HomeNewsRSUPN Cipto Mangunkusumo Luncurkan program JAK-ROP

RSUPN Cipto Mangunkusumo Luncurkan program JAK-ROP

Published on

Trenz News |Bertepatan  dengan  Hari  Prematuritas  SeduniaRSUPN  Cipto  Mangunkusumo  meluncurkan  program  JAK-ROP:  Program  Mobile  Retinopati  Prematuritas  Jakarta pada Jum’at, (17/11).

Acara  peluncuran program JAK-ROP ini  dihadiri  oleh  Staf Kementerian  Kesehatan  Republik  Indonesia,  Kepala  Dinas  Kesehatan  DKI  Jakarta,  Direktur  Utama  RSUPN  Cipto Mangunkusumo, dan tamu undangan lain yakni dokter spesialis anak, dokter spesialis mata dari RSUD dan rumah sakit lain di DKI Jakarta.

Narasumber acara ini adalah Prof.  dr. Rita Sita Sitorus, Sp.M(K), Ph.D, pakar kesehatan mata anak dan  Guru  Besar  Departemen  Ilmu  Kesehatan  Mata  Fakultas  Kedokteran  Universitas  Indonesia  (FKUI)  /  RSUPN  Cipto Mangunkusumo  (RSCM),  serta  Dr.  dr.  Rinawati  Rohsiswatmo,  Sp.A(K),  pakar  bayi  prematur  dari  Departemen  Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM.

Pada tahun 2010, Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berjudul Born Too Soon, The Global Action Report on Preterm Birth menempatkan Indonesia di urutan ke-5 sebagai negara dengan jumlah bayi prematur terbanyak di dunia. Bayi prematur diketahui menjadi penyumbang terbesar angka kematian bayi serta cacat fisik.  Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 44 persen kematian bayi di dunia pada 2012 terjadi pada 28 hari pertama kehidupan (masa neonatal),  di  mana  penyebab  terbesarnya  (37  persen)  ialah  kelahiran  prematur.  Prematuritas  menjadi  penyebab kematian kedua tersering pada balita setelah pneumonia.

Dr.  dr.  Rinawati  Rohsiswatmo,  Sp.A(K)  menyampaikan  bahwa  di  Indonesia,  angka  kematian  bayi  prematur  telah berkurang  berkat kemajuan pada bidang  perawatan di bidang  neonatal intensive care units (NICU) di rumah sakit.  Di sisi lain, kejadian ROP akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya angka harapan hidup tersebut.

Bayi  yang  terlahir  prematur  (lahir  dengan  berat  kurang  dari  1500  gram  atau  usia  kehamilan  kurang  dari  32  minggu) berisiko  mengalami  gangguan  mata  Retinopati  Prematuritas  (ROP).  Prematuritas  mengakibatkan  pertumbuhan pembuluh darah selaput jala (retina)  tidak  sempurna.  Gangguan mata ROP dapat terjadi dalam  tahap  ringan, di  mana dapat  mengalami perbaikan  secara spontan, namun pada kasus yang berat dapat mengakibatkan lepasnya retina dan pada  akhirnya  mengakibatkan  kebutaan  permanen.  Selain  itu,  bayi  yang  hidup  selamat  pun  masih  memiliki kemungkinan  mengalami  gangguan  kognitif,  penglihatan  dan  pendengaran.  Padahal,  kebutaan  akibat  kondisi  ini sebetulnya dapat dicegah apabila deteksi dini dilakukan kepada bayi-bayi prematur ini.

Prof.  dr.  Rita  Sita  Sitorus,  SpM  (K),  PhD,  menekankan  pentingnya  penanggulangan  kebutaan  pada  bayi  dan  anak, karena  bayi  yang  terlahir  buta  atau  menjadi  buta  setelah  tumbuh  menjadi  anak -anak  memiliki  waktu  hidup  dengan kebutaan  yang  lebih  lama  dibandingkan  mereka  yang  menderita  kebutaan  pada  usia  dewasa.  “Walaupun  angka kejadian kebutaan pada anak tidak setinggi dengan kebutaan pada orang dewasa seperti katarak, namun total beban emosional, sosial, ekonomi yang harus dibayar akibat kebutaan seorang anak terhadap keluarga, masyarakat maupun negara jauh lebih besar dibandingkan beban yang harus dibayar akibat kebutaan pada orang tua.”

RSCM telah menetapkan panduan ketat terhadap deteksi dini Retinopati Prematuritas (ROP) sehingga angka kejadian ROP di RSCM terbilang amat rendah. Namun, masih cukup banyak kasus rujukan dari rumah sakit luar dengan kondisi retinopati prematuritas, bahkan  dalam stadium yang lanjut. Program JAK-ROP merupakan program jemput bola yang digagas oleh RSCM bekerja sama dengan Helen Keller International (HKI) dan Standard Chartered Bank. Nantinya, tim yang  terlatih  dari  RSCM  akan  mendatangi  secara  aktif  dan  rutin  rumah  sakit  –  rumah  sakit  dengan  membawa  alat kamera retina  mobile  secara  langsung untuk  melakukan pemeriksaan kepada  bayi-bayi di rumah sakit.  Gambar yang didapatkan dari alat ini akan dikirimkan ke dokter spesialis mata di RSCM untuk dievaluasi tentang keadaan ROP-nya. Bayi-bayi yang dinilai berisiko dari pemeriksaan akan dilakukan pemeriksaan lanjutan secara berkala hingga dinilai tidak memerlukan tindak lanjut, atau dirujuk ke RSCM jika memerlukan terapi lanjutan terhadap keadaan ROP-nya, seperti laser dan suntikan ke dalam bola mata.

