Kumpulan 50 kata-kata cinta Islami yang menyentuh hati wanita disusun bukan dari rayuan kosong, melainkan dari sumber yang bisa dilacak. Rujukannya mencakup ulama klasik Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, kisah cinta Rasulullah dan Khadijah binti Khuwailid, ayat Al-Qur’an, hadis, kutipan internasional, hingga ucapan orisinal yang ditulis khusus oleh redaksi KapanLagi.com.
Menurut Jurnal Risalah karya Rachma Fani dkk. (2012), kutipan Islami yang bersumber dari Al-Qur’an, hadis, maupun ceramah berfungsi sebagai motivasi spiritual. Kalimat yang tepat disebut bisa menenangkan, menguatkan, sekaligus mengingatkan.
Dari Ibnu Qayyim al-Jauziyyah
Delapan kutipan dalam daftar ini berasal dari ulama dan penulis abad ke-14 tersebut. Salah satunya berbunyi, “Cinta kepada Allah adalah kekuatan hati, makanan hati, dan cahaya hati.” Ibnu Qayyim juga mengumpamakan hati yang dalam perjalanan menuju Allah ibarat burung: cinta adalah kepalanya, sedangkan rasa takut dan harap adalah kedua sayapnya.
Ia menyebut setiap cinta yang menjauhkan dari cinta-Nya sejatinya adalah hukuman, dan hanya cinta yang membawa kepada cinta-Nya yang merupakan cinta tulus dan murni. Dalam kutipan lain, ia menyatakan di dalam hati ada kekosongan yang tidak bisa diisi kecuali dengan cinta kepada-Nya, mengingat-Nya terus-menerus, dan ikhlas kepada-Nya, sekalipun seseorang diberi seluruh dunia.
Ada pula peringatan bahwa jika hati bergantung pada sesuatu selain Allah, Allah akan membuatnya bergantung pada hal itu dan ia akan dikhianati olehnya. Ibnu Qayyim juga menyebut cinta adalah mata air yang tidak pernah kering, yang kemurnian dan manisnya bertambah ketika ia karena Allah dan di jalan Allah.
Kisah cinta Rasulullah dan Khadijah
Kisah Rasulullah dan Khadijah disebut sulit dikalahkan sebagai teladan cinta yang menyentuh hati wanita, karena menunjukkan bahwa kasih sayang dalam Islam boleh ditunjukkan dengan hangat bahkan bertahun-tahun setelah pasangan wafat. Saat Aisyah cemburu karena beliau terus mengenang Khadijah, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya aku telah dianugerahi rasa cinta kepadanya.”
Dalam riwayat lain, beliau mengenang istrinya itu dengan kalimat, “Ia beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkariku, ia memercayaiku ketika orang-orang mendustakanku, ia membantuku dengan hartanya ketika orang-orang menolak membantuku.” Dari sisi Khadijah, saat Rasulullah pulang gemetar setelah menerima wahyu pertama, ia menenangkan suaminya dengan ucapan, “Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu.” Daftar ini juga memuat pesan pendek Rasulullah, “Perlakukanlah wanita dengan baik.”
Dari Al-Qur’an dan hadis
Ayat yang paling sering dikutip adalah QS Ar-Rum: 21 tentang pasangan yang diciptakan agar manusia merasa tenteram, dengan rasa kasih dan sayang di antaranya. Dari ayat inilah lahir istilah sakinah, mawaddah, wa rahmah yang akrab di undangan pernikahan. Ada pula QS Al-Baqarah: 187 yang mengumpamakan suami dan istri sebagai pakaian bagi satu sama lain.
Dua hadis melengkapinya. Riwayat Tirmidzi menyebut orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan paling lembut kepada istrinya. Riwayat Muslim mengingatkan agar seorang mukmin tidak membenci mukminah: jika tidak menyukai satu perangai darinya, ia akan ridha dengan perangai lainnya.
Ungkapan romantis dari khazanah internasional
Bagian ini memuat kutipan berbahasa Inggris yang jarang diterjemahkan, antara lain “Cinta seorang suami seharusnya membuat istrinya merasa aman, bukan merasa kecil” dan “Pasanganmu bukan lawanmu. Pasanganmu adalah amanahmu.” Ada juga nasihat agar suami tidak pelit mengungkapkan cinta kepada istri, pujian yang menyandingkan istri dengan cahaya Maryam dan kehangatan Khadijah, serta kalimat pendek, “Aku tidak sekadar menikahi seorang wanita. Aku menikahi ketenanganku.”
Dua kutipan singkat lain menyebut cinta halal sebagai rahmat ketika ia mendekatkan dua hati kepada Allah, dan bahwa kisah cinta terbaik adalah yang berlanjut di surga.
Ucapan orisinal untuk istri
Redaksi KapanLagi.com menulis sejumlah ucapan khusus, mulai dari yang hangat sampai jenaka. Salah satunya, “Aku pulang membawa lelah, kamu menyambut dengan teh hangat dan doa yang tidak pernah kamu ucapkan keras-keras. Di situ aku paham, sakinah bukan cuma kata di kitab. Ia punya alamat, dan alamatnya di sebelahku.”
