Di tengah lingkungan sosial yang kerap menilai kemapanan dari gaya hidup, prestasi, atau kepemilikan materi, sebagian orang memilih menjalani keseharian sesuai prinsip sendiri. Kepribadian orang yang tidak merasa perlu mengikuti tren agar dianggap sukses menunjukkan bahwa standar keberhasilan orang lain tidak harus dijadikan patokan.
Bagi kelompok ini, sikap tersebut bukan tanda tidak peduli pada perkembangan zaman, melainkan hasil pemahaman atas prioritas hidup. Mereka memegang keyakinan pribadi dan tidak menjadikan pengakuan masyarakat sebagai satu-satunya ukuran pencapaian.
Dorongan Internal dan Proses yang Tidak Selalu Terlihat
Dalam psikologi, fenomena ini berkaitan dengan self-determination theory atau teori determinasi diri yang dirumuskan Edward Deci dan Richard Ryan. Teori itu menekankan pentingnya dorongan internal, termasuk kebutuhan manusia untuk memegang kendali atas keputusan dan tujuan hidupnya. Ciri lain kelompok ini adalah lebih mementingkan proses dan usaha ketimbang pencapaian yang mudah dilihat orang lain. Mereka memahami bahwa kesuksesan memerlukan waktu, ketekunan, dan konsistensi yang tidak selalu tampak di media sosial.
Sebagai gambaran, seseorang bisa sedang merintis usaha kecil, meningkatkan kemampuan diri, atau menata keuangan secara bertahap. Hasilnya mungkin belum terlihat besar bagi orang lain, tetapi setiap kemajuan tetap dianggap bagian penting dari perjalanan hidup. Sikap ini terkait motivasi otonom, yakni dorongan melakukan sesuatu karena tujuan dan alasannya bermakna secara pribadi. Dalam teori yang dikembangkan Ryan dan Deci, motivasi yang bersumber dari pilihan serta nilai pribadi membantu seseorang tetap konsisten menjalani aktivitas.
Mengenal Diri dan Standar Keberhasilan Sendiri
Tidak mengikuti tren bukan berarti kehilangan ambisi. Mereka mungkin memiliki tujuan hidup berbeda dan lebih memusatkan perhatian pada hal yang benar-benar penting bagi dirinya. Ketimbang mengejar pengakuan, mereka cenderung mengembangkan kemampuan dan mencapai target pribadi.
Kesuksesan tidak selalu harus mengikuti standar masyarakat seperti jabatan tinggi, rumah mewah, atau penghasilan besar. Setiap orang memiliki prioritas dan tujuan berbeda. Seseorang tetap bisa dianggap sukses ketika mencapai target pribadi, memiliki kehidupan seimbang, serta merasa puas dengan proses yang dijalani. Selama tidak merugikan orang lain dan bertanggung jawab atas pilihannya, kesuksesan dapat bermakna berbeda bagi tiap individu.
Orang yang tidak terlalu bergantung pada penilaian orang lain biasanya lebih memahami kebutuhan, keinginan, dan nilai pribadinya. Mereka mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan sendiri, bukan sekadar mengikuti ekspektasi lingkungan. Mereka tetap bisa menerima masukan, tetapi tidak merasa harus mendapat persetujuan semua orang untuk menjalani pilihan hidup.
Motivasi Otonom dan Motivasi yang Dikendalikan
Dalam psikologi, perilaku yang terlalu bergantung pada pengakuan eksternal dapat berkaitan dengan motivasi yang dikendalikan tekanan dari luar. Richard Ryan dan Edward Deci menjelaskan perbedaan antara motivasi otonom dan motivasi terkendali dalam wawancara dengan APA. Edward Deci menjelaskan bahwa perbedaan penting dalam motivasi terletak pada apakah seseorang bertindak atas kemauan sendiri atau karena dorongan dan tekanan dari luar.
Ketimbang sibuk mengikuti hal yang sedang ramai dibicarakan, orang dengan karakteristik ini lebih memilih mengalokasikan waktu dan energi untuk tujuan pribadi daripada memenuhi ekspektasi sosial. Tujuan itu tidak selalu berupa pencapaian besar. Bagi sebagian orang, sukses bisa berarti pekerjaan yang nyaman, keluarga harmonis, kondisi finansial stabil, atau waktu luang untuk menjalani hobi.
Kecenderungan ini sejalan dengan motivasi intrinsik, yaitu dorongan melakukan sesuatu karena aktivitas itu memberi kepuasan atau makna pribadi. Orang dengan motivasi intrinsik lebih mempertimbangkan nilai dan manfaat suatu aktivitas ketimbang penghargaan yang mungkin diperoleh.
