Presiden Prabowo Subianto bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka
Jakarta, Trenzindonesia.com | Memasuki usia ke-80 tahun kemerdekaan, Indonesia dihadapkan pada tantangan sekaligus peluang besar menuju visi Indonesia Emas 2045. Di tengah momentum perayaan HUT RI 2025, Presiden Prabowo Subianto bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meluncurkan “Delapan Gerakan Merdeka”, sebuah paket kebijakan strategis yang digadang menjadi fondasi baru bagi bangsa menuju kemandirian lahir dan batin.
Program ini tak sekadar simbolis, melainkan ditujukan untuk menjawab problem nyata yang masih membayangi masyarakat—mulai dari pendidikan, ekonomi, perumahan, kesehatan, hingga diplomasi internasional.
Pendidikan merdeka: Sekolah Garuda hingga Sekolah Rakyat
Prabowo-Gibran menempatkan kemerdekaan pendidikan sebagai prioritas utama. Melalui Sekolah Garuda, pemerintah menyiapkan jalur unggulan agar anak bangsa mampu menembus universitas kelas dunia. Sementara itu, Sekolah Rakyat hadir untuk menjamin pemerataan akses pendidikan bagi masyarakat kecil, sekaligus memutus rantai kemiskinan melalui jalur akademis.
Ekonomi kerakyatan dan Danantara
Di bidang ekonomi, pemerintah kembali menekankan nafas Pasal 33 UUD 1945 dengan menghidupkan koperasi desa merah putih. Tak hanya itu, konsep Danantara (Daya Anagata Nusantara) dibentuk untuk mengelola tujuh BUMN strategis di sektor perbankan, komunikasi, hingga pertambangan. Langkah ini diharapkan memperkuat kedaulatan ekonomi nasional.
Tiga juta rumah untuk rakyat
Menjawab backlog perumahan nasional yang masih mencapai 9,9 juta unit menurut BPS, program tiga juta rumah menjadi salah satu terobosan besar. Fokusnya adalah menyediakan hunian layak dan terjangkau bagi masyarakat miskin ekstrem hingga kelas menengah bawah, sebagai upaya mempersempit jurang kesenjangan sosial.
Merdeka kesehatan dan cek kesehatan gratis
Sektor kesehatan tak luput dari perhatian. Pemerintah menargetkan 20 juta warga mendapat layanan cek kesehatan gratis, sebagai bagian dari misi merdeka kesehatan. Selain itu, kualitas tenaga medis dan pemerataan layanan di daerah terpencil terus didorong untuk memperkuat ketahanan kesehatan nasional.
Gizi gratis untuk generasi sehat
Isu stunting, anemia, hingga obesitas anak ditanggapi dengan program makan bergizi gratis. Data menunjukkan 18,7 persen anak usia sekolah masih mengalami stunting, sementara hampir 98 persen kurang konsumsi sayur dan buah. Program ini diharapkan membentuk kebiasaan makan sehat sekaligus meningkatkan konsentrasi belajar anak.
Merdeka budaya lewat sejarah nasional
Meski menuai polemik, pemerintah tetap mendorong penulisan ulang buku sejarah nasional dengan perspektif Indonesia-sentris. Tujuannya menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan nasionalisme generasi muda, sekaligus mereduksi bias kolonial dalam narasi sejarah bangsa.
Merdeka politik dengan silaturahmi kebangsaan
Prabowo-Gibran juga menekankan pentingnya kemerdekaan politik dengan mengurangi kesenjangan antarpartai. Rutin digelar silaturahmi politik, disertai pemberian amnesti dan abolisi kepada tokoh tertentu, demi merajut persatuan nasional dan mengurangi fragmentasi politik yang kerap muncul di masa lalu.
Diplomasi pertahanan dan solidaritas global
Terakhir, agenda diplomasi pertahanan ditegaskan melalui dukungan tanpa henti terhadap perjuangan Palestina, serta keterlibatan aktif Indonesia dalam isu global seperti konflik Iran-Israel dan Laut China Selatan. Selain memperkuat alutsista, pemerintah juga menaruh perhatian pada keamanan siber yang kini dipandang sebagai ancaman serius di era digital.
Delapan gerakan ini menjadi penanda bahwa peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia bukan sekadar selebrasi, tetapi momentum untuk mengukur sejauh mana komitmen negara hadir dalam kehidupan rakyat. Kini, publik menantikan implementasi nyata di lapangan: apakah program-program tersebut mampu menjawab kebutuhan masyarakat atau sekadar menjadi janji politik belaka.
**Oleh: Inggar Saputra (Praktisi Pendidikan dan Kebangsaan)
