Trenz Indonesia
News & Entertainment

Saiful SH : Pentingnya Integrasi Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi Dalam Sistem Pendidikan Islam

42

JAKARTA, Trenzindonesia | Integrasi ilmu pengetahuan umum yang berbasis sains-teknologi dan sistem pendidikan Islam yang berbasiskan teks Al-Qur’an dan Hadits pada dasarnya merupakan upaya mengatasi dikotomi dunia keilmuan.

Selama ini sistem pendidikan Islam berdiri terpisah, sehingga pengetahuan agama mengalami sekulerisasi dengan pengetahuan dunia yang serba saintifik, relevan dengan perkembangan teknologi terkini dan modern. Padahal jika kita mengacu kepada prinsip Islam yang mengajarkan ketuhanan dan kepemimpinan dalam dunia keilmuan, maka pendidikan sains-teknologi sangat berkaitan dengan kehidupan seorang muslim. Dalam dunia pendidikan misalnya dampak adanya pandemi Covid-19, peserta didik belajar menggunakan teknologi yang modern seperti Microsoft team, zoom, google meet dan lainnya. Jika mau dikembangkan lebih jauh, penemuan internet dan media sosial seperti whatsapp, facebook, twitter dan instagram selain sebagai sarana komunikasi sesama teman juga dapat dikembangkan sebagai media pembelajaran teknologi digital.

Dalam sejarah Islam, ilmu sains-teknologi sudah berkembang sejak dulu dengan penemuan teori luar angkasa, baju besi, pesawat terbang dan lainnya. Tetapi kondisi mulai berubah dengan adanya sekulerisasi yang dikembangkan dunia Barat khususnya ketika terjadi masa pencerahan, dimana muncul pandangan bahwa adanya sains-teknologi harus dijauhkan dari agama, sebab agama menghalangi perkembangan keilmuan sains dan teknologi digital. Mereka seolah lupa, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi digital tidak bisa meminggirkan etika dan moralitas, dimana keduanya terdapat dalam ajaran agama khususnya Islam.

. Konsepsi dari Jerman ini menghendaki adanya penggunaan teknologi secara total dalam kehidupan manusia dengan meminggirkan peran manusia di dalamnya.

Merespons pandangan itu, Jepang melahirkan paradigma masyarakat 5.0 yang serba pintar secara teknologi digital dengan memanfaatkan big data dan artificial intelligence tetapi tetap mempertemukan ruang virtual tersebut dengan kebutuhan hidup manusia sehingga tidak menghilangkan sifat humanisme dari manusia itu sendiri.

Adanya teknologi yang serba pintar dan canggih pada satu sisi membuat kehidupan manusia menjadi cepat, efektif dan efisien. Tapi sulit dipungkiri teknologi melahirkan berbagai dampak negatif seperti penipuan, terorisme, kecanduan bermain video game, narkoba, prostitusi, pornografi dan pornoaksi serta beragam kejahatan lainnya. Selain itu teknologi digital juga mengikis interaksi sosial manusia sebagai makhluk humanis, menghilamgkan  beberapa profesi atau pekerjaan manusia yang digantikan robot, serta berpotensi melemahkan negara dengan adanya serangan cyber teknologi.  Tidak sedikit pula media sosial dipakai untuk menghujat, menebarkan kebencian, menghasut orang berbuat kejahatan dan melanggar etika, nilai dan norma di masyarakat sehingga mengakibatkan degradasi moralitas.

Kondisi ini jelas membutuhkan sistem pendidikan Islam yang mengedepankan etika, nilai moralitas, akhlak dan pengembangan karakter yang sesuai dengan kepribadian Islam berlandaskan Al-Qur’an dan Al-hadits.

Dalam sistem pendidikan Islam, teknologi diakui berdampak positif karena mampu mengembangkan pembelajaran menjadi menarik dan memudahkan guru dalam mengajar peserta didiknya. Dalam hal ini, Al-Quran dan Hadits difungsikan sebagai panduan utama dalam mengembangkan keilmuan teknologi, sains dan digital dengan tetap memperhatikan keseimbangan hidup dunia dan akhirat yang berujung kepada kesejahteraan hidup manusia lahir dan batin. Nilai Al-Qur’an dan Hadits jika ditanamkan kepada kepribadian peserta didik akan mampu membentuk jasmani-rohani, dunia-akhirat, ilmu agama dan sains, terbentuknya kepribadian sains-ilmiah, yang semuanya menjadi benteng terdepan. (PR/Fjr)

Leave A Reply

Your email address will not be published.