HomeNewsStandard Chartered Kembali Rayakan Hari Penglihatan Sedunia Lewat Program Seeing is Believing

Standard Chartered Kembali Rayakan Hari Penglihatan Sedunia Lewat Program Seeing is Believing

Published on

Dari  total  3,75  juta  penyandang  tunanetra  di  Indonesia,  40%  diantaranya  adalah  anak-anak  usia sekolah dan rata-rata telah putus sekolah atau sama sekali tidak mengenyam pendidikan lantaran keterbatasan akses

Trenz News |  Turut merayakan  Hari Penglihatan Sedunia, Standard Chartered Bank (“Bank”) kembali mempertegas komitmennya untuk berkontribusi secara positif kepada masyarakat melalui program  “Seeing  is  Believing”, yang telah diluncurkan sejak tahun 2003 lalu.

Seeing is Believing (SiB) sendiri merupakan inisiatif global Standard Chartered Bank (“Bank”) untuk mencegah kebutaan bagi anak-anak, di komunitas-komunitas dimana “Bank” beroperasi.

Standard Chartered Bank  memperingati Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day / WSD) tahun ini, yang merupakan bentuk peningkatan kesadaran yang berfokus pada isu global tentang pencegahan kebutaan dan gangguan penglihatan dengan tema tahun ini adalah #MakeVisionCount.

Standard Chartered Bank  memperingati Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day / WSD) tahun ini, yang merupakan bentuk peningkatan kesadaran yang berfokus pada isu global tentang pencegahan kebutaan dan gangguan penglihatan dengan tema tahun ini adalah #MakeVisionCount.

Menyusul serangkaian kegiatan  yang telah dilaksanakan di  wilayah  Nusa  Tenggara  Barat (NTB), maka dengan melibatkan sekitar 700 karyawannya,  Standard Chartered Bank  kembali menggelar beragam acara sebagai puncak peringatan Hari Penglihatan Sedunia yang dihelat di Menara Stanchart (belakang Sampoerna Strategic Building)Jl. Prof. DR. Satrio No. 164, Jakarta, Minggu, (15/10).

Acara tersebut diresmikan secara langsung oleh Rino Donosepoetro, Chief Executive Officer Standard Chartered Bank Indonesia, bersama seluruh jajaran Country Management Team (CMT).

Berbagai inisiatif dilakukan dalam puncak perayaan Hari Penglihatan Sedunia 2017 mulai dari  jalan sehat (Fun  Walk)  dengan  membawa  atribut  berupa  pesan  pencegahan  kebutaan,  pengetikan  buku  braille  dan kegiatan edukasi literasi keuangan bagi  para penderita gangguan mata. Selain itu, Bank juga meluncurkan konten audio dan video animasi literasi keuangan yang dapat menjadi alat edukasi literasi keuangan bagi mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan dan umum.

Rino Donosepoetro, Chief Executive Officer Standard Chartered Bank Indonesia menjelaskan, “Melalui program Seeing is Believing yang telah kami lakukan sejak 2003, kami ingin menjadi bagian dari solusi jangka panjang  bagi  pencegahan  kebutaan  dan  gangguan  penglihatan  di Indonesia.  Inilah  komitmen  kami  untuk masyarakat  Indonesia  dan  mendukung  program  pemerintah  dalam  mendorong  pertumbuhan  ekonomi nasional.”

Secara  global,  diperkirakan  terdapat  285  juta  orang  (4,24%)  mengalami  gangguan  penglihatan,  39  juta (0,58%) mengalami kebutaan, dan 246 juta (3,65%) mengalami low vision (Global Data on Visual Impairment 2010, WHO 2012). Indonesia menempati urutan ketiga dalam daftar negara dengan tingkat kebutaan tertinggi di dunia, mencapai 1,5% lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara.

Di Indonesia, dari total 3,75 juta penyandang tunanetra, rata-rata hidup prasejahtera lantaran minimnya akses pendidikan.  Empat puluh persen dari 3,75 juta penyandang tunanetra  adalah anak-anak usia sekolah dan rata-rata telah putus sekolah atau sama sekali tidak mengenyam pendidikan lantaran keterbatasan akses.

Program Seeing is Believing merupakan inisiatif global Standard Chartered Bank untuk mencegah kebutaan di komunitas-komunitas dimana Bank beroperasi. Program yang telah berhasil mengumpulkan dana sebesar US$  95  juta  dan  menyentuh  sedikitnya  150,3  juta  penerima  bantuan  ini  bertujuan  untuk  meningkatkan kesadaran akan bahaya kebutaan dan cacat penglihatan. Targetnya program ini dapat mencapai dana US$ 100 juta pada tahun 2020.

Di Indonesia sendiri, sejak tahun 2003, program  Seeing is Believing  telah mendanai lebih dari USD  9 juta untuk program perawatan kesehatan mata bagi masyarakat, mulai dari anak sampai dengan orang dewasa. Lebih dari 2 juta orang telah mendapatkan vitamin A, lebih dari 6 juta orang memperoleh layanan kesehatan mata serta kampanye peningkatan kesadaran dan pendidikan  kesehatan serta  138.000 operasi katarak dan operasi mata lainnya telah dilakukan.

