Kisah cinta tidak selalu berakhir dengan dua orang yang tetap bersama. Jarak, perbedaan jalan hidup, tekanan keluarga, hingga peristiwa di masa lalu kerap membuat dua orang yang saling mencintai harus berpisah. Tema inilah yang dikenal sebagai right person, wrong time, dan KapanLagi.com merangkum tujuh film romantis yang mengangkatnya dalam daftar yang terbit Jumat (6/11).
Hambatan yang membuat cinta tak cukup
Menurut rangkuman KapanLagi.com, film bertema right person, wrong time menampilkan dua tokoh yang memiliki perasaan kuat satu sama lain, tetapi terhalang keadaan. Hambatannya bisa berupa jarak, pilihan hidup yang berbeda, keluarga, atau kejadian di masa lalu.
Dari daftar tersebut, Atonement (2007) dan One Day (2011) disebut sebagai dua pilihan kuat bagi penonton yang mencari kisah cinta tak kesampaian dengan akhir menyedihkan. Sementara itu, Past Lives (2023), Us and Them (2018), dan One Day (2011) cocok bagi yang menyukai cerita tentang dua orang yang kembali bertemu setelah bertahun-tahun berpisah. The Classic (2003) mewakili film Korea Selatan soal cinta, pengorbanan, dan perpisahan, sedangkan La La Land (2016) menghadirkan dilema antara mempertahankan hubungan dan mengejar impian.
Atonement: tuduhan yang merenggut masa depan
Film arahan Joe Wright ini mengisahkan Cecilia Tallis dan Robbie Turner yang saling mencintai, tetapi hidup mereka berubah dalam semalam akibat kesalahpahaman fatal. Briony, adik Cecilia yang memiliki imajinasi tinggi, melontarkan tuduhan palsu terhadap Robbie. Akibatnya, Robbie harus menjalani hukuman penjara atas kejahatan yang tidak pernah ia lakukan, sementara Cecilia memutus hubungan dengan keluarganya demi menunggu pria yang dicintainya.
Perang Dunia II dan kebohongan Briony membuat kedua kekasih itu terjebak dalam situasi yang tidak berpihak pada mereka. KapanLagi.com menyebut perpisahan yang menyakitkan, trauma perang, serta kejutan di akhir cerita membuat film ini menguras air mata. Di IMDb, Atonement mendapat nilai 7,8 dari 10.
The Classic: cinta ibu dan anak dalam dua zaman
Film Korea Selatan ini berpusat pada Ji-hye yang menemukan surat dan buku harian ibunya. Dari benda-benda itu, ia mengetahui kisah cinta sang ibu di masa muda, ketika Joo-hee dan Joon-ha saling menyimpan perasaan. Hubungan mereka terganjal persoalan keluarga hingga perjodohan yang membuat mereka tak bisa menjalani cinta sesuai keinginan sendiri.
Alur film bergerak bergantian antara kehidupan Ji-hye dan pengalaman sang ibu. Perpaduan dua generasi inilah yang membuat The Classic terasa menyentuh, karena menunjukkan bagaimana kenangan cinta dapat bertahan bertahun-tahun. Film ini disebut cocok bagi penonton yang menyukai kisah romantis bernuansa pengorbanan dan kerinduan. Rating IMDb-nya 7,7 dari 10.
In the Mood for Love: kedekatan di tengah batasan moral
Karya Wong Kar-wai ini mengikuti Chow Mo-wan dan Su Li-zhen, dua tetangga yang mengetahui bahwa pasangan masing-masing berselingkuh. Persoalan yang sama membuat mereka semakin dekat, dan rasa saling memahami itu perlahan tumbuh menjadi cinta. Mereka mulai menghabiskan waktu bersama dan menemukan kenyamanan satu sama lain.
Namun, hubungan mereka terhalang batas moral dan keadaan sehingga cinta itu sulit dijalani secara terbuka. KapanLagi.com menilai film ini bertumpu pada ekspresi, percakapan, dan suasana untuk menyampaikan perasaan para tokohnya. Ungkapan cinta jarang disampaikan secara langsung, dan justru itulah yang membuat ceritanya terasa kuat. In the Mood for Love memperoleh nilai 8,0 dari 10 di IMDb.
