Lampung, Trenzindonesia.com | Suasana haru, bangga, sekaligus takjub menyelimuti Masjid At-Tibyan, Kota Metro, saat 23 santri Pondok Pesantren Roudlatul Qur’an (PPRQ) Lampung sukses menuntaskan uji publik Amtsilati dalam puncak Tasyakuran Khataman Angkatan VI, Sabtu (2/5/2026).
Momentum Khataman: Lebih dari Sekadar Kelulusan

Perhelatan ini bukan hanya seremoni kelulusan, melainkan bukti konsistensi Pondok Pesantren Roudlatul Qur’an dalam mencetak generasi unggul yang menguasai literatur Islam klasik melalui metode Amtsilati—sebuah pendekatan cepat membaca kitab kuning.
Sejumlah tokoh penting turut hadir, termasuk pimpinan pesantren M. Yahya Musthofa Kamal serta jajaran pengasuh dan tokoh pendidikan lainnya, menambah khidmat suasana malam tersebut.
Uji Publik Jadi Sorotan: Santri Jawab Pertanyaan “Menjebak” dengan Lugas
Puncak acara terjadi saat sesi uji publik—momen paling menegangkan sekaligus membanggakan. Para santri diuji langsung oleh hadirin dengan pertanyaan acak seputar nahwu dan shorof, dua disiplin inti dalam memahami kitab kuning.
Hasilnya? Para wisudawan tampil percaya diri dan mampu menjawab dengan cepat serta tepat. Kepiawaian ini menjadi bukti keberhasilan metode pembelajaran yang diasuh oleh Herman Susilo.
Pesan Kiai: Ilmu Tinggi Harus Diiringi Adab dan Ridho Guru

Dalam sambutannya, M. Yahya Musthofa Kamal menegaskan bahwa penguasaan ilmu alat adalah kunci memahami agama secara mendalam.
Ia mencontohkan sosok Bahauddin Nursalim sebagai ulama yang dihormati lintas kalangan, termasuk akademisi. Menurutnya, gelar tinggi tidak akan berarti tanpa kedalaman ilmu dan keberkahan dari guru.
“Jangan tinggalkan ngaji, meskipun nanti kuliah atau bekerja,” pesannya tegas.
Adab Lebih Tinggi dari Ilmu: Pesan Menyentuh untuk Generasi Muda
Nasihat mendalam juga disampaikan Mustamar Aziz yang menekankan pentingnya adab dalam perjalanan hidup santri.
Ia mengingatkan bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh ridho guru. Sikap hormat dan menjaga hubungan dengan guru menjadi kunci keberkahan ilmu.
Filosofi Ilmu dan Adab: Garam dan Tepung

Menutup rangkaian acara, Saiful Hadi menyampaikan analogi menarik: ilmu ibarat garam, sedangkan adab adalah tepung.
Maknanya, adab harus menjadi fondasi utama, sementara ilmu menyempurnakan kehidupan. Tanpa adab, ilmu berisiko melahirkan kesombongan, bukan manfaat.
Semangat Pendidikan: Dari Lampung untuk Masa Depan Umat

Acara yang ditutup dengan doa dan musafahah ini menegaskan satu hal: pendidikan pesantren bukan sekadar transfer ilmu, tetapi pembentukan karakter.
Melalui metode Amtsilati, PPRQ Lampung kembali membuktikan diri sebagai salah satu pusat pendidikan Islam yang adaptif dan relevan di era modern.
Harapan dan Akses Pendidikan
Bagi masyarakat yang ingin memberikan pendidikan agama yang kuat dan beradab kepada anak-anaknya, PPRQ Lampung masih membuka pendaftaran santri baru melalui portal resminya.
