondisi skin barrier menjadi dasar. Menurut panduan Vogue, rutinitasnya mencakup pembersih lembut, produk hidrasi, bahan pendukung skin barrier, serta sunscreen. Produk yang terinspirasi K-beauty dan J-beauty dapat menjadi pilihan. Bahan yang sering dikaitkan dengan konsep ini antara lain ekstrak atau air beras, hyaluronic acid, glycerin, ceramide, dan peptide.
Pada malam hari, wajah dapat dibersihkan dengan metode double cleansing memakai cleansing oil atau cleansing balm, lalu dilanjutkan sabun wajah lembut. Cara ini membantu mengangkat sisa makeup, sunscreen, minyak, dan kotoran. Pada pagi hari, pembersihan bisa disesuaikan dengan kondisi kulit, misalnya membilas dengan air, memakai pembersih lembut, atau micellar water bila diperlukan.
Setelah itu, gunakan toner, losion, atau essence ringan yang melembapkan. Produk dengan hyaluronic acid, glycerin, atau ekstrak beras dapat membantu menarik dan mempertahankan kelembapan. Serum ditambahkan sesuai kebutuhan: vitamin C untuk membantu mencerahkan, niacinamide untuk membantu meratakan warna kulit, atau peptide untuk mendukung tampilan kulit lebih kencang. Bahan aktif tidak perlu dipakai semuanya sekaligus; produk baru sebaiknya diperkenalkan bertahap.
Langkah berikutnya adalah pelembap untuk mengunci hidrasi. Gel atau krim ringan dengan ceramide dapat menjadi pilihan karena membantu menjaga fungsi skin barrier. Pilih produk yang nyaman dan tidak meninggalkan rasa terlalu lengket agar hasil akhirnya mendekati satin. Pada pagi hari, sunscreen dengan perlindungan minimal SPF 30 perlu digunakan sesuai petunjuk untuk membantu mencegah kerusakan kulit akibat sinar ultraviolet.
Kulit sensitif dan risiko eksfoliasi
Pemilik kulit sensitif tetap dapat mencoba tampilan mochi skin. Pendekatan yang mengutamakan hidrasi dan pemeliharaan skin barrier menjadi fokus, alih-alih eksfoliasi intensif. Glass skin sering dikaitkan dengan eksfoliasi untuk menghaluskan permukaan kulit, tetapi penggunaan bahan eksfoliasi terlalu sering atau melebihi toleransi kulit berisiko menimbulkan iritasi.
Mochi skin tidak menuntut eksfoliasi berlebihan. Fokusnya adalah menjaga kelembapan, mendukung fungsi pelindung kulit, dan memilih produk yang sesuai. Ventresca menyarankan pemilik kulit sensitif lebih cermat memilih produk dan memperhatikan frekuensi eksfoliasi. Meski begitu, mochi skin tidak otomatis bebas risiko. Uji tempel perlu dilakukan sebelum memakai produk baru, dan pemakaian sebaiknya dihentikan jika muncul reaksi tidak nyaman. Jika kulit sering merah, perih, atau iritasi, konsultasi dengan dokter kulit dapat membantu menentukan perawatan yang tepat.
Makeup ringan dan kebiasaan harian
Makeup untuk mochi skin mengutamakan produk yang menyatu dengan kulit, bukan lapisan tebal yang terlalu matte atau terlalu mengilap. Skin tint atau foundation dengan hasil akhir natural satin dapat meratakan warna kulit tanpa menutupi seluruh tekstur alami. Concealer dipakai terbatas pada area yang membutuhkan, sedangkan blush bertekstur cream atau liquid lebih mudah dibaurkan. Bronzer dan highlighter sebaiknya tipis, dan bedak tidak perlu berlebihan karena dapat membuat wajah terlihat kering. Jika kulit mudah berminyak, bedak tabur secukupnya bisa dipakai di area T-zone.
Ahli kecantikan Jess Bowers kepada ELLE menyoroti bahwa kilau berlebihan terkadang justru membuat ketidaksempurnaan kulit lebih terlihat. Tampilan lembut dengan tekstur lebih merata, menurut dia, dapat memberi kesan wajah segar tanpa mengejar kilau maksimal. Mochi skin juga bukan pengganti glass skin; keduanya merupakan pilihan estetika yang bisa disesuaikan dengan kondisi dan preferensi masing-masing.
Kebiasaan sehari-hari turut berpengaruh. Mencukupi kebutuhan cairan, tidur cukup dan teratur, serta menjaga pola makan seimbang dengan sayuran, buah, dan sumber protein dapat mendukung kesehatan kulit. Kurang tidur dapat membuat wajah terlihat lelah dan kusam, sementara konsumsi air saja tidak langsung menjamin kulit lebih kenyal. Hindari mencuci wajah terlalu sering atau memakai produk yang membuat kulit tertarik dan kering karena perawatan agresif dapat mengganggu skin barrier. Konsistensi rutinitas lebih penting daripada mengikuti semua produk yang sedang populer.
Tren mochi skin tidak mengharuskan kulit benar-benar bebas pori-pori, garis halus, atau tekstur alami. Hal-hal tersebut merupakan bagian normal dari kulit manusia. Dengan pemilihan produk yang sesuai dan rutinitas yang konsisten, tampilan kulit yang segar, lembut, dan kenyal dapat diupayakan tanpa harus mengejar kesempurnaan.