La La Land: ketika impian dan cinta harus dipilih
Film arahan Damien Chazelle ini menceritakan Mia dan Sebastian yang bertemu di Los Angeles saat keduanya sedang mengejar cita-cita. Mia ingin menjadi aktris, sedangkan Sebastian bermimpi memiliki klub jazz sendiri. Pertemuan itu berkembang menjadi hubungan romantis yang penuh dukungan dan harapan.
Keduanya semula saling membantu meraih impian, tetapi ketika kesempatan karier mulai terbuka, kesibukan dan pilihan hidup membawa mereka ke arah yang berbeda. KapanLagi.com menyebut film ini menawarkan akhir yang emosional, dengan adegan penutup berisi bayangan tentang kehidupan yang mungkin terjadi seandainya mereka mengambil keputusan lain. Rating IMDb-nya 8,0 dari 10.
One Day: persahabatan yang tak kunjung menjadi cinta
One Day mengisahkan Emma Morley dan Dexter Mayhew yang bertemu pada malam kelulusan mereka. Sejak itu, keduanya menjalin persahabatan selama bertahun-tahun, meski berkali-kali keadaan membuat hubungan mereka sulit berkembang menjadi kisah cinta.
Film ini mengikuti kehidupan Emma dan Dexter pada tanggal yang sama setiap tahun, sehingga penonton melihat perubahan pekerjaan, hubungan asmara, dan persoalan pribadi mereka seiring usia. Menurut KapanLagi.com, kisahnya terasa emosional karena perasaan yang tumbuh tidak selalu diikuti keberanian untuk mengungkapkannya, ditambah kesempatan yang terlewat dan keputusan yang terlambat disadari. Kejutan menjelang akhir cerita membuat perjalanan cinta kedua tokoh semakin menyedihkan. Di IMDb, film ini dinilai 7,0 dari 10.
Past Lives: cinta yang tidak pernah selesai
Film karya Celine Song ini mengikuti Nora dan Hae Sung, dua teman masa kecil yang berpisah ketika keluarga Nora pindah dari Korea Selatan ke Kanada. Setelah bertahun-tahun tanpa kabar, keduanya kembali terhubung melalui internet, tetapi kehidupan telah membawa mereka ke jalan yang berbeda. Nora pindah ke New York dan menikah dengan Arthur, sementara Hae Sung masih menyimpan kenangan tentang masa kecil mereka.
Pertemuan kembali keduanya di New York memunculkan perasaan yang sulit dijelaskan. Keduanya menyadari bahwa hubungan masa lalu masih memiliki tempat dalam kehidupan masing-masing. KapanLagi.com menilai film ini menyentuh karena memperlihatkan bagaimana seseorang bisa tetap berarti meski tidak menjadi pasangan hidup. Past Lives mendapat rating 7,8 dari 10 di IMDb.
Us and Them: cinta yang berbenturan dengan kenyataan
Film romantis asal China ini mengisahkan Lin Jianqing dan Fang Xiaoxiao yang bertemu dalam perjalanan pulang merayakan Tahun Baru Imlek. Pertemuan itu berkembang menjadi hubungan yang membuat mereka semakin mengenal satu sama lain.
Seiring waktu, keduanya berusaha membangun kehidupan bersama, tetapi persoalan ekonomi, pekerjaan, dan perbedaan harapan membuat hubungan mereka kian sulit dipertahankan. Mereka harus menerima kenyataan bahwa perasaan yang sama tidak selalu membuat jalan hidup berjalan searah. Sepuluh tahun kemudian, Lin Jianqing dan Fang Xiaoxiao bertemu lagi dan mengenang masa lalu yang pernah mereka jalani.
Menurut KapanLagi.com, Us and Them terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari karena mengangkat persoalan cinta, perjuangan ekonomi, serta keputusan yang baru disesali setelah semuanya berlalu. Film ini memperoleh nilai 7,4 dari 10 di IMDb.
