Liburan sering dibayangkan sebagai perjalanan santai dengan pemandangan baru dan waktu bersama orang terdekat. Namun, sejumlah film horor Indonesia mengubah rencana itu menjadi pengalaman menegangkan, mulai dari vila murah yang angker, pulau terpencil, hingga jalur pendakian yang memunculkan teror. KapanLagi.com merangkum tujuh judul yang mengangkat tema tersebut, dengan rating yang dikutip dari imdb.com. Tidak semua berlatar wisata dalam arti sempit karena ada pula cerita tentang kemah sekolah dan perjalanan pulang kampung.
Pulau dan desa yang menyimpan misteri
Pulau Hantu (2024; rating 5,5/10) menceritakan Dara yang merasa hidupnya terlalu dikekang oleh ibunya. Ia ingin menikmati kebebasan bersama teman-teman sebelum memulai kehidupan baru di perantauan. Bersama Noah, Lathi, Niki, dan Pandu, Dara merencanakan liburan dengan kapal untuk merayakan kelulusan sekaligus menghabiskan waktu bersama sahabat. Keputusan pergi tanpa sepengetahuan ibunya menjadi awal rangkaian kejadian tak terduga. Di tengah perjalanan, kapal mereka mengalami insiden dan rombongan terdampar di sebuah pulau misterius. Tempat yang semula hanya singgahan sementara berubah menjadi lokasi kejadian ganjil dan teror yang mengancam keselamatan. Setiap usaha mencari jalan keluar justru membuat situasi makin menegangkan. Film garapan Ferry Pei Irawan ini merupakan remake dari judul sama yang dirilis 2007, dengan Taskya Namya, Bukie B. Mansyur, dan Hannah Hannon sebagai pemeran utama.
Desa Mati: The Movie (rating 5,8/10) mengisahkan lima mahasiswa, Lintang, Arga, Ajeng, Sandra, dan Dimas, yang mengisi liburan dengan mengunjungi Air Terjun Sampang. Lokasi wisata itu tidak jauh dari rumah nenek Lintang, sehingga mereka berharap bisa menikmati suasana alam. Rencana berubah ketika gangguan muncul selama perjalanan dan mereka menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan. Rangkaian kejadian janggal membuat kelimanya terjebak di desa yang tampak tenang dan penduduknya ramah. Kesan bersahabat itu memudar setelah mereka memutuskan menginap karena keanehan muncul satu demi satu. Mereka mulai mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa suasana desa terasa berbeda. Film arahan Sipu Groso ini menumbuhkan teror dari perjalanan wisata sederhana menuju desa terpencil yang menyimpan misteri.
Kemah sekolah dan perjalanan pulang kampung
Kemah Terlarang: Kesurupan Massal (2024; rating 6,0/10) mengikuti Rini dan teman-teman sekolahnya yang mengikuti kemah akhir tahun di Wana Alus. Lokasi itu sudah ditutup dan dianggap terlarang oleh masyarakat setempat. Mereka baru bisa menjalankan kegiatan setelah mendapat izin dengan sejumlah persyaratan, salah satunya tidak mengganggu atau merusak tempat persembahan sesaji di kawasan tersebut. Mas Heru disebut punya alasan sendiri memilih lokasi yang menyimpan pantangan itu. Aturan yang semula dianggap sepele menjadi penting ketika rombongan mengalami gangguan dan suasana kemah berubah mencekam. Rini dan teman-temannya menghadapi teror yang berujung pada kesurupan massal. Film arahan Ginanti Rona ini terinspirasi dari peristiwa kesurupan massal di Yogyakarta pada 2016 dan mengaitkan horornya dengan kepercayaan masyarakat setempat.