Melihat pencapaian orang lain, terutama lewat media sosial, kadang membuat seseorang merasa harus memiliki kehidupan yang sama. Pekerjaan bergengsi, rumah mewah, atau liburan ke luar negeri sering menjadi gambaran sukses di ruang digital. Namun, orang yang tidak merasa perlu mengikuti tren lebih memilih membedakan kehidupan orang lain dari kebutuhan pribadinya.
Penelitian yang diterbitkan jurnal Telematics and Informatics Reports pada 2024 menunjukkan hubungan antara orientasi materialistis, kecenderungan membandingkan diri, penggunaan media sosial, gejala stres, dan tingkat kepuasan hidup yang lebih rendah. Penelitian itu memperlihatkan bahwa kebiasaan membandingkan kepemilikan dan gaya hidup dengan orang lain dapat berkaitan dengan kesejahteraan psikologis.
Karena itu, mereka yang tidak terlalu mengejar tren mengevaluasi kemajuan berdasarkan kondisi diri sendiri. Ukuran keberhasilan pribadi antara lain kemampuan mencapai target yang sudah direncanakan, perkembangan keterampilan dan pengetahuan, kondisi finansial yang sesuai kebutuhan, hubungan sosial yang sehat dan suportif, serta keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Prinsip Hidup, Otonomi, dan Sikap pada Tren
Salah satu ciri orang yang tidak merasa perlu mengikuti tren agar dianggap sukses adalah prinsip hidup yang kuat. Mereka memahami setiap orang memiliki tujuan, kebutuhan, dan kondisi berbeda sehingga tidak semua standar kesuksesan orang lain harus dijadikan pedoman.
Mereka biasanya mempertimbangkan manfaat tren sebelum memutuskan mengikutinya. Jika sesuatu tidak sesuai dengan kebutuhan atau nilai pribadi, mereka tidak memaksakan diri hanya agar terlihat selalu mengikuti perkembangan. Sikap ini berkaitan dengan konsep otonomi dalam self-determination theory. Menurut Richard Ryan dan Edward Deci, kebutuhan psikologis dasar manusia mencakup otonomi, kompetensi, dan keterhubungan sosial. Kompetensi dan otonomi, misalnya, berperan dalam perkembangan individu: perasaan mampu dan kebebasan menentukan keputusan sendiri dapat meningkatkan motivasi serta mendukung kesejahteraan psikologis.
Orang yang tidak mudah terbawa tren memahami bahwa nilai diri tidak bergantung pada penampilan maupun barang yang dimiliki. Mereka tidak merasa harus mengenakan pakaian keluaran terbaru, memakai aksesori mahal, atau menjalani gaya hidup tertentu agar bisa percaya diri. Pandangan itu membuat mereka lebih leluasa menentukan pilihan hidup dan tidak perlu mengubah penampilan atau perilaku demi memperoleh pengakuan orang lain.
Terbuka pada Perubahan dan Bijak Mengatur Keuangan
Tidak mengikuti tren bukan berarti menutup diri dari perubahan. Mereka tetap terbuka untuk mencoba gaya, teknologi, atau kebiasaan baru selama hal itu sesuai dengan kebutuhan, minat, dan preferensi pribadi. Tidak semua tren harus diikuti, terutama jika hanya didorong keinginan untuk terlihat sukses. Orang yang mempertimbangkan masak-masak dapat membedakan hal yang benar-benar dibutuhkan dari yang hanya menarik karena sedang populer.
Sebagai contoh, mereka tidak merasa perlu membeli ponsel baru hanya karena ada keluaran terbaru di pasaran. Selama ponsel yang digunakan masih berfungsi optimal dan menunjang aktivitas sehari-hari, tidak ada alasan mengeluarkan uang demi mengikuti tren. Dana yang bisa dipakai untuk keinginan sesaat dapat dialihkan ke hal yang lebih bermanfaat, seperti menabung, berinvestasi, membiayai pendidikan, atau memenuhi kebutuhan utama.
Hasil meta-analisis dalam Journal of Personality and Social Psychology pada 2014 menunjukkan bahwa orientasi materialistis berkaitan dengan tingkat kesejahteraan pribadi yang lebih rendah. Menjadikan harta benda sebagai tolok ukur utama kehidupan tidak selalu membuat seseorang merasa lebih puas.
Dengan mengenali perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, seseorang dapat mengambil keputusan sesuai prioritas hidupnya. Mereka tetap bisa menikmati perkembangan tren, tetapi tidak merasa harus selalu mengikutinya hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya telah berhasil.
