Sejumlah film India mengangkat persoalan sosial yang dihadapi perempuan, mulai dari pernikahan dini, tekanan keluarga agar segera menikah, hingga terbatasnya ruang untuk menentukan masa depan. Kisah-kisah itu memperlihatkan bagaimana tradisi, norma sosial, dan ketimpangan gender memengaruhi pilihan hidup perempuan. KapanLagi.com menghimpun tujuh judul yang membahas tema tersebut dari berbagai sumber pada Kamis (29/10).
Pernikahan dini dan aturan adat
Saankal (2015) karya Dedipya Joshii menggambarkan desa di Gurun Thar, Rajasthan, yang hidup di bawah aturan adat, tabu, dan kewajiban sosial ketat. Di sana pernikahan antarkasta dapat memicu kekerasan, sementara laki-laki boleh mengambil perempuan dari komunitas lain sebagai istri sehingga banyak perempuan setempat tidak menikah. Para pemimpin desa lalu mewajibkan perempuan dewasa yang belum menikah dinikahkan dengan anak laki-laki seusia anak mereka. Aturan itu dimaksudkan mencegah perempuan menikah dengan orang luar, tetapi menjadikan Kesar yang berusia 11 tahun dan Abeera yang berusia 26 tahun sebagai korban. Kesar kehilangan masa kecilnya, sedangkan Abeera harus menghadapi pernikahan dengan anak laki-laki jauh lebih muda.
Skater Girl (2021) berlatar di desa Rajasthan dan mengikuti Prerna, remaja perempuan yang sehari-hari dibatasi tradisi serta kewajiban keluarga. Ia tidak bersekolah dan membantu keluarganya mencari nafkah. Kedatangan Jessica, perempuan yang tumbuh di London dan berkunjung ke kampung halaman mendiang ayahnya, membawa perubahan. Prerna mengenal skateboard dan menemukan minat baru yang memberinya keberanian membayangkan masa depan berbeda. Namun, ayahnya mengetahui kegemaran itu dan mengatur pernikahannya, bahkan pada hari kompetisi skateboard nasional. Prerna harus memilih antara mengikuti keputusan keluarga atau memperjuangkan kesempatan bertanding. Film ini menyoroti tekanan pernikahan dini serta pentingnya pendidikan, kesempatan, dan kebebasan bagi perempuan untuk menentukan jalan hidupnya.
Konflik pendidikan dan perjodohan
A Match (2023), film berbahasa Marathi, mengikuti Savita, putri seorang petani kapas di pedesaan India. Ia sedang menyelesaikan pendidikan sekaligus bersiap menghadapi ujian Maharashtra Public Service Commission (MPSC), tetapi orang tuanya terus mencarikan calon suami karena menganggapnya sudah memasuki usia menikah. Setelah berulang kali ditolak keluarga calon pasangan, Savita mendapat tawaran perjodohan yang menjanjikan. Masalah muncul ketika keluarga calon suaminya ingin bertemu pada hari yang sama dengan ujian MPSC yang harus diikutinya. Savita pun dihadapkan pada pilihan sulit antara memenuhi tuntutan perjodohan atau mempertahankan kesempatan mengejar pendidikan dan masa depannya.
Perempuan melawan tradisi
Parched (2015) berlatar di desa Rajasthan dan mengikuti kehidupan Rani, Lajjo, Bijli, serta Janaki. Mereka hidup dalam tradisi patriarkal yang membatasi kebebasan perempuan, persoalan ekonomi, dan kekerasan dalam rumah tangga. Rani adalah seorang janda yang berusaha mengatur pernikahan putranya dengan Janaki, gadis muda dari desa tetangga. Lajjo menghadapi kekerasan dari suami yang gemar mabuk dan merasa tertekan karena kesulitan memiliki anak, sedangkan Bijli bekerja sebagai penari erotis dan juga tidak lepas dari tekanan sosial. Ketika persoalan pribadi mereka terungkap, hubungan keempat perempuan itu menjadi bagian penting dalam perjalanan mencari kebebasan. Film ini menyoroti pernikahan yang diatur keluarga, tradisi yang mengekang, dan upaya perempuan keluar dari keadaan yang menyakitkan.
Lipstick Under My Burkha (2016) berlatar di kawasan padat penduduk Bhopal dan mengisahkan empat perempuan yang diam-diam berusaha meraih kebebasan di tengah lingkungan konservatif. Mereka adalah Usha, janda berusia 55 tahun; Rehana, mahasiswi yang bercita-cita menjadi penyanyi; Leela, penata rias yang ingin bepergian bersama kekasihnya; dan Shireen, ibu tiga anak yang berjualan dari rumah ke rumah tanpa sepengetahuan suaminya. Usha berusaha menemukan kembali keinginan pribadinya, Rehana memperjuangkan identitas dan aspirasi, Leela terjebak dalam persoalan hubungan serta rencana pernikahan, sementara Shireen mendambakan kehidupan lebih mandiri di tengah suami yang mengontrolnya. Film ini tidak secara khusus berfokus pada pernikahan dini, tetapi relevan dengan perjuangan perempuan mendapatkan kendali atas tubuh, pekerjaan, hubungan, dan masa depannya.
Dokumenter dan dua pengantin tertukar
A Suitable Girl merupakan dokumenter yang mengikuti kehidupan tiga perempuan muda di India. Mereka berusaha mempertahankan identitas dan mengejar impian pribadi di tengah tekanan keluarga serta masyarakat yang mengharapkan mereka segera menikah. Dokumenter ini memperlihatkan rumitnya hubungan antara pernikahan, keluarga, dan aspirasi perempuan. Melalui pengalaman para tokohnya, penonton diajak memahami bahwa keputusan untuk menikah tidak hanya berkaitan dengan keinginan pribadi, tetapi juga dapat dipengaruhi ekspektasi sosial yang kuat. Film ini menawarkan sudut pandang dokumenter atas pilihan hidup perempuan dan tekanan untuk memenuhi standar sosial.
Laapataa Ladies (2023) karya Kiran Rao mengisahkan dua pengantin perempuan yang tertukar dalam perjalanan kereta setelah menikah. Phool tertinggal di sebuah stasiun yang asing, sedangkan perempuan yang tiba di rumah keluarga suaminya menyembunyikan identitas aslinya sebagai Jaya. Kesalahan identitas tersebut memicu rangkaian kejadian yang mengubah kehidupan kedua perempuan itu. Di tengah pencarian dan berbagai kesalahpahaman, mereka mendapatkan kesempatan untuk mengenali diri sendiri, memperjuangkan kebebasan, dan melihat kembali peran perempuan dalam masyarakat. Film ini relevan dengan tema pernikahan karena memperlihatkan kehidupan perempuan yang baru memasuki rumah tangga di tengah tradisi dan ekspektasi sosial.
