Hubungan orang tua dan anak tidak selalu mulus. Sejumlah kebiasaan dalam pengasuhan, yang kadang dianggap wajar, bisa membuat anak merasa tidak dihargai, kurang disayangi, atau diperlakukan tidak adil. Artikel KapanLagi.com pada Selasa (27/10) membahas enam kebiasaan orang tua yang berpotensi membuat anak menyimpan rasa benci, terutama jika kekecewaan itu terjadi berulang.
Dalam artikel itu disebutkan bahwa tidak semua anak berani menyampaikan kekecewaannya. Sebagian memilih bungkam karena khawatir dimarahi, merasa suaranya tidak akan ditanggapi, atau takut dianggap terlalu sensitif. Karena itu, orang tua perlu mengenali kebiasaan yang dapat melukai perasaan anak.
Membandingkan anak dan meminta selalu mengalah
Kebiasaan pertama adalah membandingkan anak dengan saudaranya. Orang tua kadang melakukannya agar anak lebih rajin atau berprestasi. Namun, cara ini dapat membuat anak merasa dirinya kurang baik dan harus bersaing untuk mendapat perhatian orang tua. Bila berlangsung terus, anak bisa menyimpan rasa iri, rendah diri, atau kecewa karena merasa tidak pernah cukup baik. Orang tua disarankan menghargai usaha dan perkembangan setiap anak tanpa menjadikan pencapaian saudaranya sebagai tolok ukur.
Kebiasaan berikutnya adalah selalu meminta anak mengalah. Anak yang lebih tua sering diminta memberi jalan kepada adiknya karena dianggap lebih dewasa. Jika tuntutan itu terus ditujukan kepada anak yang sama, ia dapat merasa kebutuhan dan perasaannya tidak sepenting saudaranya. Hal ini berpotensi menimbulkan rasa tidak adil dan kekecewaan yang terpendam. Ketika terjadi perselisihan, orang tua sebaiknya mendengarkan kedua anak lalu mengambil keputusan berdasarkan situasi, bukan semata-mata urutan usia.
Meremehkan perasaan dan mengungkit kesalahan lama
Orang tua juga dapat melukai anak tanpa sengaja ketika meremehkan perasaannya. Ucapan seperti “Begitu saja kok sedih” atau “Kamu terlalu sensitif” mungkin dianggap sepele. Namun, respons semacam itu bisa membuat anak merasa kesedihan dan kekecewaannya tidak layak diperhatikan. Jika anak terus mengalami hal serupa, ia mungkin memilih diam daripada bercerita. Orang tua sebaiknya mendengarkan keluhan anak secara terbuka dan berusaha memahami penyebab emosinya sebelum memberi nasihat.
Kebiasaan lain adalah terus mengungkit kesalahan masa lalu. Kesalahan anak memang perlu dibicarakan agar mereka belajar bertanggung jawab. Akan tetapi, membahasnya berulang kali, terutama saat terjadi pertengkaran baru, dapat membuat anak merasa dirinya selalu dinilai buruk. Anak juga bisa kehilangan kepercayaan bahwa dirinya mampu berubah. Orang tua disarankan membahas perilaku yang perlu diperbaiki dan memberi anak kesempatan belajar dari kesalahannya.
Mengabaikan pendapat dan enggan mengakui kesalahan
Orang tua bertanggung jawab menetapkan aturan, tetapi anak tetap perlu kesempatan menyampaikan pendapat. Jika anak selalu dipotong pembicaraannya atau langsung dianggap bersalah tanpa didengarkan, ia bisa merasa tidak dipercaya dan tidak dihargai. Dalam jangka panjang, anak mungkin enggan bercerita karena menganggap pendapatnya tidak akan mengubah apa pun. Orang tua dapat membangun komunikasi yang lebih sehat dengan mendengarkan penjelasan anak sampai selesai, lalu menyampaikan keputusan beserta alasannya secara jelas.
Kebiasaan terakhir yang disebutkan adalah tidak mau mengakui kesalahan. Orang tua juga bisa keliru, misalnya salah menuduh anak atau mengucapkan kata-kata menyakitkan saat marah. Jika selalu membenarkan diri dan menolak meminta maaf, orang tua dapat membuat anak merasa perasaannya tidak penting. Mengakui kesalahan tidak berarti kehilangan wibawa. Sebaliknya, kesediaan meminta maaf dan memperbaiki perilaku menunjukkan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas tindakannya.
Artikel KapanLagi.com menyebut bahwa kebiasaan yang melukai perasaan anak tidak selalu dilakukan dengan sengaja. Meski begitu, orang tua perlu memahami dampaknya dan bersedia mengubah cara berkomunikasi. Langkah yang dapat dilakukan antara lain membiasakan komunikasi terbuka, mendengarkan tanpa langsung menghakimi, memberikan perlakuan adil, serta bersedia meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Jika anak terlihat menjauh atau enggan bercerita, orang tua dapat mengajaknya berbicara dengan tenang tanpa memaksanya mengungkapkan semua perasaan sekaligus.
