Deretan drama China bertema gurun dan Jalur Sutra kembali menarik perhatian penonton serial Asia. KapanLagi.com merangkum lima judul yang mengambil latar padang pasir, kota oasis, hingga rute dagang kuno, mulai dari romansa era Dinasti Han sampai kisah warga membangun desa di tepi Gurun Gobi.
Latar tersebut punya akar sejarah yang kuat. Dunhuang berdiri sebagai kota oasis di pinggir Gurun Taklamakan dan lama dikenal sebagai titik temu jalur dagang, budaya, serta agama. Dalam konteks perfilman, drama bergaya gurun adalah serial yang berlatar padang pasir, kota oasis, atau rute perdagangan kuno antara China dan wilayah barat, dengan cerita yang biasanya dipenuhi petualangan, karavan, dan pertemuan antarbudaya.
Sound of the Desert, Romansa Gadis Gurun
Serial yang tayang di Hunan TV pada 1 Oktober hingga 27 November 2014 ini mengikuti Jin Yu, anak yatim yang dibesarkan kawanan serigala di gurun sebelum diadopsi seorang pria Han yang hidup bersama suku Xiongnu. Gejolak politik merenggut nyawa ayah angkatnya, dan Jin Yu berganti nama menjadi Xin Yue untuk menunaikan wasiat pulang ke Chang’an. Di tengah perjalanan, ia bertemu Mo Xun, pria pendiam yang hidup dengan disabilitas dan bersedia membiayai perjalanan asalkan Xin Yue memandu rombongan pedagangnya keluar dari gurun. Xin Yue juga berjumpa Wei Wuji, jenderal berwatak dingin yang memimpin kemenangan di medan perang.
Liu Shishi memerankan Jin Yu alias Xin Yue, Eddie Peng sebagai Wei Wuji, dan Hu Ge sebagai Mo Xun. Jajaran pendukungnya antara lain Chen Fala, Han Dong, Kristal Tin, Qin Hao, Shi Xiaoqun, Zhang Xiang, Maggie Cheung, Wu Zhuohan, serta Dilraba Dilmurat yang saat itu belum menjadi bintang besar. Sebagian penggemar sebelumnya terbiasa melihat Hu Ge dan Liu Shishi sebagai kakak-adik di layar.
Menurut catatan KapanLagi.com, Hu Ge semula dipilih sebagai pemeran utama pria, tetapi memilih peran utama kedua karena belum pernah memerankan karakter seperti itu. Keputusan tersebut terbayar lewat gelar Most Popular Actor di China TV Drama Awards ke-6 pada tahun yang sama. Serial ini disutradarai Lee Kwok Lap, diproduksi Chinese Entertainment Shanghai, dan diadaptasi dari novel dua jilid Ballad of the Desert (Da Mo Yao) karya Tong Hua yang terbit November 2006 hingga Januari 2007 sebagai bagian dari seri Love in the Han Dynasty. Jumlah episodenya tercatat 35 episode menurut satu sumber dan 36 episode menurut sumber lain.
Strange Tales of Tang Dynasty II: To the West, Misteri di Jalur Barat
Musim kedua serial ini berlatar tahun 712 Masehi pada masa pemerintahan Kaisar Ruizong dari Dinasti Tang. Tim lama kembali berkumpul di Chang’an ketika perebutan kekuasaan antara Li Longji dan Putri Taiping memanas, lalu berangkat ke barat dan menghadapi kasus demi kasus. Kasus pembukanya berpusat pada Qin Xiao Bai, pelukis mural terkemuka Dinasti Tang, yang diminta sang putri melukis “Demon Conquering” di Kuil Chengfo, Chang’an. Premis perjalanan ke barat itu dibaca sebagai penghormatan bagi novel klasik tentang ziarah Tang Sanzang yang menghadapi kekuatan gaib.
Yang Xu Wen memerankan Lu Ling Feng, pejabat cerdas yang memimpin investigasi, dan Yang Zhi Gang sebagai Su Wu Ming, partnernya yang dipanggil putra mahkota untuk kembali ke Chang’an. Pemeran pendukung mencakup Gao Si Wen, Chen Chuang, Sun Xue Ning, Liu Zhi Yang sebagai Putra Mahkota, Yue Li Na sebagai Putri Agung, Li Jin Rong sebagai Perdana Menteri Cui, Wang Li, dan Zhang Da Bao. Episode pertamanya tayang pada 18 Juli 2024 dengan total 40 episode, setelah musim pertama tayang pada 2022 sebanyak 36 episode. Lanjutannya, Strange Tales of Tang Dynasty 3: To Changan, dirilis pada 2025 dengan 40 episode.
Dilansir dari MyDramaList, serial bergenre historis, misteri, dan supernatural ini memperoleh skor 8.5 dari 1.229 pengguna. Setiap kasus memiliki latar sendiri, salah satunya penginapan terpencil di tengah badai salju tempat banyak sheriff berkumpul. Menurut ulasan penonton, porsi romansa minim karena fokus utama berada pada kisah aneh dan pemecahan kasus. Naskahnya orisinal namun terinspirasi novel klasik Journey to the West, dengan Wang Xiao Yan sebagai produser, Wang Xiao Hui, Yang Bei, dan Xue Xin sebagai produser eksekutif, Gong Yu dan Yue Li Na sebagai presenter, serta Chen Xin sebagai art director.
