KapanLagi.com menghimpun 60 kutipan atau quotes tentang istirahat sejenak, mulai dari filsuf Romawi Seneca, psikolog Joyce Brothers, komedian Lily Tomlin, pelatih CrossFit Ben Bergeron, pepatah Nusantara, sampai 19 kalimat orisinal yang ditulis khusus untuk artikel tersebut. Tiap kutipan diberi konteks singkat agar pembaca tahu kapan kalimat itu paling pas dipakai, misalnya sebagai caption media sosial atau pengingat di tengah pekerjaan. Koleksi itu ditujukan bagi pembaca yang hari-harinya penuh tab browser terbuka, notifikasi yang tak berhenti, dan kepala yang mulai berat.
Dari filsuf Stoa sampai tokoh hiburan
Bagian awal artikel menegaskan bahwa gagasan soal jeda bukan hal baru. Seneca, filsuf Stoa Romawi, disebut menyatakan bahwa pikiran harus diberi waktu santai. “Pikiran harus diberi waktu santai. Ia akan bangkit lebih baik dan lebih tajam setelah beristirahat dengan baik,” demikian kutipan yang dimuat KapanLagi.com. Artikel itu mencatat, merujuk Daily Stoic dan Goodreads, kalimat tersebut berasal dari Seneca, On Tranquility of Mind, 17.5, dan termuat dalam buku The Daily Stoic: 366 Meditations on Wisdom, Perseverance, and the Art of Living. Seneca juga membandingkan pikiran dengan ladang yang tidak boleh dipaksa terus-menerus digarap.
Dari khazanah Yunani-Romawi, Ovid mengibaratkan istirahat seperti ladang yang setelah diistirahatkan memberi panen melimpah, Aristoteles menyebut tujuan bekerja adalah memperoleh waktu luang, dan Plutarch menyamakan istirahat dengan saus manis yang melengkapi kerja keras. Benjamin Franklin, yang dikenal sangat produktif, justru menilai orang yang mampu beristirahat lebih hebat daripada orang yang mampu menaklukkan kota, dan mengajak orang meluangkan waktu untuk segala hal. Mahatma Gandhi mengingatkan bahwa hidup lebih dari sekadar menambah kecepatannya, sementara Mark Twain berkelakar bahwa rajin itu baik tetapi bersantai jauh lebih menenangkan. Khalil Gibran meminta orang beristirahat dalam akal dan bergerak dalam gairah, dan Guillaume Apollinaire menyarankan sesekali berhenti mengejar kebahagiaan untuk sekadar berbahagia.
Sisi praktis datang dari Joyce Brothers, psikolog Amerika. Menurut dia, sebesar apa pun tekanan di tempat kerja, menemukan cara untuk bersantai setidaknya lima menit setiap jam akan membuat seseorang lebih produktif. Saran itu, tulis KapanLagi.com, sejalan dengan riset tentang micro-break yang dibahas di bagian lain artikel. Sejumlah tokoh kesehatan mental dan spiritual juga dimuat, antara lain Sri Sri Ravi Shankar yang berbicara soal keseimbangan antara istirahat dan aktivitas, Deepak Chopra yang menyebut istirahat sebagai percakapan antara manusia dan tubuhnya, Maharishi Mahesh Yogi yang memasukkan istirahat sebagai bagian dari disiplin diri, serta Dalai Lama ke-14 yang menyatakan pikiran tenang membuat orang rileks, memperbaiki kesehatan, dan menciptakan keluarga serta masyarakat yang lebih bahagia.
Dari dunia hiburan dan olahraga, Lily Tomlin menyarankan agar orang yang ingin cepat lega mencoba melambat. Penyanyi Ashlee Simpson menyebut waktu untuk diri sendiri sebagai kebutuhan, terutama di industri yang menuntut, sementara presenter televisi Inggris Kirsty Gallacher mengakui sulitnya mencari waktu bersantai sebagai ibu yang bekerja. Pelatih CrossFit Ben Bergeron menegaskan istirahat harus benar-benar melepas penat, bukan sekadar berhenti sambil memegang ponsel.
