Trenz Indonesia
News & Entertainment

Kisah Geger Sepehi Dan Upaya Trah Hamengkubuwono II Minta Inggris Kembalikan Emas 57.000 Ton Yang Dirampas

383

Jakarta, Trenz Edutainment | Terkait peristiwa perang dengan bala tentara Inggris yang dikenal dengan Perang Sepehi atau Geger Sepehi di tahun 2012 lalu, akhirnya Keturunan dari Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono II (HB II) mendesak pihak Pemerintah Indonesia melalui Presiden Joko Widodo untuk membantu pengembalian aset dan harta benda milik Sultan HB II yang pernah dijarah bala tentara Inggris.

Mengingat sejarah, di tahun 1812 lalu, memang terjadi serbuan ke Kraton Yogyakarta yang dilakukan oleh bala tentara Inggris. Peristiwa tersebut dikenal dengan Perang Sepehi atau Geger Sepehi, demikian penjelasan Fajar Bagoes Poetranto selaku Sekretaris Pengusul Pahlawan Nasional HB II saat dijumpai media di Jakarta, Selasa (21/7/2020).

“Kami mengharapkan harta dan benda bersejarah yang dijarah tentara Inggris pada Perang Sepehi tahun 1812 untuk dikembalikan. Barang-barang tersebut merupakan salah satu bagian dari milik Keraton Yogyakarta di masa Raja Sri Sultan Hamengkubuwono II,” ujar Bagoes.

Bagoes Poetranto menyebutkan harta berharga yang dijarah menurut informasi yang diterimanya adalah soal logam emas sebanyak 57.000 ton. Jadi surat bukti kepemilikan atau kolateral itu yang dirampas. “Kami meminta agar emas tersebut dikembalikan kepada pihak Keraton atau para keturunan dari Sinuwun Sri Sultan Hamengkubuwono II,” tegas Bagoes Poetranto.

Selain emas yang dijarah, Fajar menyebutkan pula ada dokumen penting kerajaan lain yang diangkut. Begitu juga dengan manuskrip-manuskrip yang ditulis Sri Sultan Hamengkubuwono II tentang sastra dan budaya keraton, benda pusaka kraton bahkan perhiasan yang dipakai Sri Sultan Hamengkubuwono II pada saat itu juga ikut dirampas, tambah Bagoes Poetranto.

Bagoes Poetranto juga menjelaskan manuskrip tersebut penting dikembalikan, karena merpakan bukti otentik kesejarahan Ngayogyakarta. Bahkan menurut Bagoes pihak Yayasan Cahaya Nusantara (Yantra) telah siap mendukung dan membantu untuk merawat serta menerjemahkan manuskrip tersebut. Penerjemahan itu perlu dilakukan untuk menambah wawasan dan pengetahuan masyarakat Yogyakarta tentang sejarah masa lampau Sri Sultan Hamengkubuwono II.

“Kami melakukan ini sudah mendapat dukungan dari pihak Keraton Yogyakarta dan para keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono II. Bahkan yayasan Yantra juga siap membantu,” jelas Bagoes Poetranto.

Disamping itu trah keturunan juga menginginkan penulisan sejarah mengenai Perjuangan Sri Sultan Hamengkubuwono dan Perang Sepehi. Hal itu perlu untuk menambah wawasan para generasi saat ini.

Karena itu untuk menambah pemahaman soal perjuangan Sri Sultan Hamengkubuwono dan dalam rangka pengusulan gelar Pahlawan  Nasional, akan diselenggarakan pementasan wayang kulit dengan lakon Perang Sepehi. Pentas wayang akan dibawakan Dalang Ki Catur Benyek Kuncoro.

Dihubungi terpisah, Dalang Ki Catur Benyek Kuncoro menyebutkan pergelaran wayang mengambil format Babad bukan Wayang Purwo. “Babad yang dimainkan adalah Babad Diponegoro. Sumbernya dari Babad Diponegoro yang ditulis Pangeran Diponegoro saat berada di pembuangan,” katanya.