Dody  Rochadi  –Country  Head  of  Corporate  Affairs    dari  Standard  Chartered  Bank  menambahkan  bahwa, menunjukkan kepedulian terhadap sesama dan saling bersinergi untuk bersama-sama mencegah kebutaan di Indonesia merupakan  fokus  utama  program  Seeing  is  Believing  dari  Standard  Chartered  Bank.  Dengan  terlibat  dalam  upaya bersama pemerintah dan mitra lainnya melalui  pemberian akses pemeriksaan mata yang terjangkau bagi masyarakat Indonesia ini, Standard Chartered Bank berharap  inisiatif telah berjalan sejak 14 tahun lalu dapat berkelanjutan sebagai wujud komitmen Bank untuk memberikan kontribusi nyata dalam mendukung program kesehatan pemerintah.

Sebagai informasi, pada Mei 2017 yang lalu,  Standard Chartered Bank  bersama dengan Helen Keller International  telah menyerahkan  satu  buah  kamera  retina  mobile,  alat  yang dipergunakan  untuk  memeriksa  retina  bayi  lahir  prematur, kepada  RSCM  untuk  mengidentifikasi  bayi  prematur  dengan  dugaan  Retinopati  Prematur  (ROP)  dan  merujuk pada pengobatan yang diperlukan.

Prateek Gupta, Country Director, Helen Keller International menjelaskan, Helen  Keller  International  (HKI)  adalah  lembaga  non-profit  yang  bergerak  di  bidang  peningkatan  gizi  dan  kesehatan mata. Sejak tahun 1975, HKI telah bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Kesehatan, melayani lebih dari 50 juta penduduk Indonesia dalam memerangi malnutrisi, kemiskinan serta dampak dan akibat dari kebutaan.

HKI berharap dapat menyeleggarakan program yang membantu pemerintah Indonesia dalam hal identifikasi awal anak-anak dengan gangguan penglihatan atau kondisi kesehatan mata lainnya yang bisa dicegah dan lebih memperluas akses pelayanan yang terjangkau dan berkualitas.

Program tersebut bertujuan untuk:

Membuat uji coba bagi sistem penapisan bayi prematur, memastikan tindak lanjut perawatan kasus retinopati prematuritas (RP), dan ketika diperlukan, dapat memberikan pengobatan RP di Jakarta.

Mengembangkan dan menerapkan sistem monitoring, evaluasi dan penelitian di Sulawesi Selatan dan    Jakarta  yang  secara  teliti  dan  sistematis  diseminasi  yang  mempertemukan  pakar  dari  dalam  maupun  luar Indonesia.

HKI  akan  bermitra  dengan  RSCM  di  Jakarta  untuk  mengembangkan  percontohan  (pilot)  bagi  pengembangan  sistem kesehatan  mata  guna  mengatasi  ROP  di  RSUD.  HKI  akan  membeli  kamera  retina  yang  dapat  digunakan  oleh  RSCM sebagai  RSUD  di  Jakarta  untuk  mengidentifikasi  bayi  prematur  yang  diduga  menderita  Retinopati  Prematuritas  dan memberikan rujukan apabila diperlukan. Pelajaran yang didapat dari percontohan ini dapat menginformasikan ekspansi ke daerah lain di Indonesia. (pr/Trenz Indonesia)

Latest articles

Hadirkan Ustadz Subki Al-Bughury, Ikatan Alumni SMP 45 Jakarta Gelar Gebyar Muharram 1448 H dengan Santunan Yatim

Dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah, Taklim Ikatan Alumni SMP...

Program Jumat Berkah Wartawan Pekan – 76 , Gandeng Chandra Wahyu dan Sylvia Nabila Gelar Aksi Sosial untuk Warga Cibubur

Jakarta , Trenzindonesia.com - Program Jumat Berkah Wartawan (PJBW) kembali menunjukkan kepedulian sosial melalui...

Andrigo Kembali Bangkitkan Luka Lewat “Pacar Selingan 2”, Gandeng Label Besar Malaysia Luncai Emas

Nama Andrigo seolah tidak bisa dipisahkan dari lagu fenomenal “Pacar Selingan”. Lagu yang pernah...

Indra Adhari Musisi Independen Rilis Cinta Sejati, Single Ke-5 di Konsep One Month One Song

Indra Adhari penyanyi sekaligus pencipta lagu kembali menegaskan komitmennya di industri musik tanah air...

More like this

Program Jumat Berkah Wartawan Pekan – 76 , Gandeng Chandra Wahyu dan Sylvia Nabila Gelar Aksi Sosial untuk Warga Cibubur

Jakarta , Trenzindonesia.com - Program Jumat Berkah Wartawan (PJBW) kembali menunjukkan kepedulian sosial melalui...

Kisah Yanti, Nasabah PNM Mekaar yang Sukses Bangun Usaha Kriya dari Nol: Modal Kepercayaan Jadi Kunci Perubahan Hidup

Jakarta, Trenzindonesia.com | Dipercaya, Bukan Dikasihani: Cerita Perempuan Ultra Mikro yang Berani Bermimpi Lebih...

Rela Tempuh Hutan Demi Mengajar, Kisah Guru Honorer di Sikka Ini Menyentuh Hati Publik

Jakarta, Trenzindonesia.com | Di tengah keterbatasan akses dan minimnya fasilitas pendidikan di pelosok daerah,...