Jakarta, Trenzindonesia.com | Gunungan sampah Indonesia kian mengkhawatirkan. Dengan timbulan mencapai lebih dari 21 juta ton per tahun dan hanya sekitar 35 persen yang terkelola, krisis ini menjadi alarm keras bahwa perubahan budaya lingkungan harus dimulai sekarang—dari rumah dan keluarga.
Krisis sampah: persoalan nyata yang kian mendesak
Masalah sampah bukan lagi isu pinggiran. Di berbagai kota besar, saluran air tersumbat limbah rumah tangga memicu banjir, sementara kawasan pegunungan menghadapi ancaman longsor akibat kerusakan hutan.
Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2025 mencatat:
- Timbulan sampah: 21,65 juta ton
- Sampah terkelola: 35%
- Sampah makanan: 39,7% dari total
- Proyeksi: TPA berpotensi penuh paling lambat 2028
- Dampak: banjir, longsor, polusi, hingga kenaikan biaya kesehatan
Jika pola konsumsi dan pengelolaan tidak berubah, beban lingkungan diperkirakan semakin berat dalam beberapa tahun ke depan.
Akar masalah: bukan sekadar teknis, tapi budaya
Pengamat lingkungan menilai krisis sampah di Indonesia tidak semata persoalan infrastruktur, melainkan juga perilaku.
Kebiasaan membuang sampah sembarangan, penggunaan plastik sekali pakai yang masif, hingga eksploitasi alam tanpa pemulihan menunjukkan budaya ramah lingkungan belum sepenuhnya mengakar.
Padahal, perubahan perilaku harian masyarakat merupakan kunci paling efektif untuk menekan laju timbulan sampah nasional.
Peran masyarakat jadi penentu utama
Upaya membumikan budaya lingkungan dimulai dari langkah sederhana di tingkat keluarga. Beberapa praktik yang dinilai berdampak langsung antara lain:
- Memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah
- Mengurangi plastik sekali pakai
- Menanam pohon atau sayuran di pekarangan
- Menghidupkan kembali gotong royong kebersihan lingkungan
Ketika kebiasaan kecil ini dilakukan secara kolektif, efeknya bisa signifikan: lingkungan lebih bersih, risiko bencana menurun, dan kualitas hidup meningkat.
Budaya lingkungan juga berdampak pada ekonomi keluarga
Pendekatan lingkungan sering dipandang sebagai gerakan idealis. Padahal, dampaknya sangat konkret terhadap ekonomi rumah tangga.
Lingkungan yang bersih membuat keluarga lebih jarang sakit sehingga biaya kesehatan menurun. Di sisi lain, pengelolaan sampah membuka peluang ekonomi baru, seperti:
- Bank sampah
- Produksi kompos
- Produk daur ulang
- Urban farming di pekarangan
Dengan kata lain, budaya lingkungan bukan beban tambahan, melainkan investasi ekonomi keluarga yang membuat rumah tangga lebih hemat dan mandiri.
Pancasila sebagai fondasi gerakan lingkungan
Mengaitkan gerakan lingkungan dengan nilai Pancasila dinilai penting agar perubahan tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga berakar secara moral.
Beberapa nilai yang relevan antara lain:
Gotong royong
Membersihkan lingkungan bersama, pengelolaan sampah kolektif, hingga penanaman pohon massal.
Keadilan sosial
Memastikan akses lingkungan sehat bagi seluruh warga, bukan hanya kawasan tertentu.
Kemanusiaan yang adil dan beradab
Menjaga alam berarti menjaga sumber kehidupan manusia: air, udara, dan pangan.
Dengan pendekatan ini, gerakan lingkungan menjadi bagian dari identitas kebangsaan, bukan sekadar program sesaat.
Efek domino perubahan dimulai dari keluarga
Para pemerhati menekankan, solusi krisis sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Perubahan paling cepat justru terjadi ketika masyarakat bergerak.
Satu keluarga berubah → tetangga meniru → komunitas bergerak → daerah mengikuti.
Efek domino inilah yang berpotensi mempercepat perbaikan kualitas lingkungan secara nasional.
Kesimpulan: 21 juta ton sampah adalah alarm perubahan
Timbulan lebih dari 21 juta ton sampah per tahun merupakan peringatan serius bagi Indonesia. Tanpa perubahan perilaku, ancaman lingkungan dan kesehatan akan terus membesar.
Membumikan budaya lingkungan dari rumah menjadi langkah paling realistis dan berdampak. Selain menyelamatkan alam, langkah ini juga memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.
Budaya lingkungan bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan mendesak menuju masyarakat Indonesia yang sehat, tangguh, dan berkelanjutan.
**Profil Penulis : Susetya Herawati, Tim Ahli Penggiat Lingkungan Rumah SOPAN
