Trenz Edutainment |Satu peristiwa paling kelam dalam sejarah Republik Indonesia yang masih menjadi misteri dan membuat penasaran akan kebenarannya adalah peristiwa Gerakan 30 September PKI atau tenar disebut “G30S/PKI”.
Bahkan di zaman Orde Baru, stempel PKI seolah menjadi momok paling menakutkan sekaligus menyakitkan yang berulang ulang di doktrin oleh Pemerintah di era tersebut yang diantaranya lewat pemutaran wajib film “Penghianatan G 30 S PKI” besutan Arifin C Noer, di setiap tanggal 30 September.
Meski untuk mengenang para pahlawan revolusi, namun film tersebut lebih berkesan sebagai sarana propaganda pemerintahan Orde Baru yang diwujudkan dalam bentuk seluloid, film kolosal sebagai doktrinasi yang melanggengkan kekuasaan Soeharto.
Bahkan, meski pada akhirnya pemerintahan Orde Baru yang berkuasa selama 32 tahun berhasil ditumbangkan oleh gerakan reformasi, namun hingga kini jargon komunis atau PKI masih banyak digoreng oleh para pihak, utamanya pendukung/simpatisan Orde Baru, dengan maksud untuk tetap memberi pengaruh negatif bagi lawan lawan politiknya. Terlebih pengaruh media sosial yang kuat di era kini, turut memperkeruh situasi, masih banyak pihak yang bimbang, mana informasi yang nyata maupun yang hoax seputar sepak terjang PKI.
Tentunya yang menjadi korban dari kesimpangsiuran informasi peristiwa sejarah yang kini menjadi abu-abu tersebut adalah generasi yang lahir sejak tahun 1965 hingga kini. Dari Generasi X (lahir 1961-1980), Generasi Y atau disebut juga Generasi Milenial(lahir 1981-1994), Generasi Z (1995 -201)) terlebih lagi Generasi Alpha (Generasi yang lahir setelah tahun 2010. Bahkan bila informasi ini tetap masih berada diwilayah abu-abu, maka yang akan jadi korban adalah generasi generasi selanjutnya (Generasi Betha, Generasi Charlie dst).
Sebenarnya ada beberapa upaya yang coba meluruskan atau mencari kebenaran tentang sejarah yang sesungguhnya (meski ada juga yang tetap berusaha mengaburkannya), baik melalui film, buku maupun sarana lainnya.
Satu buku yang berkaitan dengan peristiwa tragedi September 1965 adalah sebuah novel bertajuk “September” karya sastrawan Noorca M. Massardi. Novel “September” ini pertama kali diterbitkan oleh Penerbit Tiga Serangkai, Solo (2006), dan kemudian kembali dicetak ulang oleh Penerbit Basabasi, Jogjakarta pada September 2017.
Yang menarik, disampul novel “September” tercetak kalimat yang berkesan provokatif yakni “Sebuah bangsa telah terluka. Luka itu tidak akan pernah terlupakan dan tidak akan terhapuskan untuk selama-lamanya… “.
Novel “September” ini juga dipilih untuk mengisi acara “Bincang Buku Bersama Anggota DPR RI” di Perpustakaan MPR, Gedung Nusantara IV, Senayan, Jakarta, Rabu (26/09) pkl 13.00 WIB.
Menurut Noorca M. Massardi, novel “September” itu “seratus persen fiksi, namun diilhami oleh peristiwa nyata Tragedi September 1965 di Indonesia.” Novel yang ditulis selama enam tahun itu didasarkan pada sejumlah riset pustaka dari peneliti Indonesia dan asing yang mencoba memahami apa yang sesungguhnya terjadi pada tanggal 30 September sampai dengan 1 Oktober 1965. “Ini bagian dari tanggungjawab sejarah saya sebagai pengarang, kepada bangsa Indonesia,” katanya.
Sebelum dibukukan novel “September” ini juga pernah dimuat sebagai cerita bersambung di harian Media Indonesia, Jakarta pada kurun 2004, dengan judul “Perjalanan Darius.” Namun, sebelum selesai, “Pemuatan cerbung itu dihentikan pihak redaksi di tengah jalan, karena satu dan lain hal yang tidak saya ketahui sampai sekarang,” kata Noorca.
Sejak terbit pada 2006, pembahasan tentang novel itu baru dilakukan di Jakarta dan Jatinangor, Jawa Barat pada 2006, dan di Rumah Maiyah Jogjakarta pada Oktober 2017 lalu. “Mungkin karna temanya dinilai sensitif, banyak pihak enggan membahas novel ini,” kata Noorca sambil tertawa.
Dalam bincang buku di Perpustakaan MPR itu tampil sebagai pembicara Ibu Popong Djundjunan, anggota DPR paling senior dari Partai Golkar, dan Puti Guntur Soekarno, mantan anggota DPR dari FPDIP (2014-2019), yang mengundurkan diri karena ikut dalam pencalonan pemilihan kepala daerah provinsi Jawa Timur 2018.
Meski telah ditegaskan oleh Noorca bila novel “September” ini merupakan fiksi , namun membaca novel ini serasa membaca buku sejarah. Tak bisa disangkal, karena seperti yang pernah diungkapkan oleh penulisnya, jika buku ini memang diilhami oleh peristiwa nyata Tragedi September 1965 di Indonesia
Masih penasaran? Mungkin di akhir acara “Bincang Buku Bersama Anggota DPR RI” nanti, akan ada titik terang apakah uku ini memang Cuma sekedar karya sastra atau memang bisa dianggap sebagai wujud lain dari sebuah buku sejarah. (Fjr/TrenzIndonesia) | Foto: IG. Raynimassardi & Google.co.id
