HomeNewsThank You, Amplop Wartawan

Thank You, Amplop Wartawan

Published on

Oleh: Isson Khairrul *

Diskusi di postingan facebook AMPLOP OH SUMBER BOROK pada Rabu (08/07/2020) 21.32 WIB, sangat menarik. Saya mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan, yang sudah menyempatkan singgah di postingan tersebut. Dari sejumlah respon, saya menangkap bahwa kita -para jurnalis dan mantan jurnalis- jengah dengan kelakuan para Pemimpin Redaksi di Forum Pemred tersebut.

Saya ingat pesan Lukman Umar, pendiri sekaligus pemilik Majalah Kartini. Ia berpesan, kita yang beraktivitas di dunia pers ini, sesungguhnya ibarat orang banyak yang berenang di kolam yang sama. Berendam di air yang sama. Satu orang saja di antara kita berpenyakit kulit, maka ada kemungkinan yang lain akan tertular.

Jika pesan Lukman Umar itu kita analogikan dengan “pemberian” para pengusaha dan para pejabat ke para Pemimpin Redaksi di Forum Pemred tersebut, jelas bahwa kita yang berada di luar mereka turut kecipratan air comberan. Bau dan anyir. Penyakit mereka menulari kita. Kelakuan mereka mempermalukan kita.

Meski, kita bukan orang yang suci-suci amat. Tapi, bukankah para Pemimpin Redaksi di Forum Pemred tersebut telah menginjak-injak etika pers secara terang-terangan di puncak hidung kita? Dengan kata lain, kelakuan Forum Pemred itu semakin membuat para pengusaha dan para pejabat kian jumawa. Mereka tak ragu untuk melanggar aturan, karena mereka yakin ada barisan Pemimpin Redaksi di Forum Pemred, yang akan membentengi mereka.

Keyakinan itu timbul, karena mereka sudah memberi. Karena pemberian mereka sudah dilahap Forum Pemred. Misalnya, ada pengusaha yang perusahaannya mencemarkan lingkungan. Ada pejabat yang menerbitkan izin atas pencemaran tersebut. Kasus pencemaran itu bukan tidak diberitakan. Tapi, porsi pemberitaannya serta framing content-nya, tidak sebagaimana adanya.

Penderitaan warga karena pencemaran tersebut, tidak dieksplorasi. Kerugian warga tidak jadi pokok bahasan, tapi ditiban oleh beragam pernyataan pengusaha dan keterangan pejabat yang bersangkutan. Akibatnya, jeritan warga nyaris tak terdengar. Padahal, salah satu fungsi pers adalah menyuarakan suara warga, yang tak mampu bersuara. Menyuarakan jeritan warga, yang diterkam oleh kesewenang-wenangan.

Pada contoh di atas, pers hanya menjadi corong pengusaha. Menjadi corong pejabat. Dengan kata lain, “pemberian” telah memutar-balikkan haluan pers. Pers telah berkontribusi melanggengkan kesewenang-wenangan. Karena sudah begitu, warga kehilangan kepercayaan terhadap pers. Kita – para jurnalis dan mantan jurnalis – yang berada di luar Forum Pemred, bisa apa?

Tawaran Upa Labuhari, menurut saya, tawaran yang menarik. Ia menawarkan, kalau betul kawan-kawan kita yang di Forum Pemred tersebut telah mencederai profesi wartawan, mari kita semua wartawan Indonesia menyatakan dan meminta PWI Pusat, untuk membubarkan Forum Pemred. Sebelum sampai ke sana, sudah sepatutnya Dewan Pers memanggil Forum Pemred, untuk melakukan klarifikasi.

Saya mencoba mencari-cari, siapa kini yang layak disebut sebagai Tokoh Pers? Siapa kini yang sungguh-sungguh memperjuangkan pers? Sejarah pers yang panjang di negeri ini, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah bangsa ini, nyaris sudah terkikis. Yang tersisa hanya corong pengusaha. Corong penguasa.

Karena masyarakat sudah nyaris tak percaya kepada pers di negeri ini, apa masih ada gunanya peringatan Hari Pers Nasional? Apanya yang diperingati?

Terima kasih saya ucapkan kepada Matt Bento, Yuriana Wahda Fitri, Imran Aninggili, Salma Indria Rahman, Muchlis Muhammad, Bois MrBbm, Penerus Bonar Karo-Karo, Yon Moeis, Mustofa Achmad Soedirdjo, Djoharudin Baking, Nuzulul Arifin, Marpan Siahaan, Bahal Siregar, Diego Armando-maradona, Trie Tere, Upa Labuhari, Ken Ajoe, Zoel Azhar, Abuzakir Ahmad Zacky, Edy Saputra, Putra Gara, Herry Budiman, Tony Yusep, Rizal Katili, Jojo Debb, dan kepada rekan-rekan lain yang sudah singgah. Mudah-mudahan ini salah satu jalan untuk mewujudkan kembali martabat pers negeri ini.

Salam dari saya Isson Khairul
Persatuan Penulis Indonesia

(*) Sumber: https://rb.gy/afgddz

Berita Sebelumnya
Berita Selanjutnya

Latest articles

Indra Adhari Musisi Independen Rilis Cinta Sejati, Single Ke-5 di Konsep One Month One Song

Indra Adhari penyanyi sekaligus pencipta lagu kembali menegaskan komitmennya di industri musik tanah air...

Kisah Yanti, Nasabah PNM Mekaar yang Sukses Bangun Usaha Kriya dari Nol: Modal Kepercayaan Jadi Kunci Perubahan Hidup

Jakarta, Trenzindonesia.com | Dipercaya, Bukan Dikasihani: Cerita Perempuan Ultra Mikro yang Berani Bermimpi Lebih...

Migi Rihasalay Tampil Elegan Bersama Putri Cantiknya di Anniversary Color Models Inc, Kehadiran Putri Indonesia Jadi Sorotan

Jakarta, Trenzindonesia.com | Gemerlap dunia mode dan selebriti menyatu dalam perayaan 36th Anniversary Color...

Rela Tempuh Hutan Demi Mengajar, Kisah Guru Honorer di Sikka Ini Menyentuh Hati Publik

Jakarta, Trenzindonesia.com | Di tengah keterbatasan akses dan minimnya fasilitas pendidikan di pelosok daerah,...

More like this

Kisah Yanti, Nasabah PNM Mekaar yang Sukses Bangun Usaha Kriya dari Nol: Modal Kepercayaan Jadi Kunci Perubahan Hidup

Jakarta, Trenzindonesia.com | Dipercaya, Bukan Dikasihani: Cerita Perempuan Ultra Mikro yang Berani Bermimpi Lebih...

Rela Tempuh Hutan Demi Mengajar, Kisah Guru Honorer di Sikka Ini Menyentuh Hati Publik

Jakarta, Trenzindonesia.com | Di tengah keterbatasan akses dan minimnya fasilitas pendidikan di pelosok daerah,...

Hujan Deras Guyur Bojonggede, Warga Bojong Indah Permai Was-was Banjir Masuk Rumah

BOGOR,Trenzindonesi.com – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, pada Senin...