Love in the Desert dan Aksi di Tengah Lautan Pasir
Berjudul asli Mo Feng Yin, drama rilisan 2024 ini menempatkan hampir seluruh konfliknya di tengah lautan pasir. Di sebuah gurun, tiga kota saling menjaga keseimbangan kekuasaan. Putri Huang Beishuang, yang berasal dari suku hampir punah dan bertekad membalas kematian orang tuanya, terlibat dengan tiga pria berpengaruh: Rowan, bandit terkenal yang dingin; Huo Xin alias Kane, penjaga gurun yang misterius; dan Na Zhan, penguasa yang kejam. Manipulasi perlahan berubah menjadi pertarungan cinta dan benci yang diwarnai intrik politik serta pertukaran identitas.
Fang Yilun, Hani Kyzy, Cong Yu, dan Guan Chang tercatat sebagai pemeran, meski pembagian perannya belum terperinci di sumber. Drama bergenre martial arts, sejarah, dan romansa ini disebut menarik perhatian lewat latar gurunnya. Menurut pengamatan redaksi KapanLagi.com, ada penonton yang mengaku sudah menontonnya empat kali karena latar gurun dan kualitas produksinya.
Minning Town, Ketika Gurun Diubah Jadi Tempat Hidup
Tidak semua drama bertema gurun berlatar masa lalu. Minning Town yang tayang pada 2021 mengisahkan warga Ningxia yang pindah dan membangun permukiman dari nol. Melalui program pengentasan kemiskinan, warga desa miskin di Xihaigu dipindahkan ke kawasan baru di tepi Gurun Gobi. Tanah kering, angin berpasir, dan keraguan warga menjadi tantangan sehari-hari, sementara para kader desa harus meyakinkan mereka bahwa hidup baru bisa tumbuh di tanah tandus. Huang Xuan memerankan Ma De Fu, kader akar rumput yang memperjuangkan warga.
Serial bergenre life dan drama ini disutradarai Kong Sheng bersama Sun Mo Long; Kong Sheng juga dikenal sebagai sutradara Nirvana in Fire. Kisahnya terinspirasi program relokasi warga di Ningxia yang nyata. Berdasarkan yang dihimpun redaksi KapanLagi.com, pengambilan gambar dilakukan di lokasi asli di barat laut China selama 90 hari sehingga pemandangan gurunnya otentik.
Silk Road Mystery City, Intrik Kerajaan di Kota Oasis
Judul terakhir menutup daftar dengan petualangan, intrik kerajaan, dan dunia persilatan. Ceritanya berlatar pertengahan Dinasti Tang, saat penguasa perempuan seperti Wu Zetian dan Putri Taiping memegang kendali. Kota Jiuquan di Gurun Gobi, Koridor Hexi, menjadi oasis di tengah alam liar dan setelah Jalur Sutra berkembang berubah menjadi persinggahan wajib para pedagang dan pengelana. Hua Sijin menyamar sebagai penghibur untuk menyelidiki rahasia, sementara Jin Yi bermanuver sebagai pedagang sutra. Huang Wenyong, Xiang Yun, dan Li Wenhai tercatat sebagai pemeran, dengan tokoh lain seperti Shangguan Qingyun dan Zi Yan yang cinta dan bencinya saling terkait karena misi masing-masing.
Serial bergenre drama, sejarah, fantasi, petualangan, dan kostum ini bukan produksi daratan China. Drama ini dibuat di Singapura, ditayangkan dalam bahasa Mandarin, dengan Situ Liguang sebagai produser dan MediaCorp sebagai rumah produksi. Tanggal tayang serta jumlah episode dan durasinya belum tercantum di sumber.
Daya Tarik Latar Gurun dan Jalur Sutra
Tema Jalur Sutra juga lama hidup di panggung seni China. Pada 1979, pejabat Provinsi Gansu memesan sendratari Rain of Flowers along the Silk Road yang merayakan persahabatan rakyat China dengan bangsa lain di era Dinasti Tang. Ada pula Tales of the Silk Road yang telah berkeliling China dan lebih dari 10 negara dengan lebih dari 1.300 pertunjukan.
- Kota oasis seperti Dunhuang dan Jiuquan sering menjadi pusat konflik karena mempertemukan pedagang, pengelana, dan mata-mata.
- Karavan dan pedagang sutra memberi alasan alami bagi tokoh untuk bertemu, seperti Mo Xun dalam Sound of the Desert.
- Interaksi suku Xiongnu dan bangsa Han memperkaya konflik identitas para tokoh.
- Lukisan kuil, iblis, dan kisah ziarah ke barat membuat nuansa misteri terasa magis.
- Badai pasir dan panas ekstrem menguji karakter dan menunjukkan siapa tokoh sebenarnya.
- Busana ala Asia Tengah, perhiasan, dan lanskap luas menjadi daya tarik visual.
Dinasti Han dan Tang kerap dijadikan latar karena keduanya identik dengan hubungan ke wilayah barat dan perdagangan Jalur Sutra, sehingga konflik serta pertemuan budayanya dinilai kaya bahan cerita. Bagi pemula, Sound of the Desert disebut paling mudah diikuti dengan cinta segitiga yang kuat, sementara Strange Tales of Tang Dynasty II: To the West menjadi pilihan bagi pencari teka-teki.
Sejumlah judul dalam daftar ini tersedia di platform streaming legal. KapanLagi.com menyarankan penonton memeriksa ketersediaan subtitle Bahasa Indonesia sebelum mulai menonton secara maraton.
