Bekasi, Trenzindonesia.com | Siapa sangka, dari tumpukan barang bekas yang kerap dianggap tak bernilai, para pemulung justru menggerakkan roda ekonomi bernilai miliaran rupiah. Kini, dengan sentuhan literasi keuangan dan dukungan perbankan, langkah mereka menuju kemandirian ekonomi semakin nyata.
Pemulung dan Potensi Ekonomi yang Terlupakan
Pernyataan itu disampaikan Eddie Karsito, Ketua Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, saat menerima kunjungan dari Bank Mandiri KCP Bekasi Jatibening di Sanggar Humaniora, Jatisampurna, Kota Bekasi.
Menurut Eddie, profesi pemulung selama ini kerap dipandang sebelah mata, padahal memiliki kontribusi nyata terhadap lingkungan dan ekonomi.
“Pemulung, sampah, dan spirit entrepreneur menciptakan transformasi limbah menjadi berkah ekonomi dari level paling bawah,” ujarnya.
Ia menambahkan, rantai bisnis rongsokan yang dikelola para pemulung memiliki nilai transaksi besar, bahkan mencapai miliaran rupiah—sebuah potensi yang selama ini belum sepenuhnya terkelola secara modern.
Kolaborasi Bank dan Komunitas: Jalan Baru Pemberdayaan

Kunjungan tim Bank Mandiri yang terdiri dari jajaran manajemen mikro membuka peluang kerja sama strategis dalam pengembangan kewirausahaan dan pemberdayaan sosial.
Kolaborasi ini tidak sekadar bantuan finansial, melainkan mendorong perubahan sistemik—mulai dari pengelolaan keuangan hingga pola transaksi.
Menggeser Pola Pikir: Dari Bertahan Hidup ke Merencanakan Masa Depan
Salah satu fokus utama program ini adalah edukasi menabung. Upaya ini diharapkan mampu mengubah pola pikir pemulung dari sekadar memenuhi kebutuhan harian menjadi lebih visioner.
“Penting agar mereka tidak terus bergantung pada penghasilan harian yang tidak pasti,” ujar perwakilan Bank Mandiri.
Dengan memiliki rekening bank, para pemulung didorong untuk membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat dan terstruktur.
Menuju Era Transaksi Non-Tunai di Sektor Informal
Yayasan Humaniora kini tengah mengkaji penerapan sistem transaksi non-tunai dalam jual beli barang bekas. Skema ini akan menggantikan metode pembayaran tunai dengan kartu debit atau transfer bank.
Langkah ini diyakini dapat meningkatkan efisiensi, keamanan, serta transparansi dalam rantai bisnis rongsokan. Selain itu, ini juga menjadi pintu masuk inklusi keuangan bagi masyarakat marginal.
Ekonomi Berbasis Kepercayaan dan Solidaritas
Dalam praktiknya, para pemulung telah lama membangun sistem ekonomi berbasis kepercayaan atau social trust. Mereka bekerja secara kolektif dengan norma saling percaya—baik antar pemulung, pemilik lapak, maupun pemodal.
Barang bekas yang mereka kumpulkan kemudian disalurkan ke industri daur ulang, menjadikan sampah sebagai sumber daya bernilai sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan.
Menjangkau yang Rentan: Anak Jalanan hingga Yatim Piatu
Saat ini, Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan membina 257 warga miskin kota, mayoritas pemulung. Tak hanya itu, sebanyak 94 anak juga berada dalam pendampingan—mulai dari pemulung anak, pedagang asongan, hingga pengamen jalanan.
Sebagian dari mereka merupakan anak yatim piatu yang membutuhkan perhatian khusus, tidak hanya secara ekonomi tetapi juga pendidikan dan perlindungan sosial.
Sedekah Barang: Ekonomi Sirkular untuk Kemanusiaan
Selain pemberdayaan ekonomi, yayasan ini juga menggagas program “Sedekah Barang” bekerja sama dengan BAZNAS RI.
Melalui program ini, masyarakat diajak menyumbangkan barang layak pakai untuk dijual kembali. Hasil penjualannya kemudian digunakan untuk kegiatan kemanusiaan.
Konsep ini memperkuat ekonomi sirkular—di mana barang bekas tidak hanya didaur ulang, tetapi juga menjadi sarana berbagi dan membantu sesama.
Harapan: Dari Pinggiran Menuju Pusat Ekonomi Inklusif
Kolaborasi antara dunia perbankan dan komunitas pemulung ini menjadi contoh nyata bagaimana sektor informal dapat diangkat menjadi bagian dari ekonomi modern tanpa kehilangan nilai solidaritasnya.
Dari rongsok menjadi rupiah, dari jalanan menuju sistem keuangan formal—langkah kecil ini berpotensi menjadi gerakan besar menuju ekonomi inklusif yang berkelanjutan.