Pepatah Nusantara dan kalimat orisinal
Artikel itu juga membaca ulang dua pepatah lokal dengan kacamata istirahat. “Alon-alon asal kelakon” dan “Biar lambat asal selamat” dipahami bukan sebagai ajakan bermalas-malasan, melainkan pengingat agar orang menjaga ritme yang bisa bertahan daripada ngebut lalu tumbang. Dalam konteks kerja, “selamat” dapat berarti terhindar dari kelelahan berat atau burnout.
Sebanyak 19 kalimat orisinal melengkapi koleksi, dari yang singkat hingga bernuansa Islami dan Jawa halus. Salah satunya berbunyi, “Jeda itu bukan titik. Ia koma, supaya kalimat hidupmu tetap enak dibaca.” Ada pula “Baterai tiga persen tidak butuh dimarahi. Ia butuh dicolok.” serta versi jenaka soal laptop yang perlu restart ketika kebanyakan tab terbuka. Kalimat lain mengingatkan bahwa jeda dalam shalat, termasuk duduk di antara dua sujud, menunjukkan berhenti sejenak bisa menjadi bagian dari ibadah. Dua kalimat berbahasa Jawa ditutup dengan pesan agar orang memberi waktu istirahat sebelum lelah berubah menjadi sakit.
Artikel itu juga menyebut film Istirahatlah Kata-Kata (2016) yang mengangkat kisah penyair dan aktivis Wiji Thukul, judulnya diambil dari puisi sang penyair, dan membawa namanya ke festival film internasional.
Apa kata riset soal micro-break
KapanLagi.com mengutip EurekAlert soal tinjauan terhadap 22 studi yang telah dipublikasikan. Hasilnya, micro-break atau menghentikan tugas selama 10 menit atau kurang umumnya berkaitan dengan kelelahan yang lebih rendah dan energi yang lebih tinggi. Tinjauan itu disusun Patricia Albulescu dari West University of Timisoara, Rumania, bersama koleganya, dan terbit di jurnal PLOS ONE pada 31 Agustus 2022.
Seperti dilaporkan TIME, tinjauan yang mencakup 2.335 partisipan itu menunjukkan orang yang mengambil micro-break memiliki peluang sekitar 60 persen lebih besar untuk merasa berenergi. Artikel itu mencantumkan catatan agar pembaca tidak salah paham. Mengacu pada meta-analisis yang dimuat di PMC (NCBI), micro-break memberi efek yang signifikan secara statistik tetapi kecil dalam meningkatkan energi dan menurunkan kelelahan, sedangkan efeknya terhadap kinerja secara keseluruhan tidak signifikan. Namun, meta-regresi menunjukkan semakin panjang jeda, semakin besar peningkatan kinerja. Artinya, jeda singkat berguna menjaga suasana hati dan energi, tetapi pekerjaan yang berat secara mental tetap memerlukan istirahat lebih panjang.
Langkah praktis lima menit
Artikel itu menawarkan urutan penerapan micro-break dengan bantuan kutipan, yang menurut penulisnya bisa berfungsi sebagai alarm yang lebih manusiawi daripada bunyi notifikasi:
- Pilih tiga kutipan favorit, misalnya satu kalimat singkat, satu kalimat reflektif, dan satu kalimat jenaka.
- Pasang sebagai pengingat di ponsel atau kalender setiap 60 sampai 90 menit kerja, dengan kutipan ditulis langsung di judul pengingat.
- Saat pengingat muncul, jauhkan mata dari layar, berdiri, regangkan bahu, atau isi ulang botol minum.
- Tarik napas pelan beberapa kali sambil membaca ulang kutipan sampai merasa lebih rileks.
- Hindari mengisi jeda dengan menggulir media sosial tanpa henti agar otak mendapat ruang kosong.
- Kembali bekerja dengan satu tugas spesifik, bukan langsung membuka semua tab.
Artikel itu menyarankan rotasi kutipan setiap minggu agar pengingatnya tidak terasa seperti angin lalu, dan mengirimkan kalimat bernuansa doa sebagai ucapan selamat malam kepada keluarga atau orang tua. KapanLagi.com juga menegaskan micro-break membantu mengurangi kelelahan harian, tetapi bukan obat untuk burnout yang sudah kronis. Bila rasa lelah tidak hilang meski sudah beristirahat, hal itu disebut sebagai sinyal untuk membicarakan beban kerja atau berkonsultasi dengan tenaga profesional.
