KapanLagi.com menghimpun 53 kata bijak tentang menikmati hidup yang berasal dari filsuf klasik, bintang Hollywood, atlet Olimpiade, tokoh Nusantara, hingga pepatah Jawa. Rangkaian kutipan itu juga dilengkapi kata-kata orisinal redaksi yang dibagi menjadi dua kelompok: versi pendek untuk caption media sosial dan versi panjang untuk renungan pribadi.
Penghimpunan ini berangkat dari tren yang tumbuh di media sosial, seperti slow living, solo date, dan ajakan romanticize your life. Menurut artikel tersebut, tren itu menunjukkan banyak orang sedang belajar hal yang sama, yakni hidup tidak selalu harus dikejar dan kadang cukup dirasakan. Salah satu kata orisinal redaksi berbunyi, “Pelan bukan berarti tertinggal. Pelan berarti sempat melihat.”
Dari Marcus Aurelius sampai Rumi
Bagian awal daftar itu membawa pembaca ke warisan filsafat klasik. Marcus Aurelius, Kaisar Romawi sekaligus filsuf Stoa, dikutip dua kali: pertama tentang pagi hari sebagai kesempatan berharga untuk bernapas, berpikir, menikmati, dan mencintai; kedua tentang merenungkan keindahan hidup sambil memandangi bintang-bintang. Voltaire menekankan bahwa jalan paling aman adalah tidak melakukan apa pun yang melawan hati nurani, sebab dengan begitu orang bisa menikmati hidup tanpa takut mati. Adapun Rumi, penyair sufi Persia abad ke-13, mengajak berhenti menunggu dan mulai merasakan hidup secara langsung.
Sejumlah penulis dan motivator masuk dalam daftar yang sama. Eleanor Roosevelt menulis dalam buku You Learn by Living (1960) bahwa tujuan hidup adalah menjalaninya dan mengecap pengalaman sepenuh-penuhnya; kalimat itu dikutip dari halaman 12 buku tersebut. Hans Christian Andersen mengingatkan masih banyak waktu untuk mati sehingga hidup sebaiknya dinikmati, sementara William Feather menyebut tak ada orang yang gagal selama ia menikmati hidup dan menyarankan hidup dipandang sebagai petualangan. Og Mandino memakai metafora parfum: kebahagiaan yang disemprotkan ke orang lain ikut mengenai diri sendiri. Earl Nightingale mengajak belajar menikmati setiap menit dan berbahagia sekarang, sedangkan Melody Beattie mendorong pembaca melepaskan kendali dan menikmati perjalanan.
Dari panggung hiburan hingga arena olahraga
Di dunia hiburan, kutipan yang paling dikenal adalah kalimat Ferris Bueller, tokoh dalam film besutan John Hughes, tentang hidup yang bergerak cepat sehingga orang perlu berhenti dan menoleh sekeliling sekali waktu. John Lennon disebut membela waktu bersantai sebagai waktu yang tidak terbuang. Aktor dan sutradara Inggris Kenneth Branagh mengajak lebih banyak tersenyum dan tertawa serta tidak terlalu tegang, sedangkan komedian Joan Rivers — dalam wawancara program Fresh Air bersama Terry Gross pada 11 Juni 2012 yang dikutip AZQuotes — menyatakan menikmati hidup justru saat banyak hal terjadi, baik maupun buruk, karena itu tanda seseorang masih hidup.
Ricky Gervais merangkum resep hidup bahagia dalam rangkaian kalimat pendek, Fala Chen menilai panggung terbaik tidak ditentukan tempat melainkan hati yang siap menikmati, dan Tyler Perry menyarankan orang lain mencoba menikmati hidupnya sendiri. Vokalis My Chemical Romance, Gerard Way, mengingatkan agar hidup pantas ditonton saat kelak terlintas di depan mata, sementara Jimmy Buffett memilih melaju cukup cepat untuk sampai namun cukup pelan untuk bisa melihat.
Dari arena olahraga, Lindsey Vonn, atlet ski alpin peraih medali emas Olimpiade, menyebut rasa takut membuat orang tak pernah bisa menikmati hidup karena kesempatan hanya sekali. Perenang Paralimpiade Ellie Simmonds menegaskan menikmati hidup dan mengejar mimpi bisa berjalan beriringan. Petarung MMA Urijah Faber menawarkan formula empat langkah, yaitu bermimpi besar, tetap positif, bekerja keras, dan menikmati perjalanan, sedangkan legenda bisbol Yogi Berra menggambarkan masa setelah pensiun dengan bermain golf, bersantai, dan menikmati hidup.
