Wabah dalam sejumlah film dan series tidak selalu menyebar melalui udara, sentuhan, atau gigitan. KapanLagi.com merangkum lima judul yang mengangkat penularan melalui suara, kata-kata, siaran radio, dan sinyal elektronik, Jumat (30/10). Premis ini mengubah alat komunikasi sehari-hari menjadi ancaman mematikan.
Pontypool: kata-kata yang dipahami
Film Pontypool (2008) mengisahkan wabah misterius di kota kecil Pontypool, Ontario, Kanada. Grant Mazzy, seorang penyiar radio, mulai menerima laporan tentang kerusuhan dan sejumlah peristiwa mengerikan di sekitar kota tempatnya bekerja. Situasi makin tidak terkendali setelah pemerintah mengumumkan karantina di wilayah tersebut.
Bersama asisten teknis Laurel-Ann Drummond dan manajer stasiun Sydney Briar, Grant berupaya memahami penyebab wabah. Seorang dokter bernama Mendez kemudian menyatakan teori bahwa virus telah masuk ke dalam bahasa dan menyebar melalui kata tertentu yang diucapkan dan dipahami orang lain. Bahasa yang semestinya menjadi alat komunikasi pun berubah menjadi sumber penularan.
T Is for Talk Radio: kebencian dari siaran
Film horor pendek asal Australia, T Is for Talk Radio, menghadirkan wabah melalui kata-kata kebencian dari sebuah siaran radio. Ceritanya berpusat pada Joan, seorang ibu rumah tangga yang terinfeksi virus mematikan setelah mendengar perkataan penuh kebencian dari seorang penyiar radio.
Infeksi tersebut membuat Joan mengalami perubahan perilaku yang mengarah pada tindakan kekerasan. Film ini menyoroti bagaimana perkataan bernada kebencian yang disebarkan melalui media dapat memengaruhi seseorang dan menimbulkan dampak buruk bagi orang-orang di sekitarnya.
Cell dan The Signal: ancaman dari sinyal
Cell mengisahkan kekacauan besar setelah sinyal misterius menyebar melalui jaringan telepon seluler di seluruh dunia. Sinyal itu memengaruhi orang-orang yang sedang menggunakan ponsel hingga berubah menjadi sosok brutal yang menyerang siapa saja di sekitarnya. Fenomena tersebut memicu kepanikan dan kehancuran di berbagai tempat.
Cerita mengikuti Clayton “Clay” Riddell, seorang seniman yang berusaha memperbaiki hubungan dengan istri dan anaknya. Clay selamat karena tidak sedang menggunakan ponsel saat sinyal menyebar. Ia kemudian bertemu Tom McCourt dan beberapa penyintas lain untuk bertahan hidup sekaligus mencari cara menghadapi para korban yang telah terinfeksi.
Sementara itu, The Signal menampilkan transmisi misterius yang menyebar melalui berbagai perangkat elektronik, termasuk telepon seluler, radio, dan televisi. Sinyal tersebut memengaruhi pikiran orang-orang yang terpapar hingga memicu kekacauan psikologis dan perilaku kekerasan. Mereka yang terkena dampak terdorong untuk membunuh atau berusaha menyelamatkan diri dari ancaman orang lain.
Film ini dibagi menjadi tiga bagian atau transmisi yang diceritakan dari sudut pandang berbeda. Setiap bagian memperlihatkan dampak wabah terhadap kehidupan masyarakat, termasuk hubungan antarmanusia yang sebelumnya dipenuhi rahasia, kecemburuan, dan pengkhianatan. Seiring meluasnya pengaruh sinyal, situasi semakin brutal dan sulit dikendalikan.
Hot Skull: wabah lewat komunikasi verbal
Series Turki Hot Skull (2022) mengangkat wabah misterius di tengah masyarakat distopia. Penyakit tersebut menyebar melalui komunikasi verbal dan menyebabkan orang yang terinfeksi mengalami gangguan hingga kehilangan kendali atas dirinya.
Cerita berpusat pada Murat Siyavus, seorang mantan ahli bahasa yang memiliki kekebalan terhadap penyakit tersebut. Keberadaannya menarik perhatian Anti-Epidemic Institution, lembaga yang memburu orang-orang terkait wabah. Murat terpaksa meninggalkan tempat persembunyiannya dan menghadapi bahaya di tengah kota Istanbul yang dilanda kekacauan.