Lalu alasan pilihan Geger Sepehi menurut Ki Catur Benyek karena memang dalam rangka Pengusulan Hamengkubuwono II sebagai Pahlawan Nasional.

“Peristiwa pecahnya Perang atau Geger Sepehi di era Hamengkubuwono II. Dan memang sosok Hamengkubuwono II ini keras. Dia tidak mau tunduk dengan aturan-aturan yang dibuat Belanda. Ketika Belanda kalah perang lalu Daendels ditarik dan kekuasaan dialihkan ke Inggris. Yang datang ke Yogyakarta itu Raflles. Aturan-aturan yang dibuat pun sama dengan Belanda. Hamengkubuwono pun tetap menolak. Memang penekanan lakon Geger Sepehi itu ya sosok kepahlawanan HB II,” tegas Ki Catur.

Lebih lanjut Ki Catur menyebutkan bahwa sosok Hamengkubuwono II memang benar-benar tidak ada kompromi lagi dengan penjajah. “Itu terbukti Hamengkubuwono II pernah diturunkan paksa oleh Belanda dan digantikan putranya menjadi Hamengkubuwono III. Dan akhirnya ketika pecah Perang Sepehi itu, lalu Keraton Ngayogyakarta itu bedah atau kalah,” jelasnya.

Kekalahan itu menurut cerita, karena keraton diserang dari belakang dan banyak prajurit keraton yang mati hingga keraton kalah. HB II ini memang penulis juga. Jadi banyak naskah-naskah yang dirampas oleh pasukan Inggris. Semua barang berharga milik keraton dibawa oleh pasukan itu. Kemudian HB II dibuang ke Penang Malaysia.

Penolakan yang dilakukan oleh HB II karena mempertahankan harkat dan martabat Keraton dan raja Yogyakarta. HB II tidak mau tunduk dengan aturan penjajah yang jika duduk bisa sama tinggi dengan raja.

“Dalam sejarah sosok HB I dan HB II yang dikenal sangat keras yang tidak mau berkompromi dengan penjajah. Merekalah yang mempunyai power untuk tidak menyerah dengan aturan-aturan penjajah,” jelasnya.

Pementasan wayang ini sebagai sebuah gambaran keberanian dari Hamengkubuwono II.”Ini sebagai sebuah keberanian dari sosok HB II yang berujung pada sebuah pengorbanan yang besar. HB II sudah tahu bahwa dirinya dikeroyok. Karena bukan hanya pasukan dari Inggris saja, tapi juga ada beberapa pasukan dari Mangkunegara. Secara logis HB II menyadari kalau terjadi perang pun akan kalah. Baginya bukan persoalan menang kalah, tapi persoalan harga diri seorang Raja. Karena ketika harus tunduk pun rakyat tetap akan sengsara,” katanya.

Dalam pementasan Geger Sepehi nanti juga akan ditampilkan sosok Singobarong atau KRT Sumodiningrat. Sosok tersebut menurut Ki Catur Benyek tidak bisa dilepaskan dari Sri Sultan Hamengkubuwono. Sebagai Panglima Kerajaan, Singobarong sangat loyal terhadap Raja.

Singobarong lah yang menyelamatkan Raja dengan membawanya masuk ke dalam keraton di saat terjadi Perang Sepehi. Singobarong merupakan keturunan dari Arab yang dipercaya untuk menjaga Raja HB II. Singobarong pun gugur saat Perang Sepehi. Tubuhnya pun dicacah oleh pasukan saat itu.

Pementasan ini bicara sejarah jadi biarlah penonton yang mencerna dari lakon itu. Kita tidak perlu ilfeel dengan sejarah leluhur yang kelam. Ambil segi positif dari pementasan ini. (Edi Triyono/Fjr) | Foto: Edi Triyono

Leave A Reply

Your email address will not be published.