Istilah burnout dan quiet quitting yang sempat ramai membuat sejumlah kutipan ditempatkan dalam konteks dunia kerja. Eddie Cantor mengingatkan bahwa melaju terlalu cepat tak hanya membuat pemandangan terlewat, tetapi juga arah dan alasan perjalanan. Teri Garr menawarkan tiga langkah: mundur selangkah, menilai lagi apa yang penting, dan menikmati hidup. Fotografer Prancis Marc Riboud menyebut memotret sebagai cara menikmati hidup secara intens setiap seperseratus detik, sementara esais Inggris Charles Lamb mengakui teorinya menikmati hidup sering bertentangan dengan praktiknya. Redaksi KapanLagi.com menambahkan kata orisinal untuk pekerja, antara lain “Notifikasi bisa menunggu lima menit. Senja di balik kaca kantor tidak.”
Pelajaran dari Gus Dur dan pepatah Jawa
Indonesia punya warisan filosofi hidup yang tidak kalah dalam, mulai dari ucapan tokoh bangsa sampai pepatah Jawa. Ungkapan “Gitu aja kok repot” milik KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden ke-4 Republik Indonesia, termasuk yang paling sering dikutip. Merujuk NU Online Jatim, Nyai Sinta Nuriyah Wahid menjelaskan bahwa kalimat itu sebenarnya bentuk kepasrahan kepada Allah SWT, bukan sikap menyepelekan masalah. “Makanya enak betul Gus Dur hidupnya, melihat semuanya serba ringan,” kata Sinta Nuriyah seperti dikutip dalam artikel tersebut.
Tiga pepatah Jawa ikut melengkapi daftar. “Urip iku urup” dimaknai sebagai hidup yang menyala, yaitu hidup yang memberi terang dan manfaat bagi sekitar. “Alon-alon waton kelakon” mengajarkan pelan-pelan asal terlaksana, jauh sebelum istilah slow living viral. Adapun “Nrimo ing pandum” berarti menerima apa yang sudah menjadi bagian kita, bukan pasrah tanpa usaha, melainkan berdamai dengan hasil setelah berikhtiar. Redaksi juga menulis kata orisinal berbahasa Jawa, salah satunya “Gusti sampun maringi napas saben enjing. Mosok kita isih sibuk ngetung sing durung ana?” yang berarti Tuhan sudah memberi napas setiap pagi, masa kita masih sibuk menghitung yang belum ada.
Ilmu di balik kebiasaan menikmati momen
Psikologi positif memiliki istilah untuk kebiasaan menikmati momen, yaitu savoring. Mengacu pada PositivePsychology.com, savoring bukan sekadar soal kesenangan, melainkan soal menyadari pengalaman yang menyenangkan dan menghargai emosi positif yang muncul darinya. Kebiasaan ini dibagi menjadi tiga jenis: savoring masa lalu atau reminiscence, savoring masa kini, dan savoring masa depan atau anticipation.
Dari ketiganya, menikmati saat ini tampaknya memberi efek paling terasa. Merujuk riset yang dipublikasikan di PubMed Central, peserta yang diminta menikmati momen saat itu melaporkan skor emosi positif lebih tinggi dibanding kelompok kontrol, kelompok guided imagery, dan kelompok yang diminta bernostalgia.
Daftar itu juga menyoroti tren solo traveling, menonton bioskop sendirian, dan self-date di kafe favorit yang membuat waktu sendiri dipandang positif. Ann Richards, mantan Gubernur Texas, mengingatkan bahwa diri sendiri adalah satu-satunya orang yang pasti hidup bersama sepanjang hayat, sedangkan Michelle Obama menyarankan mencari orang-orang yang membuat kita jadi lebih baik. Milind Soman menempatkan kesehatan pikiran dan tubuh sebagai jalan menuju kebebasan, dan Yolanda Adams menyebut kemampuan menikmati hidup semakin besar seiring bertambahnya usia. Untuk bagian ini, redaksi menulis antara lain “Tubuhmu bukan proyek yang harus selesai dulu baru boleh bahagia. Ia rumah. Dan rumah layak ditinggali hari ini, bukan nanti.”
Artikel tersebut mencantumkan sejumlah referensi yang diakses pada 23 Oktober 2026, yakni PositivePsychology.com, PubMed Central, AZQuotes, BrainyQuote, dan NU Online Jatim.