“Kami  menyadari  bahwa  dibutuhkan  kolaborasi  dengan  seluruh  pemangku  kepentingan,  mulai  dari Pemerintah,  swasta,  organisasi  masyarakat,  serta  masyarakat  Indonesia  sendiri,  agar  program  ini  dapat berhasil.  Untuk  itu,  kami  telah  menjalin  kerjasama  dengan  sejumlah  institusi,  termasuk  Kementerian Kesehatan,  Kementerian  Pendidikan  Nasional,  pemerintah  daerah  dimana  program-program  Seeing  is Believing  berlangsung,  dan  organisasi  non-profit,  seperti  Helen  Keller  International  dan  the  Fred  Hollows Project.”

Sebelumnya, Bank telah meluncurkan program  Seeing is Believing  di wilayah NTB dengan menyasar lima Kabupaten/Kota  yaitu  Kota  Mataram,  Kabupaten  Lombok  Barat,  Kabupaten  Lombok  Tengah,  Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Sumbawa Barat. Di NTB, program ini menargetkan untuk menyentuh sekitar 550.000 siswa dan 3.500 guru di 3.500 SD untuk mendapatkan skiring pelatihan dan akses terhadap layanan kesehatan mata. Selain itu, program ini juga akan memberikan pelatihan kepada para tenaga kesehatan dan penyediaan peralatan screening di 97 Puskesmas.

Sebanyak  1.800  anak  berkebutuhan  khusus  dari  40  Sekolah  Luar  Biasa  di  Jabodetabek  juga  telah memperoleh  akses  pemeriksaan  dan  penanganan  gangguan  penglihatan  untuk  mencegah  kebutaan permanen.

Tidak hanya memberikan bantuan langsung kepada anak-anak, melalui program ini Bank juga berupaya untuk menciptakan sistem kesehatan mata yang lebih berkelanjutan melalui pelatihan kepada para guru dan petugas kesehatan. Bersama mitra, Bank juga akan memanfaatkan aset lokal yang sudah dibangun pemerintah untuk ditingkatkan kembali kapasitasnya. Hal ini untuk memastikan program yang selaras dengan fokus pemerintah.

Berdasarkan Vision Loss Expert Group, prevalensi cacat penglihatan secara global telah menurun dari 4,58% di tahun 1990 menjadi 3,38% di 2015. Hal ini mengindikasikan adanya upaya bersama dari pelaku sektor kesehatan dengan  organisasi kemasyarakatan, pemerintah dan pihak swasta, termasuk program  Seeing is Believing, yang diharapkan dapat membawa perubahan yang lebih baik.

Sebagai  penghargaan  terhadap  komitmen  dan  konsistensinya,  program  Seeing  is  Believing  berhasil memenangkan beberapa penghargaan, diantaranya rekor MURI dan Global Gold CSR Leadership Award. (pr/Fjr)

Latest articles

PNM dan Danantara Perkuat Pemberdayaan Perempuan Ultra Mikro, 23,1 Juta Nasabah Kini Rasakan Dampaknya

Jakarta, Trenzindonesia.com | Komitmen PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dalam memberdayakan perempuan pengusaha...

Sambut Momen HUT ke-499 DKI, Ketum FBJ Budi Siswanto Ajak Masyarakat Berperan Aktif Dorong Jakarta Menuju Kota Global

JAKARTA - Guna menyambut momentum perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 DKI, Ketua Umum...

Indra Adhari di Konsep One Month One Song Rilis Ibuku Pahlawanku yang Viral di TikTok Malaysia

Penyanyi dan pencipta lagu Indra Adhari yang tengah menjalani konsep One Month One Song...

Golden Memories 50 Tahun Kelulusan SMPN 45 Jakarta Angkatan 79

Suasana haru, hangat, dan penuh kenangan mewarnai perhelatan “Golden Memories – 50 Tahun Kelulusan...

More like this

PNM dan Danantara Perkuat Pemberdayaan Perempuan Ultra Mikro, 23,1 Juta Nasabah Kini Rasakan Dampaknya

Jakarta, Trenzindonesia.com | Komitmen PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dalam memberdayakan perempuan pengusaha...

Aylawati Sarwono Raih Juara Asian Tango Championship 2026 di Tokyo, Bukti Kiprah Indonesia di Panggung Seni Dunia

TOKYO, Jepang , Trenzindonesia.com — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan putra-putri Indonesia di tingkat internasional. Penari...

Pempek Ibu Iin Laris Manis di Final PFL 2026, Bukti UMKM Bisa Tumbuh dari Panggung Olahraga Nasional

Jakarta, Trenzindonesi.com | Riuh sorak ribuan penonton yang memadati GOR Universitas Negeri Yogyakarta saat...