Trenz Indonesia
News & Entertainment

Amplop Oh Sumber Borok

240

Oleh: Isson Khairul *

Kemarin, Selasa (07/07/2020), saya Isson Khairul dan sahabat saya Herman Wijaya (Matt Bento), duet di jalanan Jakarta. Kami dari Jakarta Selatan menuju Kandang Ayam di Jakarta Timur. Dalam perjalanan, kami ngobrol tentang Uji Kompetensi Wartawan. Maklum, kami pernah sama-sama menjadi nyamuk pers di negeri ini.

Esoknya, hari ini Rabu (08/07/2020), sekitar 8 jam yang lalu, Matt Bento memosting tulisan SUAP DAN PEMBERIAN di laman Facebook. Intinya, tentang narasumber dan wartawan serta tentang pemberian narasumber kepada wartawan. Acuan yang digunakan Matt Bento adalah Kode Etik Jurnalistik.

Kasus yang dijadikan contoh oleh Matt Bento adalah pemberian narasumber kepada Forum Pemred, forum yang berisi sejumlah Pemimpin Redaksi media massa. Narasumber yang dimaksud adalah pengusaha dan pejabat. Pertanyaan saya, apakah para Pemimpin Redaksi tersebut sudah tidak punya etika?

Dalam konteks Uji Kompetensi Wartawan, rumusan Kode Etik Jurnalistik macam apa yang diujikan kepada mereka? Saya pikir, ketinggian kalau kita bicara tentang independensi wartawan kepada para Pemimpin Redaksi di Forum Pemred tersebut. Sia-sia dan buang waktu.

Okelah, itu di level Pemimpin Redaksi. Kini, mari kita cermati di level asosiasi wartawan, dalam hal ini Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Tahun 2018, Ketua PWI dijabat oleh Margiono. Di acara puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2018, Margiono memberikan sambutan. Margiono meminta kepada masyarakat Sumatera Barat untuk memberikan suaranya, agar Jokowi bisa memimpin selama dua periode.

Itu menjelang berakhirnya periode pertama kekuasaan Presiden Joko Widodo. Jokowi hadir di HPN itu, yang berlangsung pada Jumat (09/02/2018) di kawasan Danau Cimpago, Kota Padang, Sumatera Barat. Saya kembali bertanya, selaku Ketua Persatuan Wartawan Indonesia, apakah Margiono sudah tidak punya etika? Rumusan Kode Etik Jurnalistik macam apa, yang ia pahami?

Oh, ya, sebagai informasi, uji kompetensi wartawan adalah kesepakatan komunitas pers nasional, dan menjadi keputusan Dewan Pers mengenai standar kompetensi wartawan, yang disahkan pada 2 Februari 2010. Dua hari setelah HPN di Padang itu, pada Senin (12/02/2018), Prof. Dr. Bagir Manan mengirim rilis ke sejumlah media. Bagir Manan adalah mantan Ketua Dewan Pers periode 2010- 2013 dan 2013-2016.

Di rilis itu, Bagir Manan menyebut, Margiono tidak memiliki etika, karena terjun ke politik praktis. Kita tahu, Margiono saat itu mencalonkan diri menjadi Bupati Tulungagung, Jawa Timur, tapi tidak melepas jabatannya sebagai Ketua PWI. Menurut Bagir Manan, perilaku Margiono tersebut, mencederai etika independensi wartawan dan menjatuhkan kredibilitasnya.

Dari kasus Forum Pemred di atas, ditambah dengan kasus Margiono, maka secara nyata, publik menyaksikan, betapa sudah runtuhnya profesi wartawan di negeri ini. Pemred, Pemimpin Redaksi adalah pucuk pimpinan di media. Ketua PWI adalah pucuk pimpinan di asosiasi wartawan. Artinya, para pucuk pimpinan wartawan itulah yang telah meruntuhkan kredibilitas profesi ini.

Maka, tidaklah mengherankan, ketika saya memosting tulisan PERS TINGGAL CERITA pada Rabu (10/06/2020) 10.36 WIB di Facebook. Juga, tidak mengherankan pula, hasil survei yang digelar Lembaga Penelitian Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 27 April hingga 5 Mei 2019. Salah satu hasilnya: perusahaan pers menjadi lembaga demokrasi dengan tingkat kepercayaan publik terendah selama Pemilu 2019.

Harap diingat, uji kompetensi itu disahkan sejak 2 Februari 2010. Sudah 10 tahun lalu. Saya ragu, apakah masih relevan kita bertanya, apa ya hasil Uji Kompetensi Wartawan? Saya menduga, maaf bukan menuduh, jangan-jangan Uji Kompetensi Wartawan itu hanya sebatas proyek.

Sebagai penutup, saya ingin mengenang puisi sahabat saya Arief Joko Wic berjudul “Jurnalis” yang kemudian dinyanyikan oleh sahabat saya yang lain, Tommy F. Awuy di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, pada tahun 80-an:

seorang jurnalis yang hidup Senin-Kamis
disodori amplop
oh … inilah sumber borok

Salam dari saya Isson Khairul
Persatuan Penulis Indonesia

( * ) Sumber: https://rb.gy/abd81i

Leave A Reply

Your email address will not be published.