Ada pula ucapan untuk istri yang lelah, misalnya ajakan mengambil alih cucian piring malam itu, dan pengingat bahwa Allah tidak menghitung jumlah cucian yang selesai, melainkan melihat niat di balik setiap lipatannya.
Untuk calon pendamping dan yang menuju halal
Untuk hubungan yang belum halal, fokus kalimatnya bukan merayu, melainkan meyakinkan bahwa niatnya serius dan terarah ke pernikahan. Penulis dan dai Salim A. Fillah dikutip saying, “Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan, atau mempersilakan. Yang pertama adalah keberanian, yang kedua adalah pengorbanan.”
Dari buku Through His Eyes diambil kalimat “Ia tidak mencari harta, kecantikan, atau puisi. Ia ingin dipahami, dihormati, dan dicintai,” serta “Nikahilah jiwa yang ingin kamu bawa ke surga.” Ada juga kutipan tentang jarak yang terasa indah bila menunggu Allah mempertemukan dengan cara yang benar, dan bahwa hanya orang kuat yang mampu menjaga cinta tetap halal.
Satu kutipan, “Jatuh cinta adalah penyakit, dan obatnya adalah menikahi orang yang dicintai,” beredar luas atas nama Ibnu Qayyim, meski redaksi menyatakan belum menemukan rujukan kitabnya secara pasti. Ucapan orisinal di bagian ini memakai perumpamaan cinta seperti benih padi yang ditanam di musim tepat dan tidak dipanen sebelum waktunya.
Penguat hati yang sedang retak
Untuk sahabat perempuan yang patah hati, daftar ini memuat empat kutipan Ibnu Qayyim yang jarang dibahas. Salah satunya, “Jika kepedihan dunia ini membuatmu lelah, jangan bersedih. Bisa jadi Allah ingin mendengar suaramu lewat doa. Maka curahkanlah keinginanmu dalam sujud, lalu lupakanlah, dan ketahuilah bahwa Allah tidak melupakannya.”
Kutipan lain menyebut hati akan tenang jika bersandar kepada Allah dan gelisah jika bersandar kepada manusia, rindu kepada Allah diumpamakan angin sepoi yang memadamkan kobaran api dunia, dan nasihat untuk menjadi pribadi yang dikehendaki Allah agar Dia memberi lebih dari yang diharapkan. Tiga ucapan orisinal melengkapinya, salah satunya membandingkan air mata dengan hujan yang tidak pernah meminta maaf karena membasahi bumi.
Captions siap pakai
Untuk caption media sosial, disiapkan kalimat ringkas seperti “Halal itu bukan batas. Ia pagar yang menjaga bunga tetap mekar.” Ada juga “Mencintaimu adalah caraku menggenapkan separuh agama, bukan separuh waktu,” serta harapan agar nama dua orang sudah bersebelahan di Lauhul Mahfuz dan tinggal menunggu tanggal tertulis di buku nikah.
Satu caption ditulis dalam bahasa Jawa: “Gusti Allah sing maringi sedaya, kalebu kowe. Mula ayo urip tulung-tinulung, nganti suwarga dadi omah kita sing pungkasan.” Daftar ditutup dengan kalimat bahwa seseorang tidak perlu sempurna untuk dicintai, cukup terus belajar mencintai Allah.
Tiga fakta di balik kutipan
Fakta pertama, Rasulullah terus memuliakan sahabat-sahabat Khadijah setelah istrinya wafat. Mengutip IslamOnline, Aisyah pernah berkata tidak pernah merasa cemburu kepada istri-istri Rasulullah kecuali kepada Khadijah, dan menceritakan bahwa setiap kali Rasulullah menyembelih kambing, beliau memerintahkan dagingnya dikirim kepada sahabat-sahabat Khadijah.
Fakta kedua, Ibnu Qayyim menulis kitab khusus tentang sabar dan syukur. Dikutip dari Goodreads, salah satu kalimatnya menyebut Allah menjadikan kesabaran sebagai jalan meraih cinta, kebersamaan, pertolongan, dan pahala-Nya.
Fakta ketiga, dukungan Khadijah disebut sebagai sumber kekuatan Rasulullah di awal dakwah, sehingga peran wanita dalam cinta tidak pernah pasif.
Cara memakai
Redaksi memberikan sejumlah panduan: kenali status hubungan sebelum memilih kalimat, sesuaikan dengan suasana hati penerima, dan pilih panjang kalimat yang pas dengan medianya. Sumber sebaiknya disebutkan saat mengutip agar pesan lebih berbobot, dan kata-kata perlu dibuktikan dengan tindakan yang konsisten.
Untuk menghibur, disarankan mengirim satu kalimat saja lalu menawarkan diri untuk mendengar, karena terlalu banyak kalimat bijak bisa terasa menggurui. Jika ragu, tambahkan doa di akhir pesan, misalnya “Semoga Allah menjagamu,” karena kalimat doa disebut hampir selalu diterima dengan hangat.
