Duta Mangrove Indonesia 2025, Zaklyyah Amirah Zulika
Jakarta, Trenzindonesia.com | Ancaman banjir dan krisis iklim yang kian sering melanda Indonesia menjadi alarm serius bagi masa depan lingkungan. Di tengah situasi tersebut, Duta Mangrove Indonesia 2025, Zaklyyah Amirah Zulika, mengajak generasi muda untuk tampil di garis depan menjaga kelestarian alam, khususnya ekosistem mangrove, sebagai benteng alami menghadapi dampak perubahan iklim.
Zaklyyah menegaskan, banjir yang berulang di berbagai daerah tidak bisa lagi dipandang semata sebagai bencana alam. Menurutnya, peristiwa tersebut merupakan konsekuensi dari kerusakan lingkungan, mulai dari alih fungsi lahan, deforestasi, hingga degradasi kawasan mangrove yang selama ini berperan vital melindungi wilayah pesisir.
“Banjir hari ini adalah alarm keras bagi kita semua. Kerusakan hutan dan mangrove telah menghilangkan perlindungan alami yang seharusnya menjaga keseimbangan lingkungan,” ujar Zaklyyah saat menjadi pembicara dalam Webinar Solidaritas Warga ASEAN dalam Menjaga Lingkungan.
Ia menjelaskan, mangrove memiliki fungsi strategis sebagai benteng pesisir, penyerap karbon alami, sekaligus penyangga ekosistem yang mampu meredam dampak perubahan iklim seperti banjir rob dan abrasi pantai. Sayangnya, peran penting tersebut kerap terpinggirkan dalam kebijakan pembangunan.
“Keberadaan mangrove masih sering dikorbankan demi kepentingan jangka pendek, padahal manfaatnya sangat besar bagi keberlanjutan lingkungan,” ungkapnya.
Zaklyyah mendorong penguatan ketahanan iklim (climate resilience) melalui kebijakan yang berpihak pada pelestarian alam dan pemulihan ekosistem yang telah rusak. Menurutnya, pembangunan berkelanjutan hanya dapat terwujud jika perlindungan lingkungan menjadi prioritas utama.
“Kebijakan ke depan harus berpihak pada pelestarian alam dan pemulihan ekosistem, bukan sekadar mengejar keuntungan sesaat,” tegasnya.
Dalam paparannya, Zaklyyah juga menyoroti peran strategis generasi muda sebagai agen perubahan. Dengan daya adaptasi, kreativitas, dan kepedulian sosial yang tinggi, anak muda dinilai memiliki potensi besar untuk menggerakkan aksi nyata pelestarian lingkungan.
“Generasi muda bukan hanya pewaris dampak krisis iklim, tetapi juga penentu arah masa depan lingkungan,” katanya.
Tak hanya di tingkat nasional, Zaklyyah menekankan pentingnya solidaritas regional ASEAN dalam menghadapi persoalan lingkungan yang bersifat lintas batas negara. Menurutnya, perubahan iklim dan bencana ekologis tidak mengenal batas wilayah, sehingga kolaborasi antarnegara menjadi keniscayaan.
“Perubahan iklim tidak mengenal batas negara. Solidaritas dan kolaborasi regional ASEAN adalah kunci membangun ketahanan bersama,” ujarnya.
Ia berharap isu pelestarian lingkungan, khususnya pelestarian mangrove, tidak berhenti sebagai wacana, tetapi diwujudkan melalui edukasi, partisipasi publik, dan gerakan berkelanjutan.
“Masa depan ditentukan oleh keputusan hari ini. Anak muda harus menjadi bagian dari solusi dengan menjaga dan merawat alam,” pungkas Zaklyyah.