Arwah (rating 6,3/10) mengangkat lima bersaudara, Jojo, Momo, Angga, Nindy, dan Sofi, yang berencana pulang kampung untuk menghabiskan liburan bersama keluarga. Perjalanan yang seharusnya menjadi kesempatan berkumpul dan mempererat hubungan berubah menjadi tragedi ketika mereka mengalami kecelakaan mobil yang merenggut nyawa Sofi, si bungsu. Peristiwa itu menjadi titik balik yang mengubah suasana perjalanan dan hubungan di antara anggota keluarga, terutama bagi empat saudara yang harus menerima kehilangan mendadak. Setelah kecelakaan, keempat saudara yang masih hidup diganggu kejadian gaib yang diduga berkaitan dengan kesalahan masa lalu. Teror itu tidak hanya menghadirkan ketakutan, tetapi juga membuka rasa bersalah, konflik batin, dan persoalan keluarga yang belum selesai. Film garapan Ivan Bandhito ini menonjolkan horor psikologis yang dipadukan dengan drama keluarga, dengan perjalanan pulang kampung sebagai awal rangkaian peristiwa. Penonton diajak mengikuti bagaimana mereka menghadapi gangguan supernatural sekaligus berusaha memperbaiki hubungan yang mulai retak.
Vila angker di kawasan Bromo
Kutukan Sembilan Setan (2023; rating 6,8/10) dibintangi Fandy Christian dan menceritakan lima sahabat, Verdy, Devon, Sarah, Miko, dan Lia, yang berlibur ke kawasan Gunung Bromo. Mereka ingin menikmati suasana pegunungan dan melepas penat dari kesibukan sehari-hari. Untuk penginapan, Devon mendapatkan vila bergaya kolonial dengan harga sewa murah dan lokasi yang dianggap strategis, meski bangunannya sudah terasa menyeramkan sejak pertama kali mereka datang. Tanpa mengetahui rahasia di balik bangunan itu, kelimanya memutuskan menginap dan mulai mengalami kejadian aneh sejak hari pertama. Gangguan yang terus muncul menghilangkan suasana liburan mereka, sementara misteri vila menyeret kelima sahabat pada konflik dan pengungkapan rahasia masa lalu. Disutradarai Arie Azis, film ini memadukan suasana liburan di kawasan wisata dengan teror supernatural yang membuat penginapan mereka menjadi tempat penuh ancaman.
Pendakian yang berubah menjadi teror
Petaka Gunung Gede (2025; rating 5,3/10) berawal dari rencana Maya mengajak sahabatnya, Ita, mendaki gunung pada masa liburan sekolah. Bagi Ita, tawaran itu tidak sederhana karena orang tuanya biasa membatasi kegiatan di luar rumah dan ia belum pernah mendaki. Setelah ragu, Ita mendapat izin dari ayahnya untuk ikut bersama Maya dan rombongan. Mereka berangkat dengan harapan bisa menikmati petualangan alam sekaligus menghabiskan waktu bersama. Perjalanan itu berubah ketika Ita mengalami menstruasi di tengah pendakian, hal yang dianggap melanggar pantangan setempat. Sejak itu, rangkaian peristiwa mistis mengusik rombongan dan keselamatan Ita semakin terancam. Film arahan Azhar Kinoi Lubis ini membangun teror dari kepercayaan lokal dan menempatkan persahabatan Maya-Ita di tengah perjalanan yang jauh dari pengalaman liburan mereka.
Petaka Gunung Welirang (2026; rating 7,8/10) mengikuti Satria, Arga, Noval, Naya, dan Tita yang mendaki Gunung Welirang setelah menyelesaikan tugas akhir kuliah. Pendakian itu dimaksudkan sebagai perayaan kelulusan sekaligus pelepasan penat setelah melewati kesibukan masa perkuliahan. Awalnya perjalanan berjalan sesuai rencana dan terasa seperti liburan petualangan biasa. Situasi berubah saat mereka memasuki hutan Alas Lali Jiwo, tempat kejadian aneh membuat rombongan kehilangan rasa aman. Ketika tersesat, ancaman gaib yang dikaitkan dengan sosok Ratu membuat upaya mencapai puncak berubah menjadi perjuangan menyelamatkan diri. Film arahan Indra Gunawan ini menggabungkan kegiatan mendaki, berkemah, dan misteri supernatural. Ratingnya menjadi yang tertinggi di antara tujuh judul, meskipun jumlah pemberi suaranya masih relatif terbatas.
